Bab 5
"Jenny?"
"Yasa?"
Yasa dan Jenny sama-sama terkejut.
Di ranjang pasien, Zavier begitu senang mendapati sang cucu mengenal Yasa.
Zavier tertawa dan berkata, "Baguslah, ternyata Yasa sang Dokter Dewa mengenal cucuku! Jenny, cepat kemari dan bilang terima kasih padanya. Kalau bukan karena dia, mungkin aku sudah mati hari ini."
"Bilang terima kasih padanya? Dia bisa ... menyembuhkan penyakit?" Jenny terlihat benar-benar tidak percaya.
Melihat Yasa, hatinya malu sekaligus marah. Dia sangat frustrasi!
Bagaimanapun juga, kesuciannya baru saja diambil bajingan ini!
Teringat dengan adegan itu, wajah Jenny sampai kebiruan karena marah. Dia berkata, "Kakek, Kakek nggak ditipu dia, 'kan? Dia bukan seorang Dokter Dewa! Dia cuma seekor ... hm!"
Zavier segera membentak, "Jenny, bisa-bisanya kamu bicara seperti itu pada orang yang menyelamatkan Kakek! Aku beri tahu, ya. Mulai sekarang, Yasa-lah penyelamat kita, penyelamat besar keluarga Yahya! Apa pun yang dia minta darimu, kamu harus lakukan! Mengerti? Sekarang, pergi temani Pak Yasa makan. Pastikan balas budi padanya!"
"Kakek! Aku nggak mau makan sama dia!" tolak Jenny kesal.
Zavier membelalakkan matanya ke arah Jenny. "Apa kamu ingin membuatku marah sampai mati? Kubilang padamu, mulai sekarang, kamu harus selalu di sampingku dan melayani Pak Yasa dengan baik! Kalau nggak, jangan bilang kalau akulah kakekmu!"
Begitu Zavier mengancam, dokter-dokter di sekitarnya tentu memahami pikiran orang tua itu.
Dia bukan ingin membalas budi pada Yasa. Jelas, ini adalah rencana untuk memaksa cucunya mendekati Yasa!
Yasa terdiam sejenak.
Dia tidak bisa menolak, hanya bisa berbalik seraya meninggalkan lantai atas.
Jenny tidak bisa berbuat apa-apa. Dia mengikuti langkah Yasa penuh amarah.
Di ranjang pasien, Zavier melihat Yasa dan cucunya berlalu pergi. Wajah tuanya menampilkan senyum licik bak rubah.
"Cucuku, kamu harus serius memanfaatkan kesempatan ini! Yasa, dia ... mungkin saja Kultivator Energi yang terkenal itu!"
...
Pertama, Yasa kembali ke ruang perawatan Tristan.
Tristan memang tidak sadarkan diri tiga tahun lamanya. Namun, harta dan jaringan relasinya masih ada.
"Paman Tristan, tolong bantu aku menyelidiki keberadaan Basuki," ucap Yasa.
Tristan menghela napas dan berkata, "Baiklah. Tapi, Yasa, jangan sekali-kali bertindak gegabah!"
Yasa mengangguk, kemudian pergi dari rumah sakit bersama Jenny.
Setibanya di gerbang depan rumah sakit.
Jenny memasang ekspresi dingin saat berkata, "Yasa, kamu pura-pura bodoh selama lima tahun, tapi tiba-tiba kasih lihat kemampuanmu hari ini. Aku nggak tahu apa rencanamu, tapi keluarga Yahya dan kamu nggak punya dendam apa pun. Tolong jangan menyakiti keluarga Yahya! Jangan sekali-kali berpikir untuk mengincar diriku! Meski kamu yang merenggut kesucianku, aku nggak akan sudi punya hubungan apa pun denganmu!"
Yasa tergelak keras seraya mengangguk, lalu berkata, "Baguslah! Aku juga takut kamu akan menempel terus padaku! Sekalipun kamu, wanita berhati ular berbisa, berdiri telanjang di depanku, aku nggak akan melirik sedikit pun!"
"Argh, kamu bajingan! Aku ... ini dua miliar rupiah. Ambil uangnya dan pergi!" Jenny mengeluarkan sebuah kartu ATM.
Yasa mengambilnya dan memasukkannya ke saku. Dia tersenyum sambil berkata, "Ini persis dengan keinginanku!"
Jenny menggertakkan giginya penuh amarah. Dia memutar pinggul seraya berkata, "Sampai jumpa!"
"Aku nggak mau berjumpa lagi!" Yasa pun melambaikan tangannya.
Setelah itu, Yasa pergi dengan santai untuk membeli pakaian dan ponsel.
Dua jam kemudian.
Yasa duduk di warung makan.
Dia mengusap puas bibirnya.
"Shina memanfaatkan statusnya sebagai istriku buat merampas sebagian besar harta keluarga Carlo. Sekarang, dia sudah sangat kaya!"
"Tapi, wanita berhati ular, yang setiap hari memperlakukanku macam anjing ini, cuma kasih sisa makanan buatku!"
"Hmph. Setelah lawan kubunuh, baru akan kucari dia buat balas dendam!"
Saat itu, ponsel Yasa berbunyi.
Itu panggilan masuk dari Tristan.
Tristan terdengar agak khawatir saat bicara, "Yasa, keponakanku, aku sudah dapat informasi tentang Basuki. Tiga tahun ini, Basuki sangat terkenal, dia sudah menjadi raja investasi yang terkenal di seluruh Provinsi Jayendra! Dia tokoh besar! Pengaruhnya menyebar di seluruh Provinsi Jayendra. Kita benar-benar nggak bisa meremehkannya!"
Mendengar penjelasan ini, Yasa makin marah hingga nada dinginnya membalas, "Paman Tristan, jangan khawatir. Aku mau lihat, dia mengandalkan apa buat mencapai posisinya saat ini! Di mana Basuki sekarang?"
Tristan berkata, "Sekarang, Basuki di luar negeri. Seharusnya, dia ada di Pulau Dori. Tapi, putra Basuki, Leon, sedang ada di Kota Cendana. Dia tinggal di Bar Zakura. Mestinya, dia ada di bar sekarang."
"Aku paham. Paman Tristan, Paman juga harus lebih hati-hati. Jika Basuki tahu Paman sudah sadar, mungkin saja dia tetap menyerang Paman."
Yasa menutup telepon, berdiri, lalu bergegas menuju Bar Zakura.
Dia ingin bertanya alasan Basuki harus membasmi habis-habisan! Sebenarnya, apa yang ingin dilakukan bajingan ini?
Setibanya di Bar Zakura.
Sekitar pukul lima sore, kegiatan di bar itu sudah ramai.
Yasa berdiri di depan pintu bar. Gelegar musik terdengar oleh Yasa dari dalam, raut wajahnya tampak dingin.
Dia mengangkat kakinya, hendak masuk ke bar.
"Yasa? Kamu ... dasar anjing! Kamu mengikutiku?" ucap seorang wanita dari sebelah kiri.