Bab 3
Di luar vila, matahari sedang bersinar cerah!
Yasa menyusuri Jalan Kota Cendana sambil mengamati padatnya lalu lintas hingga hiruk pikuk jalanan. Hatinya lega.
"Huh, akhirnya kembali dari Dunia Kultivasi yang penuh darah dan kekejaman!"
"Karena aku sudah kembali, tentu aku harus merebut kembali harta keluarga Carlo! Aku harus tahu kebenaran dari kematian orang tuaku!"
Yasa pergi ke warnet untuk mencari tahu tentang kejadian tiga tahun lalu di Grup Carlo.
Tiga tahun yang lalu, ada kebakaran aneh yang tiba-tiba terjadi di Gedung Pusat Grup Carlo.
Kedua orang tua Yasa dan lima anggota inti Dewan Direksi ditemukan tewas akibat kobaran api.
Dari seluruh anggota Grup Carlo, hanya Tristan yang selamat dari bencana karena sedang pergi untuk berdiskusi terkait kerja sama.
Namun, pada hari terjadinya kebakaran, Tristan pun mengalami kecelakaan mobil.
Saat ini, dia masih terbaring di rumah sakit dalam kondisi koma dan lumpuh.
Melihat berita ini, Yasa refleks mengepalkan tinjunya.
Jelas, ini bentuk pembunuhan berencana yang nyata!
Setelah kebakaran, Grup Carlo benar-benar lenyap. Sejak saat itu, tidak ada lagi keluarga Carlo di Kota Cendana!
Yasa mengepalkan tinjunya, berbalik, lalu melangkah cepat ke Rumah Sakit Utama Cendana.
Rumah Sakit Pusat, Bangsal Neurologi.
Tepatnya, di kamar VIP untuk satu orang.
Seorang pria paruh baya terbaring di tempat tidur. Jenggotnya berantakan, tubuhnya pun kurus.
Hidungnya dipasangi selang nasogastrik, dibarengi mesin bantu pernapasan yang terus menyala di sampingnya.
Tampak jelas, pria ini sudah tidak bisa makan sendiri. Dia hanya bisa menggantungkan makan yang diberikan melalui selang tersebut. Setiap harinya, dia mengonsumsi makanan cair untuk mempertahankan hidup.
"Paman Tristan!"
Yasa berlutut di samping tempat tidur.
Dulu, pria yang mengisi jabatan sebagai direktur itu dipenuhi semangat dan percaya diri. Dialah sosok elite yang sudah membangun perusahaan dari nol bersama sang ayah.
Kini, pria itu hanya bisa terbaring di sini seraya menunggu ajal menjemput.
Yasa menitikkan air mata.
Dia mengulurkan tangannya, lalu menekan ubun-ubun Tristan.
Lima tahun di Dunia Kultivasi, Yasa telah mempelajari berbagai teknik alkimia, pengobatan, hingga formasi khas Dunia Kultivasi.
"Masih ada harapan! Saraf otaknya cuma menyusut, tapi belum mati. Gumpalan darah di otak sudah diangkat lewat operasi, aku cuma perlu mengaktifkan saraf otak Paman Tristan lagi supaya dia bisa siuman!"
Yasa menghela napasnya penuh kelegaan.
Dia menarik selang dari hidung Tristan, lalu membantunya duduk.
"Eh? Siapa kamu? Apa yang kamu lakukan?" Kevin, yang kebetulan lewat, menangkap aksi ini. Dia buru-buru berlari mendekat!
Dia adalah dokter utama yang menangani Tristan.
Kalau Tristan meninggal, dia akan mengalami masalah.
Kevin ketakutan hingga wajahnya pucat pasi, tetapi masih sempat meraih baju Yasa dan berujar, "Kamu melakukan pembunuhan! Kamu cabut selangnya. Kurang dari sepuluh menit, pasien akan mati lemas dan meninggal."
Yasa mendorong Kevin dengan lembut, begitu percaya diri saat membalas, "Tenang saja, aku adalah keluarga pasien. Aku bisa membuatnya siuman."
"Kamu bercanda! Pasien mengalami kecelakaan, pendarahan otak parah. Meski sudah kami operasi dan gumpalan darah sudah keluar, saraf otaknya telah rusak. Bisa bertahan hidup saja sudah keajaiban. Nggak mungkin dia bisa sadar!" jelas Kevin penuh kesabaran.
Yasa melambaikan tangannya dan berkata, "Tunggu sebentar. Sabar, ya."
Sambil berbicara, Yasa tiba-tiba menepuk puncak titik energi di ubun-ubun Tristan.
Setelah itu, kekuatan spiritual di tubuh Yasa memancar dari telapak tangannya seraya masuk ke otak Tristan.
Bagai hujan lebat di tengah kemarau panjang, kekuatan spiritual itu segera menyirami saraf otak yang penuh.
Tiga menit kemudian.
"Huu ... huu ... huu ..."
Laju napas Tristan mendadak cepat sebelum membuka kelopak matanya keras-keras. Dia mengamati sekitar penuh kebingungan.
"Hah! Wah! Waduh ... waduh, waduh!" seru Kevin, penuh rasa terkejut.
Saat itu, perawat di departemen dan dokter lainnya telah berkumpul di sekitar.
"Dokter Kevin, ada apa? Huaa! Dia sudah sadar, dia sudah sadar!"
"Bukankah pasien sudah divonis nggak mungkin tersadar selamanya?"
"Nggak mungkin. Ini benar-benar mustahil!"
Yasa hanya bisa memasang ekspresi bingung ke arah para petugas medis tanpa pengalaman ini.
Dia melambaikan tangannya seraya berkata, "Kawan-kawan, bolehkah kalian nggak ganggu Paman Tristan dulu? Dia baru saja siuman dan butuh ketenangan."
"Ah, ya, benar! Kalian tenang dulu, ya. Aku juga perlu menenangkan diri. Oh, ya. Aku mau ... aku mau melakukan pemeriksaan kesehatan menyeluruh buat Pak Tristan. Tenang, pemeriksaan ini gratis! Astaga, ini sebuah keajaiban. Kalau ditulis, pasti bisa menjadi sebuah makalah kualitas tinggi!" Kevin begitu bersemangat ketika mengusir mereka untuk pergi.
Sementara itu, di ruang perawatan.
Tristan menarik tangan Yasa penuh kegembiraan. "Yasa, keponakanku ... kamu ... kamu sudah sembuh. Kamu nggak idiot lagi! Baguslah, baguslah! Semoga Langit memberkatimu!"
Yasa menepuk tangan Tristan, lalu bertanya, "Paman Tristan, sebenarnya, apa yang terjadi tiga tahun lalu? Mengapa perusahaan mendadak terbakar? Siapa pelakunya?"
Tristan sontak tersadar dan langsung berkata, "Yasa, dengarkan aku! Sekarang juga, cepat-cepat tinggalkan Negara Senapati dan bawa tunanganmu, Shina. Cepat pergi ke luar negeri dan milikilah seorang anak dengannya!"
Yasa mendengarkan arahan tersebut sambil memasang wajah bingung.
Pergi ke luar negeri dan memiliki seorang anak dengan Shina? Wanita itu saja menganggap dirinya bak anjing!
Dia tidak sudi memiliki anak dari Shina.
Tristan tampak gugup saat melanjutkan, "Cepatlah. Jika terlambat, semua akan sia-sia. Basuki mustahil membiarkan kamu buat pergi."
Yasa menyadari sesuatu. Karena itu, dia menggenggam tangan Tristan dan bertanya, "Paman Tristan, maksud kamu, semua ini dilakukan Basuki? Dia yang bunuh orang tuaku dan membakar perusahaan?"
Tristan mengangguk. Dengan tegang, dia menjelaskan, "Ya, dia pelakunya! Entah bajingan ini telah berpihak ke siapa, sekarang, dia punya banyak pengikut. Bukan cuma membakar perusahaan, membunuh orang tuamu, dan anggota Dewan Direksi, dia juga membunuh banyak tulang punggung perusahaan! Aku juga disingkirkan dia."
"Basuki!" seru Yasa, tinjunya terkepal erat-erat. Hasrat membunuhnya pun terpancar. "Ayahku pernah menyelamatkan nyawanya! Ayah juga berbaik hati menampungnya sebagai Eksekutif Perusahaan dan kasih gaji besar buat dia. Siapa sangka, dia malah melakukan hal memuakkan begini! Biar kubunuh dia sekarang juga!"
"Yasa, jangan sekali-kali bertindak dengan gegabah! Kamu harus menikah dan punya anak lebih dulu. Kamu harus meninggalkan keturunan buat keluarga Carlo, itu harapan terbesar orang tuamu!" Tristan sangat khawatir jika Yasa membahayakan dirinya sendiri.
Pada saat itu, pintu ruang perawatan didorong dengan keras.
Kevin berlari masuk dengan terburu-buru.
"Dokter Dewa, Dokter Dewa, apakah kamu masih di sini?"
Melihat Yasa, Kevin mencengkeram leher Yasa dan berkata, "Dokter Dewa, tolong ikut aku menemui pasien. Dia akan segera meninggal. Bisakah kamu menemukan cara lain untuk menyelamatkannya?"
Yasa mengerutkan keningnya dan menegaskan, "Nggak mau. Mengobati penyakit menguras energiku. Aku nggak ada kewajiban buat mengobati orang asing."
Kevin bersikeras bicara, "Zavier adalah pengusaha dan dermawan terkenal di Kota Cendana. Kalau kamu benar-benar bisa menyembuhkannya, dia pasti akan memberi imbalan besar kepadamu."
Baru saja Yasa ingin menolak.
Di sebelahnya, Tristan tertegun sejenak dan berkata, "Apakah itu Zavier? Bukankah keadaannya sehat? Toh, Zavier itu seorang seniman bela diri yang hebat. Mana mungkin kondisinya mendadak akan meninggal, sih?"
Kemudian, Tristan menoleh pada Yasa dan berkata, "Yasa, pergi dan lihatlah. Zavier juga bisa dianggap teman lama ayahmu. Dulu, grup kita dan keluarga Yahya banyak melakukan transaksi. Zavier adalah orang baik."