Webfic
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 6

Yasa menoleh, lalu mendapati tubuh ramping Jenny dibalut gaun panjang yang dia kenakan. Sepasang mata cantik sedang menatap tajam ke arahnya. Yasa kebingungan. "Jangan menganggap dirimu sepenting itu. Aku datang ke sini untuk bunuh seseorang, nggak ada urusannya denganmu!" Mendengar pernyataan Yasa, Jenny marah hingga mengentakkan kaki sambil berkata, "Masih nggak mau mengaku! Jangan buang-buang tenaga. Nggak akan ada gunanya membuntutiku!" "Huh! Pergi sana!" Yasa berbalik penuh ketidaksabaran. "Kamu bukan cuma berhati busuk, tapi datang juga ke bar begini. Liar banget! Nggak tahu malu, ya." Yasa angkat kaki dari sana untuk bergegas masuk ke bar. "Berengsek kamu! Siapa yang kamu bilang liar, hah! Kembali ke sini!" Jenny malah mengikutinya masuk. Namun, Yasa sudah menghilang. Jenny mengepalkan tinjunya penuh amarah, tubuhnya gemetar. Matanya mulai bergetar karena menahan air mata. Hati Jenny tidak seperti ular berbisa. Dia juga bukan seorang wanita liar! Akan tetapi, Yasa si berengsek malah menilai dirinya seperti ini! Di bar, seorang penari telanjang sedang menggoyangkan tubuhnya di tiang besi. Melihat adegan ini, wajah Jenny bersemu malu. Dia segera membalikkan kepala dan mencari ruang B350. Saat ini. Yasa sudah tiba di lantai atas bar. Di luar ruang VIP yang paling mewah. Yasa menendang pintu ruang VIP tersebut. Melihat situasi di ruangan itu, Yasa sontak marah. Hasrat membunuh langsung menyelimuti dirinya! Sementara itu, di ruangan VIP. Leon tengah duduk di sofa, tampak santai sambil merokok dengan cerutu. Tepat di hadapannya, ada seorang wanita berambut panjang. Usianya mungkin sekitar 40 tahun. Wanita itu merawat diri dengan baik. Kulitnya putih nan halus, sekaligus berkacamata. Jelas terlihat, dia adalah wanita berbudaya dengan status cukup terpandang di tengah masyarakat. Namun, saat ini, pakaian wanita tersebut terlihat robek. Ada luka bakar bekas sundutan rokok di dada, perut, dan paha si wanita. Wanita ini adalah mantan Kepala Keuangan Grup Carlo, Pevita. Sekujur tubuh Pevita gemetaran. Air mata bercampur darah pun mengalir deras dari matanya. "Bunuh aku, aku nggak tahu apa-apa. Aku betulan nggak tahu! Tolong, bunuh aku, bunuh aku!" kata Pevita pada Leon. Suaranya bergetar. Leon tertawa terbahak-bahak. "Bunuh kamu? Aku nggak akan menyia-nyiakanmu! Meski kamu sudah agak tua, masih bisa menghasilkan uang buat beberapa tahun ke depan kalau dijual ke klub malamku. Hahahaha!" Bam! Yasa menendang pintu ruang VIP. Melihat Leon menangkap Pevita dan menyiksanya hingga penampilannya tidak lagi manusiawi. Yasa naik pitam. Dia melangkah maju hingga berdiri di depan Pevita. "Tante Pevita, Tante baik-baik saja?" Yasa melepas jaketnya dan menyelimuti Pevita. Seluruh tubuh Pevita gemetaran. Dia menatap keheranan ke arah Yasa. Tubuh Pevita sontak gemetar hebat. Seolah-olah tidak percaya, dia sampai berkata, "Kamu ... kamu adalah Yasa, putra Pak Lendra? Kamu sudah sembuh, kamu nggak idiot lagi? Yasa, kamu ... cepat pergi, tinggalkan tempat ini secepatnya!" "Hahahaha! Hebat, benar-benar hebat!" seru Leon dengan tawa bangga. Dia berdiri, mengamati Yasa, lalu berkata, "Kamu anaknya Lendra? Hahaha, pasti kamu tahu disimpan di mana Kode Gen Keabadian yang diteliti ayahmu, 'kan?" Yasa melihat ke arah Leon. Sepertinya, dia mulai mengerti. Yasa berkata, "Jadi, kamu dan ayahmu membakar Grup Carlo sampai bunuh begitu banyak orang, cuma buat mencari Kode Gen Keabadian?" Leon bertepuk tangan, begitu bangga saat berkata, "Kamu benar soal separuh infonya. Aku yakin, ayahmu pasti telah meninggalkan Kode Gen buatmu, hahahaha! Menangkapmu sama dengan celahku untuk dapat segalanya! Ini pasti seru banget! Aku akan dapat prestasi besar!" Yasa memancarkan api kemarahan dari matanya, lalu maju satu langkah ke depan Leon. Plak, plak, plak, plak! Empat tamparan mendarat di wajah Leon. Wajah Leon seketika bengkak dan merona, dia sangat ketakutan. "Kamu ... berani sekali, kamu berani memukulku? Panggil orang! Wahyu, Marwan, tangkap dia!" Swoosh! Swoosh! Ada dua orang tua yang hadir di ruang VIP. Aura mereka begitu kuat, sungguh mengintimidasi. Leon menatap Yasa dengan mata berapi-api sambil menunjuknya. "Dasar bajingan, mati kamu sekarang! Wahyu dan Marwan adalah Master tingkat tertinggi dan secara khusus dipekerjakan ayahku buat melindungiku. Hari ini, aku akan membuatmu paham betapa tingginya kedudukan keluarga Demianto!" Dua pengawal tingkat tertinggi itu langsung melihat Yasa, tetapi tidak menghiraukannya. Wahyu melangkah maju, meraih Yasa. Plak! Yasa seketika menampar wajah Wahyu. Brukkk! Hanya berakhir dengan kepala Wahyu yang berputar 720 derajat! Lehernya patah dan wafat seketika. Seorang Master lain pun terkejut ketika melihat situasi ini. Dia berbalik, dengan niat melarikan diri. Yasa mengangkat tangannya. Swoosh! Sebuah kekuatan udara menembus lehernya. Marwan memegang lehernya. Dia berbalik dan menatap kaget pada Yasa. "Ku ... Kultivator Energi ..." Leon berdiri di tempat, matanya terbelalak. Dia tidak bisa memercayai yang ada di hadapannya. Dua pengawal tingkat tertinggi, meninggal dalam sekejap! Ternyata, Yasa begitu kuat! "Kamu ... hiks!" Tubuh Leon bergetar hebat bagai terkena angin kencang. Dukk! Suara itu menandakan jatuhnya yang tersungkur ke lantai. Dia meninggal karena terkejut! Yasa agak mengerutkan keningnya. Sebenarnya, dia ingin membiarkan Leon hidup supaya bisa memanggil Basuki kembali. Tidak disangka, Leon jauh lebih tidak berguna. Saat itu, ada dua orang lagi yang berlari masuk. Orang yang memimpin adalah Andre, pemilik Bar Zakura. Andre bergegas masuk dengan tergesa-gesa. Melihat tubuh Leon tersungkur di lantai, Andre sontak gemetar ketakutan. "Leon, Leon, ada apa denganmu?" Andre berlutut di lantai, mengguncang tubuh Leon. "Kamu juga bawahannya Leon?" kata Yasa dengan nada dingin. Andre mengangkat kepalanya, buru-buru menggeleng. "Aku ... aku adalah pemilik Bar Zakura. Leon... dia putranya Pak Basuki! Dia mati di bar milikku. Tamat riwayatku! Dua pengawal tingkat tertingginya pasti akan membunuhku!" Yasa mengerutkan kening seraya berkata, "Apakah yang kamu maksud adalah dua orang tua yang tergeletak di lantai itu?" Andre mengangkat kepala. Ketika dia melihat mayat Marwan dan Wahyu, wajahnya makin ketakutan. Ini adalah dua Master! Mereka adalah pusat kekuatan tempur di seluruh Kota Cendana! Sekarang, mereka justru mati begitu saja? Sebenarnya, sosok pemuda seperti apa yang ada di hadapan Andre saat ini? Andre berlutut tanpa ragu di hadapan Yasa. "Tuan, jangan khawatir. Aku ... aku akan menangani semua ini dengan baik. Aku nggak akan membiarkan berita kematian Leon bocor ke luar." Yasa menggelengkan kepala sembari berkata, "Nggak, kamu harus bocorkan berita itu. Segera beri tahu Basuki soal kematian putranya! Bilang padanya, aku tunggu dia kembali di Kota Cendana!" "Hah?" Andre menatap Yasa penuh keterkejutan. Pemuda ini ... apakah dia ingin bersaing dengan Basuki? Apakah dia tidak tahu bahwa Basuki sudah menjadi orang nomor satu di balik layar Provinsi Jayendra?

© Webfic, hak cipta dilindungi Undang-undang

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.