Webfic
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 8

Penyakit Selvin membuatnya ingin minum darah dan sangat agresif. Sangat berbahaya jika membiarkan Karen sendirian di dalam bangsal! Albert maju dan berkata dengan khawatir, "Dokter, kamu nggak tahu. Penyakit anakku sangat rumit ...." Karlo juga tidak setuju. "Ya, kalau dia menyerangmu, kamu nggak akan bisa melawannya." Sekalipun Sandi lihai di bidang kedokteran, Sandi hanya seorang wanita lemah! Karen terus menatap Selvin. Dia menggelengkan kepala dan berkata, "Nggak apa-apa." Karlo ingin membujuk Karen lagi, tetapi Karen mengangkat tangan dan menghentikannya. Karen menoleh pada Karlo. "Percayalah padaku." Tatapan mata Karlo membeku sejenak. Dia memahami sifat Sandi lebih dari siapa pun. Tidak mudah untuk bisa mengubah keputusannya. Akan tetapi, Karlo tetap menasihatinya, "Oke, berhati-hatilah. Aku tunggu di luar. Panggil saja kalau ada apa-apa." Di mata Karlo, tidak ada hal yang lebih penting dari keselamatan Sandi. Karen tahu Karlo hanya mengkhawatirkannya. Dia mengangguk dan mengisyaratkannya untuk jangan khawatir. Albert merasa tidak berdaya. Dia hanya bisa menoleh pada Selvin dan berkata, "Kontrol dirimu, jangan menyakitinya!" Albert merasa sangat khawatir. Albert dan Karlo meninggalkan bangsal sambil menoleh ke belakang sesekali. Begitu pintu ditutup, Karen menoleh pada Selvin. Selvin menghardik dengan suara dingin, "Kamu juga keluar!" Selvin mengepalkan tangan dengan erat dan urat nadi di keningnya menonjol. Dia jelas sedang berusaha menahan sesuatu. Tidak masalah jika ramai, tetapi hanya ada Karen sendiri sekarang. Aroma darahnya yang wangi dan manis terus menggodanya. Terutama leher Karen yang putih, membuat Selvin ingin menggigitnya dengan kuat! Karen sama sekali tidak takut. Sebaliknya, Karen duduk dengan santai di sofa di samping. Karen menatap Selvin dengan tenang dan berujar, "Hanya aku yang bisa menyembuhkan penyakitmu. Kamu yakin mau menyuruhku keluar?" "Kamu haus darah dan tubuhmu sulit mengendalikan rasa haus itu. Kamu menjadi emosi dan mudah tersinggung, bahkan bisa menyakiti orang lain." "Selera makanmu juga berkurang perlahan. Sekarang, kamu nggak bisa makan dengan normal lagi." Selvin menoleh pada Karen dengan kaget. Apa yang Karen katakan itu benar! Sekarang, Selvin hanya bisa mengandalkan larutan nutrisi untuk mempertahankan fungsi tubuhnya. Detik berikutnya, Selvin tersadarkan dan mencibir. Dia menatap Karen sembari mengejeknya, "Kamu bisa mengetahui gejala-gejalaku ini dari ayahku. Kenapa aku harus memercayaimu?" Karen meletakkan siku pada sandaran tangan sofa dan menumpu kepalanya. Dia memiringkan kepala dan mengangkat alis saat menatap Selvin. "Kalau begitu, aku sebutkan gejala yang orang lain nggak tahu!" Selvin menyeringai dan tidak menganggapnya serius. Dokter ini hanya seorang wanita, apa kemampuannya? Dokter ini tidak mungkin mengetahui gejala yang tidak diketahui oleh orang lain. Hanya saja, apa yang Karen katakan berikutnya membuat ekspresi Selvin membeku. "Kamu impoten, 'kan?" Tatapan Karen tertuju pada Selvin. Selvin memahami maksudnya lebih dari siapa pun. Seketika, wajah Selvin masam. Wanita ini tahu tentang penyakit yang malu untuk disebutkannya ini? Tidak ada dokter lain yang tahu. Hanya dia sendiri yang tahu! Selvin menatap Karen sambil mengernyit. Dia tidak tahu harus berkata apa. Karen tersenyum. Dia berkata lagi, "Hanya itu gejalamu saat ini. Perlahan-lahan, kamu akan menyadari tubuhmu menjadi mati rasa, bahkan kaku." Karen dengan tenang memberitahukan apa yang akan terjadi setelahnya. Hati Selvin diselubungi hawa dingin karena dia benar-benar merasa mati rasa dari waktu ke waktu, tetapi hilang setelah beberapa saat. Dia mengira itu karena posisi tubuhnya tidak tepat .... Jika dipikirkan lagi, posisi tubuhnya juga sama pada sebelumnya. Pada akhirnya, dia akan mati dalam kondisi lumpuh. Karen dapat menyebutkan semua itu, jelas bahwa dia memiliki banyak pemahaman tentang penyakit itu. Selvin menarik napas dalam-dalam. Kekesalan dalam hatinya makin kuat. Selvin tertegun sejenak. Lalu, dia menatap Karen dan bertanya, "Kamu benar-benar bisa menyembuhkanku?" Alhasil, Karen menggelengkan kepala. Karen berterus terang, "Aku nggak yakin, hanya bisa mencobanya." Selvin kehabisan kata-kata. Selvin tertawa geli. "Jadi, kamu datang untuk melawak?" Wanita ini menyebutkan sejumlah gejalanya, lalu mengatakan dia tidak yakin bisa menyembuhkannya? Apakah wanita ini sengaja datang untuk mempermalukannya? Karen mengangkat alis. "Sekarang kamu bergantung pada infus setiap hari, tapi juga nggak bisa mengontrol diri sepenuhnya. Seenggaknya, aku bisa membuatmu mengontrol diri. Bisa disembuhkan secara total atau nggak, tergantung kondisi tubuhmu nanti." Melihat Selvin menjadi tenang, Karen meneruskan, "Aku akan memberimu terapi akupunktur selama beberapa hari, lalu gejalamu akan hilang. Tapi aku nggak akan melawan hati nuraniku dan mengatakan kamu sudah sembuh." Selvin tercengang lagi. Tatapan matanya saat melihat Karen agak kompleks. Bibirnya yang terkatup rapat sedikit dibuka, tetapi ragu untuk berbicara. Karen tidak menggubrisnya. Dia menambahkan, "Kalau kamu setuju dengan terapi akupunktur, aku mulai sekarang." Tatapan mata Selvin suram. Dia berusaha keras menekan keresahan dalam hatinya. Saat ini, apa salahnya untuk mencoba? Lagi pula, dia akan mati pada akhirnya. Bagaimana jika bisa sembuh? Setelah waktu yang lama, Selvin menjawab, "Oke." Karen tidak bertele-tele. Karen langsung maju dan mencabut jarum di tangan Selvin. Lalu, Karen mengeluarkan sebuah kantong kain hijau dari dalam tas dan membukanya. Itu adalah kain persegi panjang yang berat dan tebal. Ada sederet jarum perak yang beragam dan tersusun secara rapi. Sinar matahari yang masuk dari jendela menyinari jarum perak dan memantulkan cahayanya. Karen mengambil sebatang jarum perak sepanjang 10 cm. Tangan Selvin yang mencengkeram selimutnya mengepal tanpa sadar. Karen menyeringai dan meledeknya, "Kamu takut jarum?" Ekspresi Selvin makin masam. Dia memalingkan tatapan dan mengeyel, "Siapa yang takut? Cepat tusuk!" Senyuman menghiasi mata Karen. Dia memberi perintah, "Buka baju." Selvin tidak memberi tanggapan, tetapi dengan cepat melepas bajunya. Otot di sekujur tubuhnya menegang, mungkin karena berusaha menekan keresahan di hatinya. Karen mengusap punggung Selvin dengan jarinya. "Rileks, jangan ditahan. Pejamkan matamu dan tarik napas dalam-dalam." Tubuh Selvin tiba-tiba menjadi lebih kaku! Tangan wanita yang lembut itu membuat tubuhnya merinding. Belum pernah Selvin memiliki kontak fisik seperti itu dengan seorang wanita. Hal itu terasa sangat aneh baginya. Akan tetapi, Selvin takut Karen akan menyadarinya. Selvin buru-buru memejamkan mata dan berusaha keras untuk mengontrol diri. Dia perlahan menjadi rileks. Selvin mengeluarkan erangan yang tertahan ketika jarum ditusukkan ke dalam tubuhnya! Rasa sakit dahsyat yang menjalar dari kulit ke setiap tulangnya membuat Selvin memejamkan mata tanpa sadar. Karen menatap Selvin dengan kaget. Dia tidak menyangka Selvin akan begitu tangguh. Pria sejati pun akan mengerang kesakitan ketika ditusuk jarum, tetapi Selvin bisa menahan erangannya. Cih, lumayan. Karen tidak lagi memikirkan hal lain dan menusukkan jarum lagi. Kecepatannya makin cepat. Suara erangan yang tertahan di kamar itu juga terus berlanjut .... Satu jam kemudian. Karen akhirnya berhenti. Dia menggerakkan lehernya yang kaku dan berdiri untuk merengangkan tubuh. Melihat kepala Selvin bermandikan keringat, Karen bertanya dengan suara pelan, "Bagaimana perasaanmu sekarang?"

© Webfic, hak cipta dilindungi Undang-undang

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.