Webfic
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 7

Charles termangu. Dia mulai cemas. Jika Marsel tidak dibutuhkan, Keluarga Ketaren tidak akan berutang budi padanya dan kerja sama yang dia inginkan akan sulit diperoleh. Charles melirik Albert yang berwajah cuek. Dia tersenyum saat berkata, "Paman Albert, Dokter Marsel sudah datang. Biar dia periksakan saja? Lebih banyak dokter yang mendiagnosis penyakitnya, lebih baik untuk Tuan Muda Selvin." Dia tidak bisa pulang tanpa hasil. Dia telah berupaya keras untuk mengundang Marsel! Albert sedikit jengkel. Dia akhirnya berhasil mengundang dokter ajaib itu. Jika dokter ajaib itu datang dan melihat ada dokter lain di sini .... Bukankah itu akan mengacau semuanya? Tatapan mata Albert terhadap Charles menjadi lebih cuek, tetapi masih memikirkan hubungannya dengan Keluarga Luminto. Albert menolak, "Nggak perlu, dokter yang aku undang saja sudah cukup." Marsel berdiri di sana dengan ekspresi masam. Sebelumnya, selalu orang lain yang memohonnya untuk berpraktik. Marsel menyeringai pada Charles. "Tuan Muda Charles mengundangku tanpa memahami situasinya. Tuan Muda Charles mengira aku adalah orang yang bisa diperintahkan seenaknya?" Ekspresi Charles berubah. Dia ingin mengatakan sesuatu lagi, tetapi Marsel mengentakkan tangannya dan menghardik dengan suara dingin, "Jangan cari aku lagi!" Marsel berbalik badan dan berjalan keluar. Albert menatap sosok punggung Marsel dengan ekspresi mata dingin. Orang picik seperti itu adalah dokter terkenal? Wajah Charles makin masam. Sebagai pewaris Keluarga Luminto, dia selalu disanjung ke mana pun dia pergi. Lupakan tentang Albert. Meskipun Marsel memiliki ketenaran, Marsel hanya seorang dokter tanpa latar belakang. Sombong sekali Marsel? Bukankah Marsel tidak menghargainya? Melihat situasi itu, Yuri tahu kesempatannya sudah tiba. Yuri bergegas maju untuk mengadang Marsel dan menjelaskan, "Maaf, Dokter Marsel, bukan itu maksud kami ...." Marsel langsung memotong perkataan Yuri. "Maaf, kalian tidak menghormatiku. Masalah hari ini akan kuingat!" Yuri juga tidak menyangka keadaan akan menjadi seperti itu. Dia memprotes, "Mana bisa dia begitu? Sekalipun belum memeriksa pasien, dia sudah kita bayar!" Yuri memprotes untuk Charles. Bahkan jika merasa jengkel, Charles tidak berani mengungkapkan kemarahannya di depan Albert. "Nggak apa-apa, Yuri. Itu hanya masalah sepele." Yuri menatap Charles dengan sedih dan mengembuskan napas. Dia tidak bersuara lagi. Albert memalingkan tatapan dan memerintahkan Norman, "Jemput mereka." Albert mengabaikan Charles dan Yuri, lalu berbalik badan dan pergi ke lift. Charles berdiri di tempatnya sambil mengernyit. Kejengkelannya terhadap Keluarga Ketaren sudah memuncak. Dia sudah membawakan seorang dokter, tetapi Albert tidak memberinya kesempatan untuk memeriksakan pasien, bahkan meninggalkannya untuk menjemput seseorang! Yuri memegang ujung baju Charles seraya memanggil dengan suara lembut, "Kak Charles ...." Charles menggenggam tangan Yuri. Ketika Charles ingin berbicara, pintu lift di ujung terbuka. Charles menoleh ke sana dan melihat ada dua orang keluar dari lift. Charles dan Yuri tercengang! Karen? Tatapan mata Charles menjadi dingin! Ternyata, Karen hanya berpura-pura putus dengannya dan menggunakan cara lain untuk mengganggunya. Charles paling tidak suka Karen mengacau di saat dia sedang menangani urusan penting. Karen lumayan pengertian pada sebelumnya, tetapi mengapa sekarang makin menjadi-jadi? Namun .... Tebersit keterkejutan di mata Charles. Sebelumnya, Charles tidak melihat penampilan Karen dengan jelas dari dalam mobil. Sekarang .... Karen berdandan dan memakai gaun sabrina pendek. Badan Karen ... ternyata begitu seksi? Yuri yang memperhatikan Charles dari samping merasa emosi! Tatapan mata Charles terhadap Karen persis seperti saat Charles melihatnya memakai pakaian dalam seksi waktu itu! Hari ini, Karen memang jauh lebih cantik dari sebelumnya! Jangan-jangan Karen datang untuk menggoda Charles lagi? Dasar wanita sialan! Karen sudah putus dengan Charles, tetapi masih mengganggu Charles. Apakah Karen sudah gila? Karen bahkan berpakaian dengan seksi! Dasar wanita sialan! Akan tetapi ... siapa pria di samping Karen? Tatapan mata Yuri yang jengkel tiba-tiba menjadi girang. Jangan-jangan Karen sengaja datang bersama pria lain untuk memprovokasi Charles? Apakah Karen tidak tahu Charles paling tidak suka wanita yang berhubungan tidak jelas dengan pria lain? Cih .... Yuri mendekati Charles dan berujar dengan ragu, "Kak Charles, apa mungkin Kakak keliru sampai cari pria itu ...." Charles sudah memperhatikan pria di samping Karen yang tampak tidak biasa. Wajahnya sangat masam. Sebelum Charles bisa memikirkannya, Albert berjalan ke sana sambil tersenyum dan mengulurkan tangan. "Tuan Muda Karlo akhirnya datang." Karlo menjabat tangan Albert seraya tersenyum. Tangan Albert sedikit gemetar. Karen tidak bersuara. Sikap Albert terhadap Karlo membuat Charles dan Yuri bingung. Siapa pria ini? Bahkan bisa membuat Albert bersikap seperti itu dan Karen mengenalnya? Yuri mengepalkan tangan dengan erat. Mengapa Karen selalu menjumpai pria yang unggul? Sambil berjabat tangan, Albert menengok ke belakang Karlo, seperti menantikan seseorang. Akan tetapi ... hanya ada seorang wanita di isi Karlo, tidak ada orang lain. Albert sedikit gelisah. Albert bertanya dengan waswas, "Tuan Muda Karlo, apakah senior itu sudah sampai?" Karlo langsung menoleh ke arah Karen. Lalu, dia tersenyum misterius pada Albert. "Tentu saja sudah sampai." Setelah itu, Karlo memperkenalkan Karen kepada Albert. "Ini dia." Albert dan Norman serempak menoleh pada Karen. Wanita itu cantik dan memiliki wibawa yang kuat. Akan tetapi .... Wanita tersebut adalah senior itu? Albert dan Norman terbengong di tempat. Apakah ini candaan? Sandi adalah seorang wanita dan masih begitu muda? Putranya sakit parah. Mana bisa dijadikan candaan? Albert menoleh pada Norman dan bertanya menggunakan isyarat mata apakah pria itu adalah Karlo. Norman langsung mengangguk. Karlo terkenal akan wajahnya yang tampak masih belia. Mata Albert berkedip. Pada akhirnya, dia menarik napas untuk menenangkan diri. Selama itu adalah Karlo, orang yang datang bersamanya pasti tidak bermasalah. Albert menyimpan keheranan dalam hatinya. Dia menatap Karlo seraya tersenyum lebar dan berkata, "Maafkan mataku yang tua ini. Nggak nyangka Senior masih begitu muda. Mari masuk!" Albert segera minggir dan mengucapkan terima kasih, "Terima kasih banyak Senior bisa datang kali ini! Putraku selamat!" Karen mengangguk dengan kalem. "Pak Albert terlalu sungkan. Aku lihat kondisinya dulu." Karen tidak akan membuat janji kosong sebelum bertemu pasien. Albert berujar dengan acuh tak acuh, "Kalau Senior turun tangan, aku yakin nggak akan ada masalah!" Hal itu disaksikan oleh Charles dan Yuri. Mata mereka penuh dengan keterkejutan! Itu! Itu mustahil! Karen yang tidak bisa apa-apa malah diperlakukan dengan terhormat oleh presdir bodoh itu. Apakah dia gila? Tanpa berpikir panjang, Yuri menoleh pada Charles dan bertanya dengan cemas, "Kak Charles, dokter yang Pak Albert bilang itu adalah Kakak?" Charles mengernyit dan merapatkan bibirnya. Dia juga sangat kebingungan. "Kakak terlalu sembrono." Yuri mondar-mandir di tempat dengan cemas. "Ini masalah nyawa. Kalau terjadi apa-apa, Kakak akan melibatkan Ayah dan Kakak juga terkena masalah!" Wajah Charles menjadi suram. Karen makin sembrono! Charles tidak memutuskan Karen pada sebelumnya adalah karena Karen baik. Jangan sampai dia tidak dapat bekerja sama dengan Keluarga Ketaren karena keonaran Karen. Charles buru-buru mengadang di depan rombongan Albert. Dia menundukkan kepala dan meminta maaf, "Maaf, Paman Albert. Dia sama sekali nggak paham soal ilmu kedokteran, nggak mungkin bisa menyembuhkan Tuan Muda Selvin." Albert termangu, sedang Norman menoleh pada Karen dan Karlo dengan curiga. Ekspresi mata Karen menjadi dingin. Apakah dia begitu beruntung sampai bertemu Charles lagi? Atau dia terlalu sial hingga menemui orang gila begitu keluar rumah? Dua orang itu .... Sebelumnya, mereka hanya bertemu secara diam-diam. Sekarang, mereka sudah bergandengan tangan secara terbuka! Beberapa hari lalu, Charles bahkan berkata dengan sangat yakin bahwa tidak ada apa-apa di antara dia dan Yuri! "Ayo masuk." Karen tidak menghiraukan mereka. Yuri maju dan menatap Karen dengan ekspresi mata kecewa. "Kakak, ini soal nyawa orang. Mana bisa Kakak bertindak sembrono?" Kakak? Albert lebih terbengong. Dia tidak pernah mendengar bahwa Sandi memiliki adik perempuan. Yuri melirik Charles dan berkata dengan sedih, "Aku tahu Kakak marah karena Kak Charles dan ingin menyulitkan Kak Charles." "Tapi ...." Mata Yuri memerah ketika dia mendongakkan tatapan pada Karen. Dia berujar dengan suara parau, "Nggak peduli seberapa marah, Kakak nggak bisa bercanda dengan nyawa Tuan Muda Selvin!" "Kalau benar-benar terjadi sesuatu, bagaimana dengan Ayah?" Mata Karen penuh kejengkelan saat melihat Yuri yang berlagak kasihan. Yuri masih belum selesai? Yuri suka berlagak kasihan dan berpura-pura murah hati di depan orang lain. Dia dapat memutar kata-kata agar semua orang mengira dia dirundung. Hanya saja, itu dulu. Dulu, Karen selalu berpikir bahwa Yuri adalah adiknya. Sekarang, sudah tidak perlu. Albert tercengang seraya menoleh pada Karen. "Senior ... dia ...." Karen memalingkan tatapan dari Yuri ke Albert dan menjawab dengan suara lembut, "Adik beda ibu." Karen menegaskan kata beda ibu. Mata Albert berkedip dan langsung paham. Karen berujar dengan tenang, "Maaf, adikku masih kecil dan nggak tahu aturan, agak bandel. Pak Albert, mohon maklum." Karen kalem dan bersikap seperti seorang kakak. Yuri mengepalkan tangan dengan erat! Apa maksudnya dia masih kecil dan tidak tahu aturan? Karen sungguh tidak tahu malu! Apa-apaan Karen? Bisa-bisanya Karen mendidiknya? Meskipun Yuri sangat membenci Karen, dia hanya bisa menekan rasa benci itu. "Kakak, jangan membuat masalah lagi. Kita tumbuh besar bersama, mana mungkin aku nggak tahu Kakak nggak paham soal ilmu kedokteran? Mana bisa Kakak membohongi Pak Albert atas hal ini?" Albert menatap Karen dengan ragu. Wanita ini ... menguasai ilmu kedokteran atau tidak? Karen menyeringai. "Ada hal-hal yang nggak bisa kujelaskan pada Pak Albert. Penyakit Tuan Muda Selvin lebih penting saat ini. Ayo kita masuk dulu." Charles terus menatap Karen sambil mengernyit. Aneh sekali, mengapa sekarang dia merasa Karen bersikap lembut, murah hati, dan kalem? Karen, sepertinya sudah berubah .... Yuri marah hingga mengepalkan tangan. Dari sudut mata, dia mendapati bahwa Charles terus menatap Karen dengan kagum. Kebencian dan keirian dalam hatinya membubung tinggi. Dasar wanita sialan! Karen berbuat demikian untuk menggoda Charles, 'kan? Yuri maju untuk membujuk Karen dengan berat hati, "Kakak, demi Ayah dan Kak Charles, kita pulang saja?" Yuri mengulurkan tangan untuk menarik Karen, tetapi Karen mundur dua langkah sehingga aksi Yuri gagal. Charles menatap Karen dan mengembuskan napas. Lalu, dia berkata dengan suara lembut, "Karen, sudah cukup." Nada suaranya memanjakan. Ekspresi mata Karen kelam. Apakah sampai sekarang Charles masih berpikir dia hanya berpura-pura dan menggunakan taktik untuk mendapatkan kembali hatinya? Karen telah mencintai Charles selama sepuluh tahun hingga Charles memiliki keyakinan seperti itu. Itu salahnya. Wajah Karlo makin masam, lalu dia berkata, "Kalian masih belum selesai?" Karlo berusaha untuk tetap diam di samping. Bagaimanapun, dia harus memberi muka pada Sandi. Hanya saja, dua orang itu terus menghalangi mereka. Albert yang awalnya merasa curiga menggertakkan gigi begitu melihat sikap Karlo. Lupakan saja! Sudah tidak ada pilihan lain! Dia harus memercayai Karlo! Karen mengabaikan Charles dan Yuri. Dia menatap Albert dan bertanya, "Pak Albert, apa sudah bisa masuk?" Mata Albert berkedip. Dia tersenyum seraya memberi jalan. "Tentu saja, mari." Ketika Karen hendak masuk ke bangsal, Charles yang jangkung menghalangi jalannya. Yuri juga maju dan mencegat Karen dengan ekspresi cemas. "Kakak terlalu sembrono!" Wajah Albert menjadi dingin karena perbuatan Yuri dan Charles. Dia berujar dengan tegas, "Charles, terima kasih kalian mau datang untuk membantu, tapi masalah Keluarga Ketaren nggak perlu kalian khawatirkan!" Tidak mudah untuk mengundang Sandi si Dokter Ajaib. Jangan sampai Sandi pergi karena marah! Albert memberi isyarat mata pada Norman. Norman segera mengadang di depan Charles dan Yuri sembari berkata dengan suara dingin, "Silakan keluar!" Nada suaranya sopan, tetapi sikapnya sangat tegas. Charles menatap Karen sepanjang waktu. Dia berharap Karen dapat membuat keputusan yang tepat. Akan tetapi, Karen sama sekali tidak menghiraukan Charles. Karen langsung masuk ke bangsal. Yuri ingin mengejar Karen lagi, tetapi dihalangi oleh Norman. Mereka hanya bisa melihat dengan tak berdaya saat Karen memasuki bangsal. Yuri mengentakkan kaki dengan marah. Dia menatap Charles dan bertanya dengan cemas, "Kak Charles, bagaimana kalau Kakak membuat masalah, lalu melibatkanmu dan Ayah?" Keluarga Ketaren adalah keluarga elite. Jika terjadi sesuatu pada pewarisnya, jangankan Keluarga Sunardi, Keluarga Luminto juga dapat menghabisi mereka dengan mudah. Wanita itu sungguh malapetaka! Charles menatap pintu bangsal dengan ekspresi mata suram. Hatinya galau. "Tunggu dulu." Yuri tidak punya pilihan. Dia berdiri di luar bangsal dengan emosi, tetapi harus menekan emosinya! ... Tak lama kemudian, mereka membuka pintu dan masuk. Di dalam bangsal VIP rumah sakit, ada berbagai peralatan medis di depan kasur. Seorang pria muda sedang duduk di kasur dan diinfus. Dia memiliki wajah yang tegas, mata yang tajam, hidung mancung, dan bibir tipis yang terkatup rapat. Meski sedang sakit, pria itu tetap sangat tampan. Begitu melihat mereka, tatapan matanya tiba-tiba menjadi dingin. Karen mengangkat alis. Cukup galak. Pria itu tampan, tetapi ... tidak setampan suaminya. Albert segera memperkenalkan, "Dokter, ini putraku. Tolong Dokter periksakan!" Sebelum Karen mengangguk, Selvin menyindir dengan suara serak dan dingin, "Ayah, sudah kukatakan berapa kali? Jangan bawa sembarangan orang ke sini!" Wajah Karlo menjadi masam. Karlo sudah cukup menghargai Keluarga Ketaren dengan membawa Sandi untuk memeriksakan Selvin, tetapi Selvin sangat tidak sopan! Sementara itu, ekspresi Karen tak terbaca. Albert menjadi panik. Dia langsung menoleh pada Karen dan Karlo. Dia menyuruh Norman mengundang Sandi dan itu bukan hal yang mudah. Jika Sandi marah dan pergi, bagaimana dengan penyakit Selvin? Selvin benar-benar sembrono! Albert menegurnya, "Kurang ajar, ini Dokter Sandi yang terkenal! Awas kalau kamu omong kosong lagi!" Selvin mengernyit. Dia melirik Karen dan Karlo dengan kaget. Itu Sandi? Albert mengembuskan napas. Dia buru-buru memasang senyum menyanjung pada Karen. "Dokter, bagaimana?" Karen mengangguk dengan santai. "Kalian keluar dulu. Aku ingin bicara sendirian dengannya." Mendengar itu, ekspresi Albert dan Karlo berubah!

© Webfic, hak cipta dilindungi Undang-undang

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.