Semua



Pria yang ditakuti seisi Janaira ternyata dijebak oleh neneknya sendiri dan dipaksa menikahi wanita yang sangat dibencinya!Sambil melemparkan surat perceraiannya, Zane Lucian berkata dengan nada dingin, "Cepat tanda tangani berkas ini!"Namun, Siena Kavi justru mengeluarkan surat perjanjian lain yang menyatakan bahwa dia baru bisa bercerai dari Zane setelah melahirkan anaknya!Zane marah besar dan berseru dengan tegas, "Kamu mau punya anak denganku? Mimpi!"Namun, Siena membalas dengan gumaman pelan, "Aku juga nggak mau punya anak denganmu!"Suatu hari, Siena menatap wajah dingin Zane dan bertanya, "Kamu yakin mau bercerai?"Zane pun mendengkus dan berkata dengan nada mencibir, "Apa aku terlihat mau mempertahankan pernikahan ini?"Dari raut wajahnya saja terlihat jelas bahwa dia menginginkan perceraian tersebut.Siena mengelus perutnya, lalu mengangguk seraya berkata, "Oke, ayo kita cerai!"Namun, Zane tampak gelisah dan berkata dengan tegas, "Tapi, aku nggak mau punya anak denganmu!"Siena pun hanya bisa tersenyum misterius mendengarnya.Sampai pada akhirnya, perceraian mereka berhasil dilakukan dan Siena pun pergi meninggalkan pria tersebut.Namun, Zane berhasil menemukannya, lalu memojokkannya di dinding sambil bertanya dengan penuh amarah, "Di mana anakku?"Siena tersenyum sinis, lalu menjawab dengan tenang, "Jangan mimpi! Aku nggak akan pernah mau melahirkan anakmu!" 


Di hari Nia Rudianto mengetahui bahwa dirinya tengah mengandung, dia nekat pergi ke klub yang sering Toni Gunardi datangi. Padahal saat itu hujan sedang mengguyur dengan deras.Dia berdiri di depan sebuah ruangan VIP sambil berusaha mengeringkan rambutnya yang basah. Dia hendak memberikan kejutan untuk Toni.Dari celah pintu yang sedikit terbuka, dia dapat mendengar suara seorang pria berbicara."Toni, pernikahanmu dengan Nia tinggal seminggu lagi. Apa semua kejutan yang kamu siapkan di hari pernikahan sudah siap?""Tentu saja sudah." Toni menjawab dengan nada bicara yang terdengar sedikit mabuk. Dia lalu melanjutkan, "Aku akan memberikan kejutan yang nggak akan pernah bisa dia lupakan seumur hidupnya."Gerakan tangan Nia yang sedang mengeringkan rambut pun terhenti. Dia tidak kuasa menahan diri untuk tersenyum lebar usai mendengar ucapan barusan.Selama tiga tahun berpacaran, Toni benar-benar sangat menyayanginya dengan sepenuh hati."Haha, Kak, kalau Nia tahu aku sudah menyamar jadi kamu dan mempermainkannya selama ini, dia pasti akan sangat syok, 'kan?""Haha, dia pasti nggak pernah menyangka kalau Toni ternyata punya adik kembar identik!""Kalau dia tahu selama tiga tahun ini yang bersamanya ternyata adik pacarnya sendiri ... " 

Kehidupan sebelumnya, Teresa yang bodoh ingin pergi meninggalkan bos yang sangat sayang dan mencintainya, alhasil dia dicelakai oleh pria dan wanita berengsek sampai mati.Setelah terlahir kembali, Teresa tidak lagi bodoh, dia di siang hari mengungkapkan kejahatan orang yang mencelakainya, bahkan menjauh dari pria berengsek itu!Lalu malamnya dia memeluk erat kaki suaminya sambil berkata manja, "Sayang, aku sudah salah, kelak aku akan mendengar katamu, hanya menyayangimu saja ...."Bos hebat di Kota Titus yang bernama Arvin disebut orang sebagai bos dingin, bahkan kejam. Tapi dia hanya bersikap penurut di depan istrinya, bahkan sangat memanjakan istrinya! 

Gara-gara sebuah insiden, Isabel Huran malah menjalin hubungan dengan pria paling bermartabat di Kota Hegel. Dia bahkan sampai melahirkan anak pria itu sebelum akhirnya dipaksa pergi. Tiga tahun kemudian, Isabel secara kebetulan bertemu pria itu lagi. Isabel pun berusaha untuk menghindar sejauh mungkin dari pria itu! Siapa sangka pria itu malah mengadang di depan pintu sambil menggendong seorang anak yang menggemaskan. "Hei, kamu sudah melahirkan anak ini, tapi masih mau kabur?" Isabel hanya bisa terdiam. Pria itu adalah penguasa Kota Hegel, Pak Cedric Jeron yang dihormati semua orang. Isabel pikir mereka tidak mungkin bersama, tetapi pria itu malah menjadikan Isabel sebagai kekasihnya, memanjakannya, mencintainya dan melindunginya! Cedric bahkan berkata dengan penuh cinta, "Isabel, ayo kita buat anak kedua." (Kamulah yang Kuimpikan Setiap Malam) 


Saat berusia 20 tahun, Elena menikah dengan Steven yang menderita autisme. Selama lima tahun pernikahan mereka, Steven seperti patung es yang tidak pernah bisa hangat. Pria itu menetapkan tiga aturan tanpa syarat untuknya, yaitu tidak boleh berbicara, tidak boleh menyentuh, apalagi berhubungan badan. Ketika gempa bumi melanda, Elena tanpa sadar melindungi Steven dengan tubuhnya. Namun, Elena hanya bisa menyaksikan sang suami melindungi gadis lain dengan hati-hati, lalu melarikan diri dari reruntuhan tanpa menoleh sedikit pun padanya. Elena terbangun di rumah sakit dengan tubuh penuh luka. Hal pertama yang dilakukannya adalah mencari Steven dengan terhuyung. Namun, tepat pada saat itu, Elena mendengar gadis itu membujuk dengan suara lembut, "Steven, aku hanya tergores sedikit saja, benar-benar nggak apa-apa. Istrimu sepertinya terluka parah ... apakah kamu nggak mau menjenguknya?" Setelah keheningan singkat, suara Steven yang dingin menusuk terdengar menembus pintu dengan jelas, "Aku nggak menyukainya. Hidup matinya juga nggak ada hubungannya denganku." Pada saat itu, hati Elena benar-benar mati rasa. Jadi, ketika Kakek Derin terburu-buru datang ke rumah sakit, Elena hanya menatapnya sambil mengajukan satu permintaan, "Kakek, tolong izinkan aku bercerai dengan Steven!" 
Tahun ketiga pernikahan mereka adalah tahun paling intens dalam pertengkaran mereka.
Pada hari ulang tahun pernikahan mereka, Selina Darma menunjukkan bukti sperma di dalam dirinya dan melaporkan William Tanjaya ke polisi.
"Halo, aku melaporkan William atas pemerkosaan!"
Di kantor polisi, William, berpakaian rapi dengan setelan jas, ujung jarinya berlumuran darah, memancarkan aura kendali penuh bahkan di balik jeruji besi.
Para petugas polisi mendekat, melirik malu-malu ke pengacara yang berdiri di sampingnya.
"Pak William, bagaimana kamu menyelesaikan masalah ini?"
Hati Selina menjadi takut. Mereka bertanya kepada William bagaimana menyelesaikan masalah ini, bukan bagaimana menghadapi William.
William mengangkat alisnya, senyumnya menawan dan berdiri untuk memegang dagu Selina.
"Lina, kamu benar-benar sudah melakukan segala cara untuk menjebakku."
"Tapi Lina, bagaimana kamu bisa berbohong terang-terangan? Saat kamu memberikan segalanya di ranjang, kamu nggak sekejam ini." 


Nara Lintang tak pernah menyangka bahwa hubungan jarak jauh lintas negara yang akan segera berakhir justru menutup kisahnya dengan akhir yang begitu pahit dan memalukan.
Bagaimanapun juga, cinta Reza Perdana kepadanya adalah sesuatu yang tak tertandingi.
Dia adalah direktur rumah sakit yang sibuk. Namun demi Nara, dia menempuh hampir sembilan ratus penerbangan ke luar negeri, bolak-balik dengan total waktu terbang mendekati sepuluh ribu jam.
Meski setiap pertemuan selalu singkat dan terburu-buru, Reza tetap memeluknya erat dan berkata dengan suara rendah bahwa semua itu dia jalani dengan sepenuh kerelaan.
Hadiah yang Reza kirimkan kepadanya pun tak terhitung jumlahnya.
Dari yang kecil seperti surat cinta tulisan tangan sepanjang ribuan kata, hingga yang besar seperti kalung bernilai miliaran yang dia menangkan di balai lelang.
Selama dia merasa sesuatu itu bisa membuat Nara tersenyum, dia akan mempertaruhkan segalanya untuk meraihnya sekalipun itu adalah bintang di langit.
Cinta yang terukir hingga ke sumsum tulang itu tak pernah berubah sedikit pun selama tiga tahun penuh.
Namun, ketika Nara pulang ke tanah air dengan penerbangan semalaman, lalu mendengar teman-teman masa kecil mereka memuji betapa setianya cinta Reza kepadanya, Reza justru membantahnya dengan suara serak ...
Nara harus mengakui bahwa saat itu, hatinya seolah dicabik ribuan pisau, dan rasa sakitnya tak ubahnya hukuman yang dijalani perlahan, irisan demi irisan. 
Sejak bayi, Jenny Linarto telah ditukar oleh musuh keluarganya. Setelah kembali ke keluarga kandungnya, dia justru menjadi sasaran kebencian keluarganya sendiri.Kakak ketujuhnya berbakat dan juara kelas, tetapi dia merundung Jenny demi melindungi si Putri Palsu, Syane Linarto.Kakak keenamnya adalah pelukis berbakat, yang selalu menyanjung Syane, tetapi merendahkan Jenny.Kakak kelimanya adalah aktor papan atas, yang membela Syane di hadapan publik, tetapi merusak reputasi Jenny.Kakak keempatnya adalah perwira tinggi militer, tapi malah melakukan sesuatu yang melanggar hukum untuk menyerang Jenny demi membela Syane.Kakak ketiganya adalah petinggi di dunia medis, dia mengambil ginjal Jenny demi menyelamatkan Syane.Kakak keduanya adalah ilmuwan terkemuka, yang menyalahkan Jenny atas kesalahan yang dilakukan Syane.Kakak sulungnya adalah taipan di dunia keuangan, yang memasukkan Jenny ke rumah sakit jiwa karena menganggap Jenny sudah gila.Orang tuanya cuek. Mereka juga menganggap Jenny sudah gila dan meninggalkannya. Pada akhirnya, Jenny mati disetrum oleh seorang dokter gila.Setelah terlahir kembali, Jenny mau mengubah nasibnya.Jenny menjadi orang sukses di dunia medis, dunia penelitian, dan dunia bisnis.Semua orang yang pernah menyakitinya sekarang datang untuk meminta maaf.Jenny berkata, "Aku nggak akan memaafkan kalian!" 
Selama lima tahun pernikahan bisnis, Gwen Winata dan Juan Mahendra masih belum akrab. Bahkan, saat berhubungan intim, mereka berdua melakukannya dengan malu-malu.Juan mencium tulang selangkanya seperti biasa, lalu berkata, "Aku mulai, ya." Kemudian, Juan perlahan melepas pakaian Gwen satu per satu sambil bertanya dengan suara pelan, "Bolehkah?" Akhirnya, Juan memasuki tubuhnya, kemudian berkata dengan suara serak, "Kalau nggak nyaman, bilang saja, aku akan langsung berhenti." 

“Pa, Ma, aku setuju untuk kuliah ke luar negeri.” Saat mendengar putrinya akhirnya setuju, suara orang tuanya yang jauh di seberang lautan penuh dengan rasa syukur. “Selina anakku, akhirnya kamu setuju juga! Baiklah Nak. Kalau begitu Papa Mama akan segera mengatur semuanya! Jangan sedih begitu, dong! Sebulan lagi juga bertemu.” Namun, berbeda dengan suasana ceria orang tuanya, nada suara Selina terdengar berat. “Iya, Bu.” Setelah berbasa-basi sejenak, telepon pun terputus.Di luar jendela, gelap malam telah meneyelimuti bumi. Selina tidak menyalakan lampu, matanya yang kosong sedikit memerah. Usut demi usut, hari yang dinanti pun tiba, Selina akhirnya memulai perjalanan kuliah di luar negeri, akan tetapi rasa gundah tetap memenuhi hatinya. Mulai hari ini, Selina harus menghadapi kehidupan baru di negeri orang, ketidakpastian masa depan, dan jarak yang semakin melebar antara dirinya dan orang tua. Dalam hati, Selina mulai mempertanyakan: Apakah aku benar-benar siap menghadapi tantangan dan kehidupan baru di negeri antah berantah? 
Saat itu, Olivia Wirya dan Leo Hadi menikah kilat. Tidak ada pernikahan megah, tidak ada bulan madu.Tiga tahun hidup bersama, semuanya berlangsung tenang dan harmonis, seperti permukaan danau tanpa riak. Hingga suatu malam, dalam keadaan mabuk, Leo menyebut nama wanita lain. Barulah Olivia sadar, ternyata hati suaminya sudah dimiliki orang lain.Tidak lama setelah itu, Leolah yang lebih dulu mengusulkan perceraian.Olivia tidak marah, tidak memohon. Malah sebaliknya, dia menyetujui dengan cepat. "Aku nggak akan mengganggumu. Aku tulus berharap kamu menemukan cinta sejatimu," katanya dengan senyum tipis.Setelah itu, dia melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Hidupnya terus berjalan. Dia menemukan cinta baru dan tidak lama kemudian, mulai membicarakan pernikahan. Semuanya berjalan mulus, seperti jalan bebas hambatan. Namun, malam sebelum pertunangan, sesuatu terjadi. Olivia mabuk. Langkahnya gontai, hingga tubuhnya tak sengaja menabrak seorang pria tinggi yang berdiri di dekatnya. Sebelum dia jatuh, tangan kokoh pria itu menangkap pinggangnya, menahannya dengan erat. "Sudah puas bermain-main?" ujar pria itu.Olivia melepaskan diri dengan tenang, matanya menatap pria itu seperti melihat orang asing. "Tolong jaga sikapmu," katanya, suaranya dingin. "Aku akan segera menikah. Kalau tunanganku tahu ... ""Biar saja dia tahu," pria itu memotong, suaranya lebih rendah, seperti ancaman samar. Dia mendekat, tatapannya penuh keyakinan yang tak tergoyahkan. "Biar dia tahu kamu adalah milikku." 

Setelah mengalami keguguran, Camelia Darian berubah menjadi sosok istri yang selama ini diidamkan oleh James Safran. Dia tidak lagi menceritakan momen kesehariannya, tidak lagi menelepon sepanjang malam saat suaminya tidak kunjung pulang. Bahkan ketika dijebak hingga harus berurusan dengan polisi, dia hanya menjawab dengan tenang bahwa dia tidak memiliki keluarga saat pihak kepolisian memintanya memanggil keluarganya sebagai penjamin agar bisa bebas. Kemudian, dia menjalani masa penahanan selama satu minggu tanpa bantahan. Tujuh hari kemudian, di suatu senja, gerbang besi kantor polisi berdenting terbuka. Baru saja Camelia menuruni anak tangga, sebuah mobil Maybach hitam mendadak berhenti tepat di hadapannya. Pintu terbuka, lalu James turun dengan setelan jas khususnya yang sempurna. Pria itu tampak jangkung dan tegap, tetap memancarkan aura dingin yang mulia, serta pesona yang tenang. Dia tampak seperti rembulan yang agung, tetapi tidak tersentuh. 

Hansen Dhuarta, pewaris paling berpengaruh di lingkaran elite Kota Jingga, akhirnya sembuh setelah tiga tahun terbaring lumpuh. Untuk merayakannya, para sahabatnya sengaja mengadakan pesta di klub pribadi.Marsha Widodo berdiri di pintu klub, memegang hadiah yang telah dia persiapkan dengan baik. Saat hendak mendorong pintu, dia mendengar suara percakapan Hansen dan teman-temannya dari dalam."Hansen, Marsha itu benar-benar tulus padamu. Kalau bukan karena dia selama tiga tahun ini, mana mungkin kondisimu bisa pulih sebaik ini?" "Betul. Gadis itu setiap hari memijatmu, menemanimu rehabilitasi, bahkan tidur pun nggak berani terlalu lelap, takut kalau kondisi mentalmu tiba-tiba memburuk di tengah malam. Utang budi sebesar ini, harus kamu ingat seumur hidup." "Dia memang orang yang sangat baik." Suara Hansen terdengar rendah dan hangat.Ujung jari Marsha sedikit bergetar, sekilas kehangatan muncul di hatinya.Detik berikutnya, dia mendengar seseorang lainnya bertanya, "Lalu kapan rencananya kamu mau menikahi dia?" 





Pada Hari Valentine, aku memasak banyak makanan kesukaan Raka.
Tapi dia lagi-lagi tidak menepati janji.
Aku terdiam sebentar, lalu membuka unggahan si "cinta pertama"-nya di sosial media.
"Terima kasih, ya. Aku cuma bilang lampu di rumah mati, tapi kamu langsung ninggalin pacarmu dan datang ke sini."
"Kamu benar-benar luar biasa. Kamu selalu mengutamakan teman daripada pacar. Tetaplah seperti ini."
Fotonya memperlihatkan Raka berdiri di atas bangku, menengadah sambil mengganti bohlam lampu.
Wanita itu memegang kedua kaki Raka, dan tanpa sengaja wajahnya menyentuh bagian sensitifnya.
Raka tidak mengelak, bahkan masih tersenyum tipis.
Pemandangan itu sangat menusuk mata, tapi aku tidak lagi mempermasalahkannya.
Aku hanya menekan tombol suka dengan tenang, lalu mengajak putus.
Namun Raka sama sekali tidak percaya.
"Dia cuma lagi manja. Diamkan saja beberapa hari. Nanti kalau aku bujuk sedikit, dia pasti balik lagi."
Selama ini aku memang mudah sekali luluh karena aku mencintainya.
Tapi mulai sekarang, dia tidak akan bisa membujukku lagi. 



Tiga tahun lalu, sambil menggenggam surat diagnosis kanker lambung, aku tersenyum menenangkan Alvin yang matanya merah berkaca-kaca.
"Cuma kanker kecil, gampang dibereskan kok," ucapku.
Tangis Alvin malah makin menjadi-jadi, dia juga memelukku begitu erat hingga tulangku terasa sakit.
"Nabila, berjanjilah padaku, kamu harus baik-baik saja."
"Aku akan menunggumu kembali dengan sehat untuk menikah denganku!"
Demi bisa bertahan hidup, hampir seluruh lambungku harus diangkat.
Hari-hariku selanjutnya hanya ditemani segenggam obat dan rangkaian kemoterapi tanpa henti.
Tiga tahun kemudian, akhirnya aku sembuh, dan kembali lagi ke sisi Alvin.
Di pesta penyambutan, sahabat wanita Alvin tersenyum sambil mengangkat gelas dan berkata.
"Selama kamu di luar negeri, Alvin selalu jaga kesetiaannya untukmu."
"Setiap malam aku jaga di ranjangnya untukmu. Sudah kupastikan, nggak ada orang lain di balik selimutnya."
"Bahkan di dua buah 'leci kecil' itu sudah aku tato sendiri dengan tulisan 'Jangan Mendekat!"
Keramaian di meja makan mendadak sunyi hingga jarum jatuh pun terdengar.
Aku memaksa mengabaikan rasa sakit menusuk halus di dadaku.
Aku pun ikut tersenyum sambil mengangkat gelas dan menanggapi.
"Kalau begitu, mau diberi penghargaan Juara Penghangat Ranjang, ya?" 

Julia awalnya dikhianati oleh adik perempuannya dan dikirim ke rumah sakit jiwa!Dalam sebuah ketidaksengajaan, dia terlibat hubungan semalam dengan seorang pria asing dan mendapatinya dirinya kemudian hamil.Untuk menghilangkan kesalahpahaman, dia dipaksa untuk menikah menggantikan adiknya.Pria itu tampan dan kaya raya, tetapi sikapnya sangat dingin dan membencinya."Huh! Wanita yang suka berpura-pura. Menikahi putra dari keluarga Septian dengan menggantikan adik perempuanmu demi uang. Sungguh memuakkan!""Apa seorang yang sakit jiwa pantas memiliki anak? Gugurkan anak itu!"Julia menahan rasa malu hanya agar dia tidak dikirim kembali ke rumah sakit jiwa.Empat bulan kemudian, dia memasuki rumah keluar Septian menggantikan adik perempuannya sendiri. "Keluar! Dialah nyonya muda yang sesungguhnya dari keluarga Septian."Hatiku Julia sangat teriris dan memutuskan untuk pergi dari kediaman keluarga Septian.Tiga tahun kemudian, dia kembali dengan putrinya. Namun, dia dihadang dan didesak oleh suaminya ke sudut dinding, "Julia, aku terus berusaha mencarimu."Dia memutar matanya dan berkata, "Maaf, kamu yang menyuruhku pergi. Jadi, aku pergi sejauh mungkin darimu." 
Saat aku berusia 16 tahun, ibuku akhirnya bunuh diri karena merasa tersudut oleh selingkuhan ayahku. Aku jadi tidak punya rumah dan terpaksa tinggal bersama Keluarga Jonel.Rivano Jonel yang masih remaja itu mendengarkan ceritaku tentang betapa keterlaluannya selingkuhan dan anak haram ayahku dengan mata berkaca-kaca, lalu mengepalkan tangannya dan berkata dengan lebih marah daripada aku."Milea, tenang saja. Kalau nanti aku bertemu dengan ibu dan anak sialan itu, pasti akan kuberi mereka pelajaran!"Setelah itu, dia benar-benar bertemu dengan anak haram ayahku.Mereka bercumbu dengan penuh gairah di atas ranjang.Rivano benar-benar melupakan amarahnya saat masa muda. Dia merapikan pakaiannya yang berantakan dengan tenang dan berkata padaku yang matanya sudah berkaca-kaca."Adikmu cukup mirip denganmu, tapi dia jauh lebih genit darimu. Kamu harus belajar darinya."Saat itulah, aku baru menyadari bahwa pemuda yang selalu menemaniku ini entah sejak kapan sudah menjadi pria berengsek.Setelahnya, di hari pernikahanku dengan pamannya, Rivano menarikku dengan mata yang berkaca-kaca dan terus menuntut penjelasan."Milea, kamu jelas-jelas adalah tunanganku! Milikku! Kenapa kamu malah menikah dengan orang lain!" 
"Nona Sheila, kami sudah membuat kesalahan. Penerima transplantasi jantung pacarmu bukanlah CEO Grup Boris, melainkan orang lain. Orang itu sekarang berada di Vatera." Suara si penelepon penuh dengan penyesalan.Sheila terdiam lama sebelum akhirnya berbicara, di tengah ketidakpastian dan detak jantung yang gelisah dari orang di ujung sana."Oke, aku mengerti."Tepat saat Sheila menekan tombol mengakhiri panggilan, pintu kamar terbuka dengan keras. Diego masuk dengan wajah sangat gelisah. Begitu melihat Sheila, dia langsung meraih tangannya dan menariknya keluar."Ikut aku keluar sebentar!"Tanpa penjelasan apa pun, Sheila ditarik dengan paksa ke dalam mobil oleh Diego. Sepanjang jalan, mobil melaju dengan kecepatan tinggi, menerobos banyak lampu merah. Yang terdengar hanyalah suara deru angin bercampur deru mesin.Jemari Diego terus menghasilkan suara ketukan yang halus di atas setir, menunjukkan betapa gelisahnya dia saat ini. 
Di rumah hantu udara dingin berhembus, suara efek menyeramkan.
Aku pura-pura takut, dan menempel ke orang di sampingku.
"Kak, temani aku jalan, ya."
Sampai lampu menyala, aku baru tahu ternyata orang itu mantan suamiku, Harris Bintara.
Teman-temannya tertawa, sekelompok pria dan wanita menatap diriku dengan tatapan penuh penilaian.
"Pantas saja disebut spesialis jadi selingkuhan, panggil 'Kak' saja bikin orang lemas."
"Dulu goda paman jadi suami, bikin Harris jatuh, sekarang masih berani nempel lagi?"
"Mana bisa dibandingkan dengan kakaknya, Elina Asera, putri sah dari keluarga terhormat!"
Putri sah?
Dua kata itu nyaris membuatku tertawa.
Mereka tidak tahu, akulah putri sah yang ditukar oleh ayah kandungku sendiri.
Namun, semua itu sudah tidak penting.
"Ini hanya permainan kecil antara aku dan suamiku," ucapku dengan nada datar.
Harris menjauhkan dirinya dariku.
"Vina, sekarang aku ini kakak iparmu, jaga sikapmu," ucapnya dengan nada sedingin es.
Aku mundur dua langkah, lalu tersenyum sempurna.
"Pak Harris salah ingat, aku nggak pernah punya kakak."
"Dan soal tadi ... "
Mataku menyapu wajah Harris yang sedikit kaku, lalu aku menambahkan pelan.
"Aku cuma salah orang saja." 

Operasi transplantasi ginjal yang akan dilakukan Lana Sudiro untuk putranya akan segera dimulai.Operasi kali ini sangat sulit, karena ginjal yang akan ditransplantasikan berasal dari tubuhnya sendiri.Operasi berjalan sangat sukses.Saat dia bersiap membagikan kabar gembira itu kepada suaminya, Jodi Kusuma, yang sedang menunggu di ruang sebelah, melalui celah pintu, dia justru melihat pria itu sedang berpelukan mesra dengan dokter magang yang bekerja di bawahnya."Kak Jodi, operasi ini nggak akan ada masalah apa-apa, 'kan? Kalau anak kita kenapa-kenapa bagaimana? Andai saja aku bisa mendonorkan ginjalnya, paling nggak nyawa anak kita nggak akan bergantung pada orang lain."Lana terpaku di tempat.Apa maksudnya "anak mereka"?Dia baru hendak menerobos masuk untuk menuntut penjelasan.Namun, detik berikutnya dia melihat pria itu memeluk Wendy dengan tatapan penuh rasa sayang. "Jangan khawatir, sejak Lana mengalami kecelakaan mobil dan kehilangan ingatan, dia tiba-tiba punya seorang anak, dan dia sama sekali nggak curiga, dan selalu menganggap Hans sebagai anaknya sendiri. Dia pasti akan berusaha sebaik mungkin dalam operasi ini. Lagi pula, dulu kamu kehilangan satu ginjal demi menyelamatkan aku, dan aku terpaksa menikahinya agar dia mau menukar ginjalnya demi anak kita. Itu sangat adil." 
"Tante Tania, waktu yang kita sepakati dulu adalah sepuluh tahun. Sekarang masa sepuluh tahun itu sudah berakhir, aku ingin membawa Nina pergi."
"Bibi juga tahu, dia selama ini nggak pernah menyukai Nina."
Di ruang teh, Wendy Siswanto mengucapkan kalimat itu dengan ekspresi pahit.
Dia hidup bersama Haris Sutomo selama sepuluh tahun, tetapi selama sepuluh tahun itu hati pria itu tidak pernah berhasil dia hangatkan.
Hingga suatu kali mabuk, Haris menekannya di atas ranjang, dan dalam kekalutan hasrat, mereka memiliki seorang anak.
Setelah kejadian itu, pria itu memberi Wendy sebuah vila, serta setuju gadis itu melahirkan anak tersebut. Satu-satunya syarat adalah anak itu tidak boleh memanggilnya ayah, dan di depan orang luar, Haris tetap berstatus lajang.
"Aku nggak mungkin menikahimu, buang saja harapan itu."
"Biaya membesarkan anak akan kuberikan, tapi jangan harap aku mengakui identitasnya. Aku nggak punya anak ini."