Bab 1
"Yasa! Yasa! Dasar anjing, di mana kamu? Cepat kemari dan gosok punggungku!"
Dari bak mandi, Shina menghina dengan teriakan lantangnya.
Wanita yang berbaring di samping Shina adalah sahabatnya, Jenny.
Dua wanita ini sedang berendam di bak mandi hangat. Empat kaki jenjang yang putih dan halus itu pun tampak sibuk memercikkan air dalam bak.
Bukan hanya sahabat, mereka dikenal juga sebagai Dua Dewi Cendana. Keduanya baru saja menerima penghargaan Sepuluh Pengusaha Wanita Terbaik Cendana!
Mendengar Shina berteriak, Jenny buru-buru mendorongnya. "Shina, kamu gila, ya! Aku masih di sini! Kamu meminta suamimu gosok punggungmu, bagaimana denganku?"
Shina mengangkat tangannya acuh tak acuh. "Suami apanya, sih? Si idiot ini hanya seekor anjing penurut di mataku. Memang apa masalahnya kalau kamu dilihat oleh seekor anjing?"
Pada saat itu, pintu kamar mandi didorong hingga terbuka.
Yasa, yang berpakaian compang-camping, masuk dengan pel lantai di tangannya. Wajahnya dihiasi senyuman bodoh, penuh usaha untuk menyenangkan istrinya.
Dia baru selesai membersihkan toilet, membuat tubuhnya berbau masam dan tidak sedap. Ketika kakinya menginjak lantai kamar mandi, dia meninggalkan jejak kotor di sana.
Melihat Yasa begitu berantakan, Shina tiba-tiba berdiri, meraih cambuk kulit di sampingnya, lalu dia ayunkan dengan keras.
Plak! Plak, plak, plak!
Empat cambukan berturut-turut.
Wajah dan punggung Yasa seketika diwarnai luka berdarah.
Pakaian yang sudah compang-camping itu makin hancur menjadi potongan-potongan kain.
"Dasar anjing. Kamu nggak paham kalau harus lepas sepatu sebelum masuk kamar mandi, ya! Aku sudah memelihara kamu selama tiga tahun, tapi aturan begitu saja masih nggak paham!" Plak! Plak! Plak!
Sekali lagi, terdengar tiga cambukan.
Darah mengalir deras di wajah Yasa yang tampan sekaligus bodoh itu.
Setelah mengisap rokoknya, suasana hati Shina perlahan membaik.
Dia segera berbaring di kasur udara yang ditaruh di samping bak mandi seraya berkata, "Ayo, ke sini. Gosok dan pijat punggungku."
Yasa masih tersenyum bodoh. Dia berjalan ke belakang Shina dan memijat dengan hati-hati.
Dia menatap kosong. Menghadapi dua wanita cantik yang telanjang di depannya, tidak ada sedikit pun gelombang emosi yang dia perlihatkan.
Jenny tersenyum dan bertanya, "Shina, kamu nggak cari suami dan cuma ingin cari budak, 'kan?"
Shina menikmati pijatan Yasa, begitu bangga saat berkata, "Tiga tahun yang lalu aku menikah sama dia cuma buat rebut harta keluarga Carlo. Awalnya, setelah memanfaatkan orang bodoh ini, kakekku berencana membuangnya ke padang pasir, membiarkannya mati sendiri. Tapi, aku sadar, kalau kuperlakukan dia seperti anjing, itu jauh lebih menyenangkan! Hehe. Setiap kali perasaanku nggak baik-baik saja, aku bisa memukulnya beberapa kali atau mengulurkan kakiku agar dia menjilatinya, terus suasana hatiku segera membaik."
Jenny menghela napas setelah mendengar hal itu. Dia bergumam, "Aku benar-benar iri sama kamu. Sekarang, kamu punya keluarga besar yang bisnisnya sukses. Kamu punya seorang suami idiot yang bisa dijadikan pelampiasan. Kini, keadaanku sedang tertekan. Kakek lagi sakit parah, perusahaan sedang sulit, aku juga nggak bisa dapat seseorang buat meluapkan emosiku."
Shina tertawa geli dan berkata, "Kalau gitu, kupinjamkan Yasa buat dimainkan kamu beberapa hari. Kamu boleh siksa dia sesuka hati atau dibunuh juga nggak apa-apa."
"Benarkah?" Mata Jenny berbinar penuh niat jahat.
Tidak lama kemudian.
Jenny kembali ke Graha Lintang bersama Yasa dan sebuah cambuk.
Dia masuk ke vila miliknya.
Jenny duduk di sofa dengan kaki tersilang. "Berlututlah dan pijat kakiku," perintahnya pada Yasa.
Yasa mematuhi perintahnya.
Dia memijat kaki Jenny dengan kedua tangannya.
Jenny tersenyum lembut. "Teknik pijatnya memang kelewat mahir, Shina mengajarimu dengan baik. Dulu, keluarga Carlo adalah orang terkaya pertama di Kota Cendana. Kamu, adalah Tuan Muda dari keluarga Carlo sekaligus pria paling tampan di Kota Cendana. Sekarang, malah diperbudak menjadi anjing. Nggak disangka, ya."
Yasa masih tersenyum bodoh. Telapak tangannya memberi pijatan-pijatan lembut di paha Jenny.
Ada sedikit keanehan yang Jenny rasakan.
Yasa kira, Jenny tidak puas. Jadi, dia meningkatkan intensitas pijatannya.
"Aduh!"
Jenny merasakan sensasi menggoda bercampur senang, bagai sergapan asam di tengah ramainya manis. Ada rasa hangat dan gatal yang mulai menjalar dari perutnya.
Namun, rasa itu sontak menjadi malu dan kesal. Wajah Jenny sudah merah padam ketika dia mengangkat kaki untuk menendang perut Yasa dengan keras. Dukk! Bunyi tendangan langsung menggema.
"Hei, anjing! Siapa yang mengajarkanmu cara menggoda seperti ini, hah! Duduk di sana!"
Yasa tidak punya kesadaran diri sedikit pun. Dia hanya duduk dengan patuh.
Jenny bangkit untuk mengambil sebotol pil warna putih dari kamar tidurnya.
Dia berjalan ke sisi Yasa dan berkata, "Ini obat terbaik di dunia untuk mengobati serangan jantung, tapi belum berhasil dikembangkan, hanya pernah diuji pada monyet. Beruntung, kamu bisa menikmatinya lebih awal."
Jenny memasukkan tiga pil ke mulut Yasa.
Yasa bersusah payah menelan pil obat itu.
Ugh! Usai mengeluarkan suara itu, Yasa seketika memuntahkan semuanya.
Muntahan semulut penuh itu langsung menyemprot ke rok dan dada Jenny.
"Ah! Kamu makhluk memuakkan! Nggak lihat-lihat muntah ke mana, ya!" Jenny sangat mual, bahkan nyaris muntah.
Dia mengangkat cambuk, lalu memukulkannya ke arah Yasa.
Setelah mencambuk Yasa lebih dari sepuluh kali, Jenny menghentikan gerakannya.
Dia mencium bau tidak sedap dari dadanya. Merasakan lendir di sana, Jenny buru-buru berlari menuju kamar mandi.
Berdiri di bawah pancuran, Jenny berulang kali mengoleskan sabun mandi.
Namun, muntahan Yasa serasa masih melekat di dadanya.
Sementara itu, di ruang tamu.
Yasa terbaring di lantai. Tubuhnya dipenuhi bekas cambukan.
Dia kembali muntah beberapa kali.
Akhirnya, sebuah manik giok sebesar ibu jari dimuntahkan dari mulutnya.
Detik berikutnya.
Kepala Yasa seketika terasa nyeri!
Dia terlihat kebingungan saat membuka mata, lalu mengamati sekelilingnya.
Kemudian, seluruh pengalaman bodohnya lima tahun ke belakang langsung melintas di matanya.
"Lima tahun lalu, aku menelan Mutiara Jiwa Misterius, membuat jiwaku melintas ke dunia lain."
"Sudah lima tahun jiwaku berkelana, diriku di Bumi ikut terjebak lima tahun lamanya dalam kebodohan!"
"Ternyata, Ayah, Ibu, dan para eksekutif perusahaan sudah meninggal dalam sebuah kebakaran besar tiga tahun lalu. Setelah itu, keluarga Carlo tercerai-berai!"
"Demi merebut harta keluarga Carlo, Shina memutuskan untuk menikah denganku tiga tahun lalu. Dia memanfaatkan status menantunya dan lebih dari setengah harta keluarga Carlo sudah dia ambil sekarang."
"Tiga tahun ini, Shina sering memukul dan mempermalukanku di mana-mana. Hari ini, dia memperlakukanku layaknya anjing, lalu mengirimkanku pada sahabatnya yang perlu dihibur."
"Perlakuan sahabatnya, Jenny, lebih buruk lagi. Dia memaksaku menelan racun!"
"Tapi, berkat racun yang dia masukkan ke mulutku, Mutiara Jiwa Misterius ini bisa aku muntahkan dan jiwaku berhasil kembali ke Bumi dari Dunia Kultivasi!"
Yasa menunduk, lalu mengambil manik giok di hadapannya.
Manik ini bernama Mutiara Jiwa Misterius.
Lima tahun lalu, Yasa memperoleh manik ini secara kebetulan dan menelannya tanpa sengaja. Karena itu, jiwanya melintas ke Dunia Kultivasi untuk berlatih.
Hingga dia memuntahkan manik giok tersebut.
Akhirnya, Yasa bisa kembali!
"Huh! Kembali juga! Tubuhku, tiga tahun disiksa Shina malah penuh luka begini! Wanita sialan!"
"Mutiara Jiwa Misterius berfungsi sebagai ruang penyimpanan. Sebelumnya, di Dunia Kultivasi, aku menyimpan Pil Pembersih Sumsum dan Pil Penghancur Kekuatan dalam Mutiara Jiwa Misterius. Entah bisa aku keluarkan di Bumi atau nggak, deh."
Yasa menggenggam Mutiara Jiwa Misterius seraya memejamkan mata, lalu memfokuskan hati dan pikirannya.
Whoosh, whoosh! Entah dari mana, tepat pada detik berikutnya, dua pil obat hadir di tangan Yasa.
"Ternyata, Pil Pembersih Sumsum dan Pil Penghancur Kekuatan bisa diambil! Keren banget! Bisa semudah itu buatku menjadi Superman di Bumi pakai kedua pil ini!"
Tanpa ragu, Yasa langsung menenggak kedua pil itu dan duduk bersila untuk menyerapnya!
Lima menit kemudian.
Selama proses penyerapan Pil Pembersih Sumsum, Yasa mengeluarkan lapisan kotoran darah yang tebal dari semua pori-pori tubuhnya!
Sepuluh menit kemudian.
Titik pusat energi Yasa mendadak nyeri sebelum energi spiritual yang kuat mengalir cepat antara titik pusat energi dan Dua Belas Meridian!
"Huh! Periode Pemurnian Kekuatan, berhasil!"
Yasa seketika terlonjak hingga berdiri.
Mencium bau busuk dari tubuhnya, Yasa hanya menggelengkan kepalanya.
Dia berjalan cepat menuju kamar mandi.
Di kamar mandi, Jenny masih berusaha menggosok dadanya keras-keras.
Melihat Yasa memasuki kamar mandi dengan mendorong pintu.
Jenny refleks berteriak, "Ah!".
"Dasar anjing! Siapa yang membiarkanmu masuk, hah? Keluar sekarang juga!" teriak Jenny penuh amarah.