Bab 8
Harimau Botak memang tokoh yang ditakuti. Dia hanya melambaikan tangan.
Dua bawahannya langsung mengeluarkan belati dan melangkah maju.
Isha, yang berada di samping, terkejut dan berteriak. Dia tidak berani melihat situasi berdarah ini.
Hanya butuh beberapa menit berikutnya.
Plak! Plak! Dua suara yang nyaring langsung terdengar.
Dua bawahan Harimau Botak terpental keluar dengan mudahnya.
Masing-masing dari mereka mendapat satu tamparan dari Yasa. Kepala mereka pun langsung pecah.
Bruk! Bruk! Setelah itu, sesuatu terdengar jatuh ke lantai hingga dua kali. Orang-orang itu jatuh hingga tidak bergerak.
Benar-benar sudah mati!
Harimau Botak pun terkejut!
Dia melakukan pekerjaan ganas.
Namun, sekarang, dia mendapati sikap Yasa lebih beringas darinya!
Dalam sekejap, Yasa langsung membunuh dua anak buahnya!
Yang perlu menjadi perhatiannya, pemuda di hadapan Harimau Botak ini tampak tenang. Tidak ada gelombang emosi yang terlihat dari tatapannya.
Baginya, aksi tersebut hanya semacam menginjak dua ekor semut saja!
Sebenarnya, siapa pemuda ini? Bagaimana dia bisa membunuh tanpa berkedip sedikit pun!
Isha, yang berdiri di samping, kembali terkejut dan berteriak. Tidak lama kemudian, dia muntah tanpa henti.
Melihat ke arah Isha, Yasa terdengar tidak sabar saat berseru, "Keluar!"
Isha segera berbalik, masih memuntahkan seisi perutnya sambil berlari keluar.
Yasa menatap Harimau Botak dengan ekspresi datar, seolah-olah melihat orang mati.
Harimau Botak menelan ludah, lalu menggertakan gigi sebelum berkata, "Dik, kamu orang yang tangguh! Aku akui itu! Aku menerima kekalahanku. Mulai hari ini, mari kita berteman. Aku, Harimau Botak, nggak akan mengejarmu."
Yasa begitu tenang saat membalas, "Tadi, kamu ingin bunuh aku. Sekarang, ingin pergi begitu saja? Aku orang yang bertindak dalam satu prinsip, menebas rumput hingga akarnya!"
Usai bicara demikian, Yasa melangkah maju dan memukul kepala Harimau Botak hingga hancur.
Bawahannya yang lain berusaha melarikan diri.
Yasa menendang meja hingga terbang.
Botol anggur, pisau, dan garpu di atas meja langsung terbang hingga menusuk leher mereka.
Lima tahun menjalani kehidupan sebagai praktisi spiritual, membuat Yasa memiliki hati yang dingin seperti es dan kokoh bagai baja!
Di dunia ini, yang kuat memakan yang lemah. Belas kasih dan kelemahan hanya membuat diri sendiri terjebak dalam masalah.
Pada saat ini, Andre datang berlari dengan membawa beberapa bawahannya.
Melihat situasi di ruangan tersebut, Andre terkejut sejenak, lalu segera berkata, "Pak Yasa, jangan khawatir. Aku akan menangani ini dengan baik. Harimau Botak adalah pelanggan tetap di sini. Dia adalah kaki tangan Leon untuk melakukan segala kejahatan. Pak Yasa, membunuhnya sudah menghilangkan bahaya bagi rakyat."
Yasa melihat sekilas ke Andre, malas untuk menjelaskan.
Dia menggendong Jenny dan bergegas meninggalkan Bar Zakura.
Sekembalinya di vila Jenny.
"Ugh!"
Jenny memuntahkan sesuatu.
Yasa, yang merasa muak, segera membawa Jenny ke kamar mandi
Dengan cepat dan cekatan, dia menanggalkan seluruh pakaian Jenny, lalu meletakkannya ke bak mandi dengan suhu air yang sudah diatur.
"Hehe, bukan cuma hatinya yang berbisa seperti ular dan suka berfoya-foya, dia juga berteman sama sampah seperti si botak! Ternyata, seindah apa pun kulit seorang wanita, sulit untuk menyembunyikan keburukan di hatinya!"
Yasa hanya mengamati Jenny yang berendam di air. "Kamu terus berendam saja! Sampai kamu sadar!"
Dalam keadaan setengah sadar, Jenny mengulurkan tangannya.
Dia merasakan panas yang membara dalam dirinya.
Tangannya terus-menerus mencakar area dadanya dengan keras.
Meninggalkan bekas-bekas luka merah hingga berdarah.
Melihat situasi ini, Yasa menggeleng. "Melihatmu yang nggak sabar begini, aku benar-benar sulit percaya kalau pagi ini adalah yang pertama bagimu."
Yasa tidak lagi memperhatikan Jenny.
Meskipun wanita ini sangat cantik, perasaan kecewa membekukan hati Yasa terhadap Jenny.
Untuk sementara waktu, dia tidak memiliki tempat beristirahat.
Yasa pun duduk bersila di ruang tamu Jenny, kemudian mulai berlatih dengan tenang.
Hidup lima tahun lamanya di Dunia Kultivasi, bahkan melewati ratusan kali pertempuran hidup dan mati, membuat mental Yasa begitu kuat.
Hari ini, hanya perkara sepele soal membunuh Harimau Botak, Leon, dan para bawahannya.
Hanya kekuatan dan pengaruh diri sendiri yang paling penting.
Yasa menutup matanya, menarik napas dalam-dalam, lalu tenggelam dalam latihan.
Keesokan harinya.
Sinar matahari pagi tampak menerobos melalui jendela, menyinari bak mandi.
Jenny membuka matanya perlahan.
Dia menggelengkan kepalanya, seketika merasa terkejut.
Jenny mendapati dirinya telah tidur semalaman di bak mandi, tanpa mengenakan sehelai pakaian pun.
"Kenapa aku bisa tertidur di sini?" gumam Jenny, bertanya ke diri sendiri.
Jenny pun bergegas bangkit dengan langkah terhuyung-huyung.
Dia melihat ke cermin.
Pantulan dirinya di cermin begitu cantik dan menawan. Namun, ada lebih dari sepuluh bekas cakaran di area dadanya.
"Ini ... siapa yang melakukan ini!" Jenny langsung marah.
Dia mendadak teringat. Detik-detik terakhir, dia melihat kehadiran Yasa di bar.
Dia pikir, pasti Yasa si berengsek yang mengantar dirinya pulang, melepas semua pakaiannya, dan melemparkan dia ke mandi!
Artinya, sudah pasti dia juga yang memanfaatkan kesempatan saat Jenny pingsan.
Dia telah menyiksa Jenny sebegitu parahnya!
"Argh! Bajingan!"
Jenny sudah murka. Dia tidak menyangka, Yasa benar-benar tidak tahu malu!
"Bajingan!"
Jenny membuka pintu kamar mandi. Dia ingin kembali ke kamar tidur untuk mencari pakaian.
Namun, dia malah menemukan Yasa yang masih duduk bersila di ruang tamu.
"Yasa! Dasar bajingan! Pikirmu, siapa kamu, hah!" Ketika mata Jenny menangkap kehadiran Yasa, dia tidak bisa lagi menahan diri untuk memarahinya.
Yasa membuka matanya.
Awalnya, ekspresi Yasa tampak terpesona saat mengamati Jenny.
Usai berendam semalaman, Jenny menghampiri Yasa tanpa balutan sehelai benang pun sembari dibasuh cahaya matahari pagi, membuat kecantikannya terlihat bagai lukisan.
Selanjutnya, Yasa justru merasa marah.
Wanita ini benar-benar tidak tahu diuntung!
Kemarin, Yasa telah menyelamatkannya. Bukannya berterima kasih, malah memarahinya sepagi ini!
"Wanita berbisa, perhatikan sikapmu!" tegur Yasa dengan nada dingin.
Jenny marah hingga hilang akal, membuatnya berlari menghampiri dan menjambak rambut Yasa. "Kamu, pria licik! Bajingan! Berengsek! Pantas saja Shina menganggapmu anjing sejak dulu. Kamu bukan pria, tapi binatang!"
Jenny mengira, bekas cakaran di dadanya adalah hasil perbuatan Yasa.
Goresan-goresan itu tampak mencolok, membuat siapa pun yang melihatnya merasa ngeri
Dia benar-benar tidak menyangka, semuanya dia lakukan usai meminum racikan obat yang membuat Jenny tidak bisa mengendalikan diri. Dalam keadaan tidak sadar, dia mencakar dirinya sendiri!
Yasa dimarahi habis-habisan oleh Jenny.
"Oke, aku bukan pria. Aku cuma ikut campur urusan orang lain! Kamu wanita murahan dan berbisa, biar kutinggalkan kamu supaya bisa membuktikan apakah aku pria atau bukan!"
Segera, Yasa menangkap Jenny!
Mereka pun terjatuh di sofa.
Jenny menjambak rambut Yasa dengan tangannya.
Sekali lagi, Jenny digauli Yasa.
Pada awalnya, Jenny masih memaki.
Namun, dia tidak sanggup lagi untuk mencaci-maki setelahnya.
Kring, kring, kring! Saat itu juga, ponsel berbunyi.
Jenny, yang masih setengah lemas, berusaha mengambil ponselnya.
Matanya melirik sekilas ke arah layar ponsel.
Tidak lama kemudian, dirinya terkejut.
Ini adalah panggilan video dari Shina.
Tentu saja, Jenny tidak berani mengangkatnya!
Kalau sampai Shina melihat situasi ini, sudah pasti Jenny akan melenyapkan dirinya sendiri.
Jenny segera melempar ponselnya ke samping.
Melihat situasi ini, Yasa malah tersenyum sinis dan berkata, "Oh, kenapa nggak diangkat? Biarkan sahabat baikmu lihat kita berdua! Biar dia tahu, siapa kamu sebenarnya!"
"Dasar bajingan kamu!"
Jenny tidak berani berdebat dengan Yasa.
Di sisi lain.
Shina memegang ponselnya penuh frustrasi.
Dia ingin bertanya kepada sang sahabat mengenai kondisi Yasa sekarang.
Tidak disangka, sahabatnya malah tidak menjawab panggilan video darinya.
"Jenny lagi apa, sih! Aku pinjamkan anjingku padanya, tapi dia nggak angkat telepon! Jangan-jangan ... dia sudah menyiksa Yasa sampai mati!"
Begitu memikirkan kemungkinan ini, hati Shina tiba-tiba bergetar.
Dia berdiri, menyaksikan tempat tinggalnya, lalu merasakan kesepian yang tiba-tiba menjalari hatinya.
Sebenarnya, rumah besar nan megah ini dia peroleh berkat statusnya sebagai istri Yasa!
"Andai aku bukan istri Yasa, keluarga Leonard nggak akan mungkin merebut aset sebanyak itu. Aku juga mustahil bisa tinggal dengan tenang di rumah besar seperti ini."
"Tiga tahun ini, Yasa si anjing bodoh selalu menemaniku, memijat, menggosok punggung, melakukan pekerjaan rumah, membuatku tertawa, bahkan menahan kemarahanku. Sebenarnya ... sebenarnya, dia cukup sesuai dengan keinginanku. Jauh lebih baik daripada anjing yang dibeli di luaran."
"Astaga! Jenny nggak mungkin menyiksa Yasa sampai mati, 'kan? Dia tetap suamiku, yang sudah menikah denganku. Nggak seharusnya Jenny bertindak sekejam itu!"
"Nggak bisa dibiarkan! Aku harus pergi memeriksanya!"
Shina seketika menyadari, dirinya cukup peduli dengan nasib Yasa, anjing bodohnya.
Dia berganti pakaian sebelum pergi dengan mengemudikan mobilnya menuju Graha Lintang.
Setibanya di luar vila Jenny.
Shina terus-menerus menekan bel pintu.
Dia lantang berteriak, "Jenny, Jenny buka pintunya! Cepat buka pintunya!"
Di ruangan, Jenny sudah kehilangan kendali. Kondisinya setengah sadar, penuh kebingungan.
Tiba-tiba, dia mendengar suara sahabatnya yang mendadak tiba di depan rumahnya.
Dia terkejut bukan kepalang!
Jenny segera melihat Yasa dan berseru, "Istrimu datang!"
Yasa tersenyum sinis. "Bagus, dong! Biarkan dia masuk! Aku juga mau kasih pelajaran untuk dua sahabat jahat seperti kalian!"