Bab 6
Karlo menuang segelas jus untuk Karen. Dia bertanya dengan takjub, "Kamu sudah sadar? Sudah putus dengan Charles?"
"Ya," jawab Karen dengan tenang usai minum seteguk jus.
Karen telah berpacaran dengan Charles selama 10 tahun, juga telah memberi kontribusi selama 10 tahun.
Karen telah berkontribusi banyak sehingga Charles dapat memiliki pencapaiannya yang sekarang.
Di dunia hiburan, penilaian Karen dalam memilah naskah jauh lebih tinggi dari yang lain.
Charles selalu meminta Karen meninjau naskah yang akan dia perankan. Setiap drama yang dimainkan oleh Charles menjadi populer.
Hanya saja, Charles tidak pernah mengakui kontribusi Karen. Para penggemarnya memaki Karen, tetapi Charles tidak pernah membela Karen.
Karlo menepuk meja dengan girang. "Baguslah. Orang yang nggak pernah mengakuimu dan membelamu di depan umum jelas adalah bajingan!"
Karen tertegun sejenak. Lalu, dia menyeringai.
Ya, orang lain dapat melihat hal itu dengan sekilas, tetapi dia menipu diri sendiri selama ini.
Karen tidak ingin berkutat pada topik itu. Dia bertanya dengan serius, "Ada urusan darurat apa?"
Karlo juga bersikap serius ketika membicarakan hal penting. "Apa kamu tahu tentang Tuan Muda Keluarga Ketaren?"
Karen bertanya, "Keluarga Ketaren yang hanya selevel di bawah Keluarga Yovent?"
Karlo mengangguk. "Ya, Selvin Ketaren."
Karen menjadi tertarik. "Coba ceritakan."
Keluarga Ketaren dan Keluarga Yovent tidak bermusuhan, malah bekerja sama dengan baik. Jika Karen membantu Keluarga Ketaren, mereka akan berutang padanya. Itu bukan hal yang merugikan bagi Karen.
Ekspresi Karlo sedikit aneh. Dia berdeham, lalu menerangkan, "Kamu mungkin nggak percaya, Tuan Muda Selvin terkena penyakit aneh. Saat penyakitnya parah, dia ingin minum darah segar dan mudah marah."
Karen mengernyit. "Minum darah?"
"Benar." Karlo mengangguk. "Penyakitnya sudah berlangsung untuk waktu yang lama, tapi penyebabnya masih belum ditemukan. Sekarang, kondisinya memburuk."
"Kamu sangat terkenal. Keluarga Ketaren sudah menghubungiku puluhan kali untuk mengundangmu. Kamu bebas menyebutkan harganya!"
Karen mengetukkan jarinya di lutut sambil merenung. Sesaat kemudian, Karen berkata, "Coba lihat ke rumah sakit dulu."
Karlo tampak girang. Selama Karen bersedia turun tangan, masalah lainnya gampang.
Karlo percaya Sandi mampu menyembuhkan penyakit itu!
Karlo bergegas berjalan ke meja. "Akan segera kuatur."
Karlo terburu-buru, seperti khawatir Karen akan berubah pikiran.
Karen tersenyum tak tertahankan dan menggelengkan kepala.
Karlo memang blak-blakan.
...
Pada saat yang sama, sebuah mobil Maybach hitam sedang berhenti di persimpangan lampu lalu lintas.
Charles duduk di kursi pengemudi dan memegang kemudi dengan satu tangan.
Yuri duduk di sebelahnya. Yuri menoleh ke samping dan menatap Charles. Matanya penuh rasa kagum.
Yuri telah menyukai Charles selama bertahun-tahun. Sayangnya, Charles adalah pacar wanita sialan itu selama ini. Akhirnya, dengan usahanya yang tak henti-henti, Yuri mengambil kesempatan ketika Charles mabuk ....
Yuri menundukkan tatapan. Tidak peduli taktik apa pun yang dia gunakan, yang penting dia tetap polos dan lugu di mata Charles.
Hari ini, Charles hendak pergi menangani urusan penting. Akan tetapi, setelah Yuri memohon-mohon, Charles tetap menjemputnya. Yuri merasa dirinya sudah memasuki hati Charles!
Karen tidak pantas berada di dalam hati Charles lagi!
Yuri menyembunyikan rasa bangga di dalam matanya. Dia menatap Charles dengan kagum dan bertanya, "Kak Charles, berapa lama lagi kita akan sampai?"
"Mungkin sejam lagi. Kamu sudah capek?" Charles menoleh pada Yuri dengan penuh kasih sayang.
Yuri langsung menggelengkan kepala. "Mana mungkin? Aku hanya khawatir kamu mengemudi terlalu lama dan capek. Kamu bahkan syuting pagi dan malam. Aku, aku nggak tega ...."
Yuri menundukkan kepala dengan malu-malu. Wajahnya yang merah tersipu membuat orang ingin menciumnya.
Charles tersenyum. "Mana mungkin? Aku nggak selemah itu."
Mata Yuri bersinar cerah. Dia menatap Charles sembari tersenyum. "Kak Charles, banyak orang yang nggak mau berhubungan dengan Keluarga Ketaren karena Tuan Muda Selvin terkena penyakit itu. Tapi Kak Charles berinisiatif menjenguk temanmu. Kak Charles benar-benar setia kawan!"
Pujian Yuri membuat hati Charles berbunga-bunga. Dia berkata dengan sombong, "Tentu saja, Tuan Muda Selvin adalah temanku."
"Aku sudah mencarikan dokter terkenal untuknya. Nanti kita jemput dia."
Tangan Charles yang memegang kemudi menegang. Hanya dia yang tahu, hal itu harus dilakukan jika dia ingin bekerja sama dengan Keluarga Ketaren.
Walau dia takut pada monster peminum darah itu!
Rasa kagum dalam mata Yuri makin kuat. Kegirangan menghiasi wajahnya yang cantik. Pria unggul ini akan menjadi miliknya.
Yuri diam-diam mengait jari Charles dan berkata dengan suara centil, "Kak Charles hebat sekali ...."
Charles memegang tangan Yuri. Ada sesuatu yang melintas di matanya. Dia berujar dengan suara serak, "Yuri, kamu memang sangat menggoda."
Wajah Yuri merah tersipu.
Yuri mendorong Charles dan memprotes dengan malu-malu, "Aduh, Kak Charles menyebalkan."
Charles memegang tangan Yuri dengan lebih erat. Dia tersenyum sembari bercumbu, "Kenapa? Kamu nggak suka?"
Yuri menundukkan kepala dengan malu-malu dan mengangguk. Suaranya sangat kecil saat menjawab, "Su, suka ...."
Suara tawa Charles yang lantang bergema di dalam mobil.
...
Satu jam kemudian.
Charles dan Yuri sampai di rumah sakit, beserta seseorang.
Marsel Jerianto.
Marsel bukan hanya dokter ahli yang terkenal di dalam negeri, tetapi juga terkemuka di dunia internasional.
Mereka sampai di depan sebuah bangsal. Ada dua pria yang berdiri di depan pintu, yaitu ayah Selvin dan asisten Selvin, Norman Sirait.
Yuri mengikuti Charles dengan patuh.
Sebenarnya, Yuri bersikeras datang bersama Charles supaya dapat memiliki interaksi dengan keluarga elite dan mencari jalan keluar untuk dirinya.
Albert Ketaren tampak galau dan terus melirik arloji. Lalu, Albert menoleh pada Norman. "Masih belum sampai? Berapa lama lagi kata mereka? Apa sudah kamu telepon?"
Norman meluruskan kacamatanya. "Pak Albert, sudah kutelepon. Mereka bilang akan sampai sekitar 10 menit lagi."
Albert langsung merasa lega. "Baguslah!"
Pada saat yang sama, Charles menghampirinya bersama Yuri dan Marsel.
Albert dan Norman menoleh pada mereka.
Charles berkata dengan hormat, "Paman Albert, namaku Charles."
Albert memandangi Charles dan mengangguk. "Anak Keluarga Luminto?"
Charles segera mengangguk. Dia menyahut dengan kaget, "Ya. Paman masih ingat?"
Yuri berdiri di samping, tidak terburu-buru untuk menampilkan diri.
Tentu saja, Yuri berharap Charles akan memperkenalkan mereka.
Charles sibuk bersosialisasi dan mengabaikan Yuri. Lalu, dia memperkenalkan Marsel yang berdiri di sampingnya. "Paman Albert, ini Dokter Marsel Jerianto. Dia sangat lihai dan ahli dalam menangani berbagai penyakit yang sukar. Aku percaya dia pasti bisa menyembuhkan Tuan Muda Selvin!"
Albert melirik Marsel dengan acuh tak acuh.
Marsel memang terkenal, tetapi dia sudah meminta senior yang jauh lebih hebat dari Marsel untuk mendiagnosis putranya.
Mereka pun tidak punya solusi. Memangnya Marsel bisa?
Detik berikutnya, Albert tersenyum seraya berkata, "Terima kasih, tapi aku punya janji dengan dokter lain hari ini."