Webfic
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 5

Sikap Jonathan berubah seketika. Dia menyahut dengan hormat, lalu memelototi Karen dengan tatapan dingin. "Tuan muda kami memaafkanmu. Kalau kamu nggak ganti rugi, aku lapor polisi." "Ganti rugi?" Karen tertawa sinis. "Kalau begitu, aku lapor polisi saja." "Kamu!" Jonathan panik dan menoleh pada Charles yang duduk di dalam mobil. Jonathan tidak takut untuk bertanggung jawab, tetapi Charles adalah seorang artis besar dan sedang ada urusan mendesak. Jika mengganti mobil, itu akan memakan banyak waktu. Melalui jendela yang terbuka itu, Charles juga mengenali suara Karen. Wajah Charles menjadi masam. Dia melemparkan tatapan dingin pada Karen dari celah jendela mobil. "Karen, masih belum cukup?" Karen tertawa geli. Apakah Charles berpikir kecelakaan mobil ini disengajakan olehnya? Dia tahu Charles akan lewat sini hari ini sehingga sengaja menabraknya? Mengapa dia tidak pernah tahu Charles begitu gede rasa? "Karen, aku nggak mau melihat taktik konyolmu ini lagi." Sudut mulut Karen berkedut-kedut. Sebelum Karen bisa berbicara, Charles berujar dengan tegas, "Jonathan, masuk." Jonathan adalah sopir baru Charles. Jonathan sama sekali tidak tahu tentang hubungan mereka sehingga agak kebingungan. Walau begitu, Jonathan menyahut dengan lugu dan hendak masuk ke mobil. Karen menyeletuk, "Kalau kalian pergi, berarti kalian tabrak lari. Aku bisa mengekspos informasi kalian dan merusak reputasimu." Jonathan berhenti di tempatnya dan memelototi Karen. Tatapan mata Charles menjadi lebih agresi. "Karen, aku nggak mau buang-buang waktu denganmu sekarang." Karen menyeringai sinis. Dia juga tidak ingin membuang waktu, tetapi butuh uang untuk memperbaiki mobil. Bagaimana mungkin dia membiarkan Charles pergi begitu saja? "Kamu pikir aku mau membuang waktu denganmu? Aku hanya beri kalian satu menit." Melihat Karen mengeluarkan ponselnya, Jonathan menoleh pada Charles dengan panik. Sekujur tubuh Charles diselubungi aura dingin. Karen yang dulu pasti sudah panik dan meminta maaf. Akan tetapi, saat ini, Karen berdiri diam di tempatnya. Charles mengernyit. Karen serius? Tidak, Karen hanya berpura-pura. Ada sedikit kebengisan di wajah tampan Charles. "Karen, kesabaranku terbatas. Kamu tahu seperti apa sifatku. Kalau kamu masih ...." Sebelum Charles selesai berbicara, Karen berujar dengan sarkas, "Masih 50 detik lagi." Charles bertemu dengan mata Karen melalui celah jendela. Tebersit kekagetan di matanya. Barulah Charles melihat wajah Karen. Setelah beberapa hari tak berjumpa, Karen sepertinya tampak lebih cantik. Mata Karen tidak lagi penuh rasa cinta seperti dulu, tetapi dingin dan tenang. Mata Charles berkedip. Karen sepertinya ... berubah. Karen menatap Charles dengan ekspresi mata dingin. "Charles, jangan membuat asumsi dengan kesombonganmu. Aku nggak sudi dengan pria bajingan sepertimu." "Kamu ...!" Charles berusaha keras menekan kemarahannya. Karen tidak ingin membuang waktu untuk berdebat lagi. "Mobilku sudah kalian tabrak sampai seperti ini. Aku terima kalau kalian ganti rugi dua miliar." Charles tertawa geli. "Kamu gila uang? Langsung minta dua miliar?" Jonathan secara refleks mengamati mobil Karen. Ekspresinya berubah. Dia berujar, "Tuan ... Tuan Muda, mobilnya Ferrari edisi terbatas ...." Dua miliar tentu bukan jumlah yang terlalu mahal. Karen termangu. Edisi terbatas? Harvey membiarkannya mengemudikan mobil sebagus itu? Karen tidak terlalu memperhatikan itu barusan. Apakah dua miliar terlalu sedikit? Charles mengernyit. Jonathan tidak tahu banyak soal mobil. Charles menatap Karen dengan wajah masam. "Dari mana kamu punya mobil itu?" Keluarga Sunardi tidak akan pernah membelikan mobil semahal itu untuk Karen. Karen menyeringai. "Aku meninggalkanmu dan mencari orang kaya. Nggak boleh?" "Karen!" Charles mengepalkan dua tangan dengan erat. Tidak heran Karen ingin putus dengannya dan berbicara dengan tegas. Ternyata, Karen sudah memiliki pria lain? Tidak, bukan begitu! Karen jelas-jelas hanya mencintainya! Itu hanya taktik Karen untuk mendapatkan perhatiannya. Karen bisa saja menyewa mobil. Namun, sebelum Charles sempat berbicara, Karen mulai mengoperasikan ponselnya. "Dasar cerewet. Sisa 5 detik. Aku akan lapor polisi!" "Jonathan, transfer." "Tuan Muda ...." Jonathan tercengang. Lalu, dia memelototi Karen. "Kalau bukan karena tuan muda kami punya urusan mendesak, kamu pikir kamu bisa lolos semudah ini?" Jonathan marah-marah dan meminta nomor rekening Karen. Dia segera mentransfer uang. Selama prosesnya, Karen sama sekali tidak menghiraukan Charles, tetapi Charles menatap lurus pada Karen. Matanya yang tajam dan dapat memandang menembus segala hal justru tidak dapat memahami Karen pada saat ini. Setelah menerima pesan pemberitahuan, Karen mengabaikan Charles dan berbalik badan, hendak pergi. Charles berteriak dengan marah, "Karen, kelihatannya aku terlalu memanjakanmu. Aku akan bicarakan dengan ayahmu setelah aku menyelesaikan urusan mendesak ini." Karen tersenyum sinis. "Terserah kamu." Lalu, Karen langsung masuk ke mobilnya. Karen mengemudikan mobil ke sebuah gedung perkantoran. Karen naik ke lantai tertinggi. Sampai di depan sebuah kantor, Karen mengetuk pintu. "Masuk." Terdengar suara yang jelas. Karen membuka pintu dan masuk. Seorang pria yang memakai jas biru muda sedang duduk di depan meja dan sibuk mengetikkan sesuatu. Tatapan matanya sangat serius. Karlo Sumanto berumur 27 tahun, 3 tahun lebih tua dari Karen. Wajah Karlo tampak masih muda, putih dan halus. Karlo bahkan kelihatan lebih muda dari Karen. Karen tersenyum. "Sudah 3 tahun nggak ketemu, kamu masih seperti anak di bawah umur." Mendengar suara itu, Karlo mendongakkan kepala dengan kaget. Begitu melihat Karen, Karlo beranjak dari kursinya dengan penuh semangat. "Sandi! Akhirnya kamu datang!" Sandi. Orang lain pasti tercengang mendengar nama itu. Sandi si Dokter Ajaib! Sandi dapat membangkitkan orang yang akan mati sehingga dijuluki sebagai legenda yang tak terkalahkan. Akan tetapi, dua tahun lalu, Sandi tiba-tiba menghilang. Karlo adalah manajernya yang menangani semua masalah medis. Mereka telah berkenalan selama bertahun-tahun, bahkan menjadi teman seperjuangan. Karlo bergegas berjalan menuju Karen. Wajah yang masih belia dan ekspresi gembira itu membuat Karen kewalahan. Karen cemberut. "Kamu yang bilang ini sangat darurat dan aku harus datang. Kenapa ekspresimu malah begini saat melihatku?" "Sialan! Dari seratus kali aku suruh kamu datang, berapa kali kamu muncul?" tukas Karlo. Karlo sekali lagi menggosok matanya. "Terakhir kali kita ketemu pun dua tahun lalu! Kamu akhirnya muncul lagi!" Saking emosi, Karlo memegang bahu Karen dengan kuat, seperti takut Karen akan kabur pada detik berikutnya. Ekspresi mata Karen agak kompleks. "Maaf, aku buta cinta sebelumnya, tapi sudah sadar sekarang. Aku akan datang setiap kali dipanggil."

© Webfic, hak cipta dilindungi Undang-undang

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.