Bab 2
Yasa benar-benar malas menghiraukan wanita jahat ini.
Dia mendorong Jenny dengan keras, melepas pakaiannya, lalu mulai membilas kotoran di tubuhnya.
Emosi Jenny memuncak.
Wanita itu tidak menyangka, Yasa si bodoh berani sekali mendorong dirinya!
Jenny meninggalkan kamar mandi, lalu pergi ke ruang tamu untuk mengambil cambuk.
Shina pernah berkata, asalkan dia mengangkat cambuk, Yasa si anjing bodoh pasti ketakutan dan gemetar!
"Aku akan membunuhmu, anjing sialan!" Jenny menggenggam cambuk, lalu berjalan kembali ke kamar mandi.
Di kamar mandi.
Yasa sudah selesai mandi.
Usai Yasa mengonsumsi Pil Pembersih Sumsum, semua organ dalamnya langsung bersih. Bekas luka di kulitnya juga mengelupas, bahkan otot-ototnya terlihat proporsional dan kencang. Seluruh tubuhnya tampak seperti diolesi krim putih. Halus dan licin, tetapi masih dipenuhi aura maskulinitas!
Kini, wajah tampannya terlihat makin muda dan berdimensi, dibarengi hidung yang mancung dan sepasang mata yang dalam bagaikan lautan.
"Kamu ..."
Jenny tertegun sejenak.
Dia tidak menyangka, Yasa sungguh tampan!
Kemudian, wajah Jenny seketika bersemu, malu sekaligus marah. "Aku benar-benar gila! Bisa-bisanya kuanggap si idiot ini tampan! Lagi pula, dia adalah suami sahabatku, Shina! Dia adalah anjing pengikut Shina!"
Jenny mengangkat cambuk di tangannya, lalu memukul Yasa keras-keras. "Anjing, berlutut di depanku!" umpatnya.
Plak!
Yasa menangkap cambuknya dengan satu tangan.
Jenny tertegun.
Yasa tiba-tiba menariknya.
Jenny merasakan kekuatan besar dari cambuk yang tidak bisa dia kendalikan. Tubuhnya pun tersungkur.
Brukk! Terdengar suara Jenny berlutut di depan Yasa.
Yasa menundukkan kepala, mengamati wanita cantik berhati ular berbisa ini dengan tatapan dingin.
"Aku nggak ada dendam atau api permusuhan denganmu. Kamu sudah memukul dan menghinaku, masih kumaafkan. Tapi, kamu malah ingin membunuhku pakai racun! Kamu cari masalah, ya!"
Yasa mencengkeram leher Jenny.
Jenny berjuang dengan keras. Dia melihat Yasa penuh ketakutan hingga gemetar. "Kamu ... kamu bisa bicara! Kamu pura-pura bodoh sebelumnya! Kamu sangat licik, kamu ..."
Jenny masih ingin melanjutkan pembicaraan.
Namun, sekarang, hilang sudah kesabaran Yasa.
Meskipun wanita ini menjengkelkan, penampilannya tetap menawan. Terlebih lagi, kondisinya baru saja mandi, terlihat makin menggoda.
Jadi, dia langsung menggaulinya dengan kasar.
Jenny masih ingin menjelaskan saat pusing seketika menderanya.
Setengah jam kemudian.
Yasa melepaskan Jenny.
Dia mengernyitkan dahi begitu melihat sebercak darah di samping bak mandi.
Yasa tidak menyangka, ini menjadi yang pertama bagi si wanita jahat.
Situasi ini membuat kemarahan Yasa jauh lebih mereda.
Yasa menunduk untuk melihat Jenny, lalu berkata, "Perihal racun yang kamu beri padaku, kita anggap selesai."
"Pergi! Pergi sana!" teriak Jenny sambil menangis. Air mata jatuh ke dadanya, lalu mengalir ke noda darahnya.
Jenny benar-benar tidak menyangka, kesuciannya telah direnggut oleh suami sang sahabat.
Yasa melihat sekilas kondisi Jenny yang berantakan tanpa memedulikannya.
Dia asal mengambil jubah panjang, memakainya, lalu berlalu pergi untuk meninggalkan vila.
Kring, kring, kring ...
Terdengar dering telepon.
Jenny menahan sakit sekuat tenaga seraya meraih ponsel. Matanya menangkap panggilan masuk dari sahabatnya, Shina.
"Jenny, suamiku berguna nggak? Hehe," tanya Shina sambil tertawa.
Mendengar kata-kata ini, Jenny marah sekaligus malu. Penuh amarah, dia berkata, "Berguna atau nggak, kamu sendiri yang tahu! Huh!"
Setelah bicara, Jenny menutup telepon!
Di sisi lain, Shina memegang ponsel dengan ekspresi bingung.
Dia cemberut dan menggumam, "Apa, sih! Aku baik hati meminjamkan Yasa padamu untuk melampiaskan kemarahan, tapi kamu justru marah padaku!"
Shina melemparkan ponselnya ke sembarang arah.
Tubuhnya sudah telanjang sambil berbaring nyaman di sofa. Refleks, dia berteriak, "Yasa! Yasa, cepat kemari. Pijat kakiku, kamu ..."
"Oh, benar. Sudah kuberikan pada Jenny, ya."
"Aduh. Tanpa keberadaan si anjing, rasanya agak kurang terbiasa, ya!"
Terlukis sekilas gurat ketidakpuasan di wajah Shina si cantik.
Dia bergumam, "Tunggu sampai aku mendapatkan anjing itu kembali, aku akan main-main yang baik sama dia. Hmm, aku juga akan kasih dia sedikit makanan enak karena aku mendadak sadar sekarang, hidup tanpa dia memang kurang seru ..."
...