Bab 4
Mendengar kata-kata ini, Yasa pun mengangguk.
Melihat Yasa setuju, Kevin pun begitu bersemangat. Dia menarik Yasa dan berlari ke ruang perawatan VIP di lantai paling atas.
Di jalan, Kevin bertanya tentang asal-usul nama Yasa. Saat mendengar Yasa tidak pernah belajar kedokteran modern maupun tradisional, dia tidak bisa menahan rasa terkejutnya.
Tidak lama kemudian, kedua orang itu tiba di ruang perawatan lantai paling atas.
Lebih dari sepuluh ahli telah berada di ruang perawatan, masing-masing menampilkan ekspresi cemberut.
Tit, tit, tit! Bunyi tersebut terus terdengar dari berbagai mesin canggih di sana.
"Permisi, aku telah membawa seorang Dokter Dewa. Dia baru saja membangunkan seorang pasien koma yang telah tidur tiga tahun. Mari kita minta Yasa sang Dokter Dewa untuk memeriksa Zavier," jelas Kevin sambil menarik Yasa ke depan tempat tidur pasien.
Di atas ranjang pasien, Zavier, yang rambut dan jenggotnya sudah putih, tampak terbaring lemah. Wajahnya tampak merah hingga kebiruan. Bola matanya menonjol keluar hingga satu demi satu pembuluh darahnya terlihat jelas.
Kevin cepat-cepat menjelaskan, "Dokter Dewa, Pak Zavier mengalami gagal jantung parah. Kami telah coba berbagai cara, tapi nggak mampu menghentikan apoptosis sel miokardianya. Apakah Dokter punya cara yang lebih baik?"
Yasa mengulurkan tangannya, lalu meraba dada Zavier.
Energi spiritual menyebar ke seluruh bagian jantung Zavier. Dengan cepat, Yasa menemukan penyebab penyakit yang sebenarnya.
Yasa berkata, "Penyebab penyakit Pak Zavier bukan di jantung, tapi paru-paru."
"Hah? Paru-parunya nggak ada masalah," jawab Kevin keheranan.
Di sampingnya, Tony, seorang profesor kedokteran dari Provinsi Johar, tertawa sinis saat mendengar kata-kata itu.
Tony pun berbicara, "Kevin, kamu sudah tahunan menjadi seorang dokter klinis yang lulus dari universitas ternama. Sekarang, kamu malah percaya sama pengobatan tradisional?"
Kevin segera menjelaskan, "Profesor Tony, Yasa benar-benar seorang Dokter Dewa. Dia bisa membangunkan orang yang nggak sadarkan diri dalam sekejap! Dia begitu hebat. Dulu, aku nggak percaya pengobatan tradisional. Sekarang, aku percaya sekali!"
Mendengar kata-kata ini, Tony tidak kuasa menahan dirinya untuk tidak melirik sinis ke arah sinis.
Yasa malas bicara lebih banyak. Dia sontak menampar bagian paru-paru Zavier dengan satu tangan.
"Hei! Apa yang kamu lakukan!" teriak Tony. "Kalian ini lagi meracau. Itu bahaya buat nyawa manusia."
Kevin segera menyela, "Profesor Tony, aku percaya pada Yasa sang Dokter Dewa. Tunggu saja keajaibannya."
Pada saat itu, Zavier, yang terbaring di ranjang pasien, terbangun hingga tubuhnya gemetar hebat.
Kemudian, di samping ranjang pasien, elektrokardiogram total berubah ke garis lurus.
Zavier, sudah meninggal.
"Jantung Zavier sudah nggak berdetak lagi! Cepat, cepat berikan adrenalin!"
"Ruang operasi siap, satu menit lagi akan dilakukan penyelamatan."
"Siap untuk membuka dada, membuka saluran udara, dan menggunakan jantung luar tubuh."
Para dokter di ruang perawatan mendadak kacau balau.
Raut wajah Tony terlihat dingin seraya keras-keras bicara, "Jangan membuang tenaga lagi, Zavier sudah nggak bisa selamat, jangan menyusahkan dia lagi! Ah, aku dan Zavier hidup sebagai teman. Siapa sangka, hari ini, kami terpisah oleh hidup dan maut!"
Kevin berdiri di tempat. Mulutnya menganga, otaknya pun kosong.
Kevin kira, Yasa adalah seorang Dokter Dewa. Tidak disangka-sangka, Yasa langsung membunuh Zavier!
Tony menoleh, melihat Kevin, dan menggertakkan giginya sebelum berkata, "Kevin! Sebagai Wakil Kepala Dokter, kamu malah percaya pengobatan tradisional, makanya ada kecelakaan medis ini! Andai bukan karena kalian, paling nggak, Zavier bisa hidup tiga hari lagi. Sekarang, hm! Tunggu saja kalian dituntut keluarga Yahya!"
Mendengar pernyataan tersebut, Kevin ketakutan hingga seluruh tubuhnya gemetar.
Dia menarik ujung baju Yasa, suaranya bergetar saat berkata, "Tuan Yasa, kamu ... kamu pergi dulu saja. Kamu nggak punya Sertifikat Dokter. Kalau diusut, kamu bisa dijatuhi hukuman."
Yasa tersenyum lembut, menepuk bahu Kevin, lalu berkata, "Jangan khawatir, aku bisa menyelamatkan Pak Zavier."
"Hah, kamu masih mau menyelamatkannya? Tadi, kamu baru saja membunuhnya!" omel Tony murka.
Yasa tidak banyak menjelaskan. Dia hanya berjalan ke sisi ranjang dan menempatkan telapak tangan menghadap ke arah kepala Zavier. Plak! Sekali lagi, dia memberi tepukan.
Zavier, yang sudah henti jantung, seketika terbatuk hebat.
Uhuk ... uhuk ... huek!
Zavier tiba-tiba memuntahkan segumpal dahak kental bercampur darah dan nanah.
Setelah muntah, dia membuka matanya. Saat memindai sekeliling, dia agak bingung.
Saat ini, detak jantungnya di elektrokardiogram telah pulih lagi, tanpa terlihat adanya kondisi gagal jantung.
"Wah! Hebat, benar-benar hebat!" teriak Kevin penuh kegembiraan. "Zavier nggak cuma siuman, jantungnya ikut baik, bahkan dia nggak mengalami gagal jantung lagi!"
"Keajaiban, benar-benar keajaiban!"
"Sial! Apakah ini benar-benar pengobatan tradisional? Apakah pengobatan tradisional sekuat ini?"
"Aku sudah bekerja 40 tahun di bidang klinis, ini kali pertamaku melihat fenomena membangkitkan lagi orang mati!"
Tony terkejut melihat Yasa, lalu mengalihkan tatapannya kepada Zavier.
Dia maju, bersemangat kala mendorong Kevin, lalu menarik lengan Yasa. "Dokter Dewa, Dokter Dewa benar-benar ada! Maafkan aku, Tony si nggak tahu diri. Aku cuma seekor katak dalam tempurung, terjebak di wawasan rendahku ini! Pak Yasa, tolong terima aku sebagai muridmu. Aku nggak akan lagi melakukan pengobatan modern, aku ingin ikut jejakmu untuk belajar pengobatan tradisional!"
Yasa hanya melambaikan tangan dan berkata, "Ini bukan sepenuhnya pengobatan tradisional. Kamu nggak akan bisa mempelajari keterampilan medisku. Selain itu, aku juga nggak bisa menghidupkan kembali orang mati. Seperti yang kubilang, sebenarnya, akar penyakit Kakek Zavier ada di paru-paru. Ada darah beku dingin menyumbat paru-parunya, berakhir dengan gagal jantung. Sebelumnya, saat aku menepukkan satu telapak tangan, kondisi Kakek Zavier masuk ke situasi mati suri. Sebenarnya, itu proses tubuh dia mengumpulkan kekuatan. Akhirnya, lapisan beku nan dingin itu melalui batuk."
Semua orang yang mendengarkan penjelasan Yasa pun menjadi paham.
Yasa berbalik untuk pergi.
Zavier refleks menarik tangan Yasa dari atas ranjang.
Zavier berkata, "Yasa, Dokter Dewa, kamu telah menyelamatkan hidupku, aku harus berterima kasih pakai api masak. Tunggu sebentar, cucuku akan segera datang, dia pasti akan memenuhi semua permintaanmu."
Yasa ingin menolak, tetapi Zavier tidak mau melepaskannya.
Tidak lama kemudian.
Pintu ruang perawatan didorong terbuka.
Seorang wanita cantik dengan gaun ungu itu berlari masuk.
"Kakek! Bagaimana keadaan kakekku? Kenapa tiba-tiba dia sakit parah!" tanya wanita itu panik.
Yasa berbalik, lalu tertegun ketika melihat wanita itu. "Jenny?" sapanya.