Bab 7
Yasa melirik Andre yang berlutut di lantai.
Andre langsung ketakutan. Seluruh tubuhnya gemetar, wajahnya pucat.
Saat itu, Andre seketika paham, orang di hadapannya bukanlah manusia biasa!
"Ya, ya, aku tahu apa yang harus dilakukan!" Andre terus mengangguk. "Aku akan kasih tahu Bos Basuki soal kabar putranya. Begitu dia tiba di Kota Cendana, aku akan segera kasih tahu kamu."
Yasa mengangguk puas.
Pevita tertegun melihat Yasa. Sebelumnya, dia tampak bodoh. Kini, dia terlihat berani.
Dia pun melepaskan isak tangis yang begitu emosional.
Yasa membawa Pevita ke sebuah ruangan kosong.
Andre tentu tidak berani mengabaikan. Segera, dia mengirim makanan dan minuman enak, termasuk memberi Pevita gaun baru.
Pevita mengganti pakaiannya, menghapus air matanya, lalu berkata pada Yasa. "Pak Yasa, terima kasih. Kalau bukan karenamu, aku pasti sudah mati. Keluarga Demianto sangat gila. Nggak cuma bakar markas, mereka juga menangkap satu per satu pendiri perusahaan sebelumnya untuk diinterogasi. Kelihatannya, mereka sedang mencari Kode Gen Keabadian, proyek yang diteliti Pak Lendra semasa hidupnya."
Yasa mengangguk. Binar tajam yang begitu ganas terpancar dari matanya.
Pevita melanjutkan, "Pak Yasa, kamu harus sangat hati-hati. Basuki bukanlah orang biasa. Entah bergabung dengan organisasi apa, dia punya sekelompok ahli sebagai bawahannya sekarang. Dalam waktu singkat tiga tahun, Basuki sudah menjadi tokoh paling berpengaruh di seluruh Provinsi Jayendra! Organisasi di belakangnya begitu besar!"
"Jangan khawatir, Tante Pevita. Tenang saja. Setelah aku balas dendam, aku akan menghidupkan kembali perusahaan ayahku. Saat itu tiba, aku pasti perlu bantuanmu," jawab Yasa dengan tenang, tetapi tegas!
Seluruh tubuh Pevita gemetar hebat. Tidak dia sangka, Yasa memiliki keberanian seperti itu.
Saat itu, dari luar ruang VIP, terdengar teriakan seseorang.
Suara itu terdengar sangat akrab.
Yasa mendengar suara ini, membuat alisnya berkerut.
"Apakah itu Jenny? Wanita sialan ini, apakah dia diperkosa? Mampus!"
...
Sementara itu, di ruang VIP B350.
Seorang pria berkepala botak duduk nyaman di sofa. Ada tujuh pria bertato dan bertubuh kekar yang telanjang dada tengah berdiri di belakangnya.
Di hadapan pria botak yang besar, tampak dua wanita tengah berdiri.
Seorang wanita bertubuh kurus dan gemetaran itu bernama Isha Wandika. Ayahnya berutang lebih dari 400 juta rupiah pada pria berkepala botak itu, sehingga dia dibawa ke sini.
Sementara itu, wanita yang berdiri di samping Isha dengan gaun panjang, tubuh menawan, serta wajah yang begitu cantik itu adalah Jenny. Di bawah cahaya, dia terlihat anggun dan menawan.
Jenny berkata, "Kak Huda, seharusnya, utang yang dimiliki Ayah Isha bukan tanggung jawab Isha. Tapi, hari ini, aku nggak mau mempermasalahkan hal ini. Berapa pun utang yang dimiliki keluarga Isha, biar aku yang bayar. Kuharap, kamu bisa membebaskan karyawanku."
"Hahaha!" Si botak tergelak keras. Dia bertepuk tangan sambil mengamati Jenny dari atas ke bawah, lalu berkata, "Salut! Bu Jenny benar-benar loyal! Nggak disangka, Isha cuma asistenmu, tapi kamu langsung datang begitu dengar dia ditangkap! Hahaha, wanita cantik yang begitu loyal, aku suka!"
Jenny mengernyitkan dahi. Dia mengeluarkan sebuah kartu ATM dan berkata, "Ini terisi 500 juta rupiah. Masalah kita sudah selesai. Isha, ayo, kita pergi."
Si botak dan pria di belakangnya malah tertawa terbahak-bahak.
Si botak mengangkat segelas minuman dan berkata, "Bu Jenny, kamu terlalu meremehkan Harimau Botak ini? Dalam bisnis, aku sangat menjunjung tinggi arti persahabatan! Kamu datang dengan hormat, minumlah dulu segelas ini. Kita teman, lho. Setelah ini, kita bisa sering mengunjungi satu sama lain."
Yang disebut Harimau Botak itu menatap Jenny, tanpa menyembunyikan kobaran api di matanya.
Di belakang, anak buahnya tertawa sekali lagi dengan suara yang begitu memuakkan.
Isha segera berkata, "Kak Huda, kamu sudah bilang, selama bosku mengembalikan uangnya, kami boleh pergi. Kami nggak mau minum alkohol."
Plak!
Harimau Botak menampar wajah Isha. "Pergi sana! Ini bukan tempatmu bicara! Bu Jenny, kalau kamu nggak minum alkohol ini, kamu nggak akan bisa keluar pintu ruangan ini."
Jenny terkejut hingga refleks melangkah mundur. Dia seketika menyadari pikirannya yang terlalu sederhana.
Awalnya, dia mengira, hanya perlu datang untuk bayar utang dan menyelamatkan pegawainya.
Siapa sangka, Harimau Botak dan anak buahnya begitu memuakkan. Mereka selalu memanfaatkan situasi dan makin menjadi-jadi.
Wajah Harimau Botak mulai tampak dingin dan suram. "Apa? Menghargai segelas anggur dariku saja nggak mau? Apa Bu Jenny merasa karena kamu adalah satu dari dua CEO tercantik di Kota Cendana, kamu bisa meremehkan Harimau Botak ini? Kalau gitu, jangan salahkan aku ketika nggak bersikap sopan lagi sama kamu!"
Pria bertubuh kekar di belakang Harimau Botak pun segera mengelilingi Jenny.
Jenny terkejut dan berteriak, "Oke, aku akan minum! Tapi, perlu kuperingatkan, aku adalah anggota keluarga Yahya! Zavier adalah kakekku! Setelah minum, tolong biarkan kami pergi!"
"Tentu saja, hahahaha!" Harimau Botak tersenyum hingga matanya menyipit.
Tentu dia kenal Zavier, bahkan takut pada seniman bela diri yang terkenal itu. Akan tetapi, Harimau Botak jauh lebih tahu bahwa Zavier sudah sakit parah dan hampir mati!
Jenny menghabiskan minumannya, menarik Isha, lalu beranjak pergi.
Harimau Botak pun tertawa terbahak-bahak. Dia menarik lengan Jenny dengan satu tangan dan tersenyum bangga.
"Apa yang kamu lakukan! Aku sudah kasih uangnya, minumannya sudah aku habiskan. Jadi, lepaskan aku!" Jenny berusaha keras untuk melepaskan diri.
Harimau Botak tertawa bangga. "Jenny, kamu memang naif! Pegawaimu kutangkap cuma untuk menjebakmu. Nggak disangka, kamu begitu peduli bawahanmu. Kamu benar-benar datang! Hahaha, sudah lama aku dengar tentang Dua Dewi dari Kota Cendana, Shina dan Jenny. Saling berlomba menjadi yang tercantik. Hari ini, aku, Harimau Botak, berhasil merasakan keindahanmu!"
Para bawahan Harimau Botak di sekeliling mereka pun ikut tertawa terbahak-bahak.
Ketika Jenny masih berusaha melepaskan diri, kepalanya mendadak pusing dan sekujur tubuhnya lemas.
"Kamu ... kamu sudah mencampurkan obat ke minumanmu!" teriak Jenny ketakutan. Tubuhnya gemetaran.
Harimau Botak menaikkan alisnya, merasa bangga. "Cantik, jangan khawatir. Obat ini sangat manjur, kok. Hahaha!"
Harimau botak bersuara sambil meraih kerah baju Jenny, berusaha merobek pakaiannya.
Para bawahan Harimau Botak pun melongo. Mereka tidak menyangka bisa berkesempatan menyaksikan salah satu dari Dua Dewi Tercantik di Kota Cendana.
Saat ini.
Di ruang VIP lainnya.
Yasa, yang mendengar teriakan Jenny, tidak berniat untuk menghiraukannya.
Namun, Yasa seketika teringat, dialah yang merenggut kesucian Jenny.
Tentu saja, dia tidak bisa acuh tak acuh.
"Tante Pevita, aku harus pergi membereskan sesuatu. Tante pulang duluan saja. Nanti, saat aku buka lagi perusahaan Ayah, aku akan menghubungimu," terang Yasa buru-buru kepada Pevita.
Pevita mengangguk sebelum berjingkat pergi secara diam-diam.
Yasa keluar dari ruang VIP, lalu bergerak ke VIP B350. Setibanya di sana, dia segera menendang keras pintunya.
Di ruangan tersebut.
Harimau Botak sedang menarik Jenny, tampak ingin merobek pakaiannya.
Seluruh tubuh Jenny terasa lemas, seolah-olah sudah terjatuh di bahu Harimau Botak.
Yasa mengamati sekeliling, tertawa dingin, lalu berkata, "Wah. Liar sekali pergaulanmu, Jenny! Kalau kamu memang suka pergaulan bebas, kenapa seberisik itu! Teriakanmu mengganggu banget!"
Melihat kehadiran Yasa, Jenny agak terkejut. Menggunakan sisa tenaganya, wanita itu melepas diri dari cengkeraman Harimau Botak. Langkahnya goyah sebelum jatuh di samping Yasa dengan suara "Bruk!" yang cukup nyaring.
Setelah itu, dia pingsan.
Yasa melihat sekilas ke arah Jenny, lalu melirik kepada Harimau Botak dan kawanannya.
Harimau Botak langsung murka hingga mencibir, "Sialan! Dari mana datangnya si bodoh? Hajar dia sampai mati!"