Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Semua

Kasih Sayangmu Bagai Sampah
Di kehidupan sebelumnya, Devan sudah hidup di panti asuhan sejak dia bisa mengingatnya. Ketika berusia lima tahun, dia diadopsi oleh orang tua angkat, membuatnya merasakan kehangatan sebuah keluarga. Namun, ketika berusia 15 tahun, barulah orang tua kandungnya menemukannya, membawanya kembali ke Keluarga Atmaja. Devan yang sangat merindukan kasih sayang keluarga, berusaha menahan diri di Keluarga Atmaja, berusaha menyenangkan mereka semua. Namun, orang tua dan ketiga kakak perempuannya selalu mengabaikannya, si putra kandung ini. Sementara itu, mereka memanjakan putra palsu di atas segalanya. Hingga suatu hari, si putra palsu itu merencanakan sebuah kecelakaan mobil. Devan jatuh dan tewas di tempat. Ketika rohnya melayang di udara, dia melihat orang tua dan kakak-kakaknya hanya peduli merawat si putra palsu yang hanya lecet sedikit sambil menangis. Sementara tubuhnya sendiri yang tergeletak berlumuran darah, tidak mereka hiraukan sama sekali. Saat itu, Devan benar-benar menyadari segalanya. Dandelion memang sudah seharusnya terbang tertiup angin, tak sepatutnya berharap kembali ke tempat asalnya. Kemudian, Devan terlahir kembali. Di kehidupan ini, dia memutuskan untuk hidup demi dirinya sendiri, demi mereka yang benar-benar mencintainya. Namun, ketika dia benar-benar melepaskan hubungan keluarganya, memutuskan semua ikatan dengan Keluarga Atmaja, satu per satu dari ketiga kakak perempuannya dan orang tuanya mulai merasa menyesal. Mereka mulai merindukan kebaikan Devan, ingin memperbaiki hubungan dengannya. Hanya saja, kasih sayang yang terlambat itu sama sekali tidak berarti!
Terjerat di Balik Topeng Dingin
Vanya Angkara dikenal sebagai sosok yang memesona. Senyum di bibir merahnya begitu menawan, dan tatapan matanya penuh daya pikat. Sementara Kresna Tiranta adalah pewaris elite keluarga terpandang. Sosoknya dingin, berjarak, disiplin, bagaikan bunga di puncak gunung yang tak tersentuh. Tak ada yang menyangka, dua sosok yang begitu berlawanan ini justru larut dalam gairah tersembunyi. Mereka bergumul liar di kursi belakang Maybach saat malam sunyi, kehilangan kendali di kamar mandi acara amal, hingga di depan jendela tinggi sebuah kebun anggur pribadi, sampai kaki mereka lemas. Setelah melalui satu malam penuh gairah, terdengar suara gemercik air dari kamar mandi. Vanya bersandar di ranjang, lalu menghubungi ayahnya, Dirga Angkara. "Aku bersedia menikah dengan pewaris dari Kota Altara yang katanya sekarat itu untuk penolak bala. Tapi aku punya satu permintaan." Terdengar nada bahagia di seberang telepon yang tak bisa disembunyikan. [Katakan saja! Selama kamu mau menikah, Ayah akan menyetujui apa pun.] Kemudian, Vanya menjawab, "Kita bicarakan saat aku pulang." Suaranya terdengar lembut, namun matanya dingin dan kosong. Dia mengakhiri panggilan. Saat hendak bangkit untuk berpakaian, pandangannya tanpa sengaja tertuju pada laptop milik Kresna di samping. Layar WhatsApp masih menyala, dan ada pesan terbaru berasal dari seorang gadis dengan nama kontak "Calia". [Kresna, ada petir ... aku takut.] Ujung jari Vanya bergetar pelan. Pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka, dan Kresna melangkah keluar. Butiran air meluncur di sepanjang tulang selangkanya, dan dua kancing kemejanya terbuka santai. Ketenangan dingin yang biasanya dia miliki kini diselipi kesan malas yang berbahaya. "Ada urusan kantor. Aku pergi dulu," katanya sambil mengambil jas, suaranya tetap datar dan dingin. Bibir Vanya terangkat tipis, senyumnya samar namun tajam. "Urusan kantor, atau mau menemui cinta pertamamu?"
Halaman sebelumnya
1
2345Halaman selanjutnya

© Webfic, hak cipta dilindungi Undang-undang

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.