Bab 4
Tampaklah wajah pria tampan itu.
Karen berjalan ke depan dan menatap Harvey dengan kaget. "Kamu ... belum pergi?"
Harvey keluar dari mobil untuk membantu Karen menaruh kopernya ke bagasi.
Karen tiba-tiba ingat, sudah lama tidak ada orang yang berinisiatif membantunya.
Mata Karen memerah. Dia menundukkan kepala dan menjaga suaranya agar tetap tenang. "Terima kasih."
Wajah Harvey masam ketika melihat wajah Karen merah dan bengkak. "Siapa yang menamparmu?"
Bulu mata Karen gemetar. Dia tidak ingin membicarakan hal itu. "Aku nggak apa-apa."
Harvey tampak agresif. Dia hendak berjalan ke dalam vila Keluarga Sunardi.
Karen terkejut dan buru-buru memegang tangan Harvey. "Harvey, jangan ...."
"Siapa pun yang merundung orangku, dia cari mati."
Suara Harvey sedingin es dan membuat orang merinding. Karen menahan Harvey dengan ekspresi memohon. "Aku capek. Kita ... pulang dulu, oke?"
Sebelah pipi Karen merah dan bengkak, sebelahnya lagi pucat.
Mata Harvey berkedip. Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Mereka diam di sepanjang perjalanan.
Satu jam kemudian, mobil tiba di Vila Soloni.
Sekelompok orang berdiri di dalam ruang tamu. Mereka maju dan memberi hormat, "Tuan Muda! Nyonya!"
Karen tercengang dan langsung menoleh pada Harvey. Ternyata, Harvey sudah mengatur segalanya ....
Harvey melirik Karen sekilas. "Kalau ada apa-apa, suruh mereka saja. Mereka nggak akan beri tahu orang luar."
Bulu mata Karen gemetar. Dia merasa terharu. "Terima kasih."
Harvey memberi isyarat untuk membubarkan mereka. Lalu, Harvey membawa Karen ke lantai atas.
Di lantai atas, Harvey mengambil kotak medis dari lemari dan menghampiri Karen.
Karen termangu.
"Oles obat dulu."
Karen terbengong seketika.
Tak terpikir oleh Karen bahwa Harvey yang mulia akan mengoleskan obat untuknya.
Harvey bertanya, "Apa yang terjadi barusan?"
Sambil bertanya, Harvey mengoleskan obat ke pipi Karen. Sentuhan dingin itu membangunkan Karen dari lamunan.
Karen panik dan ingin mengambil salep di tangan Harvey. "Aku, aku oles sendiri ...."
"Jangan gerak."
Suara Harvey yang tegas membuat Karen tidak berani bergerak.
Mereka sangat dekat dan bisa merasakan aroma satu sama lain.
Karen bahkan merasa jantungnya berdebar dengan kencang. Dia ... gugup sekali.
Mata Harvey berkedip saat melihat wajah Karen makin merah. "Herman yang menamparmu?"
Karen merapatkan bibir dan tersenyum. Dia tidak menjawab.
Tatapan mata Karen dingin. Meskipun Karen tidak menjawab, Harvey tahu dugaannya benar.
Harvey bertanya dengan suara dingin, "Kenapa dia menamparmu?"
Karen ragu sejenak. Lalu, dia berkata dengan suara pelan, "Alasannya sudah nggak penting. Aku diusir dari rumah."
"Diusir?"
Harvey mencibir dan mengangkat dagu Karen. Tatapan matanya yang dingin menyiratkan keseriusan. "Mulai sekarang, nggak ada yang bisa mengusirmu dari rumah ini."
Karen terbengong.
Karen menatap Harvey dengan bengong dan tidak tahu harus berkata apa.
Sebelum Karen sempat bereaksi, Harvey sudah melepaskan tangannya. Harvey menutup kotak medis dan berkata dengan tenang, "Sebagai istriku, jangan sampai aku lihat ada yang merundungmu lagi. Kalau nggak, aku yang malu."
Istrinya?
Hati Karen tersentak kaget.
Tatapan mata Harvey dingin. "Kamu harus ingat, aku suamimu, bukan hanya sekadar status."
Jantung Karen berdebar.
Jangan-jangan Harvey ingin ....
"Karen, aku memberimu waktu, tapi jangan membuatku menunggu terlalu lama."
Lalu, Harvey berdiri dan langsung pergi.
Karen duduk bengong di sofa. Entah berapa lama kemudian, ada suara ketukan pintu. Karen tersadarkan dan buru-buru pergi membuka pintu kamar.
Di luar, berdiri seorang wanita yang umurnya kurang dari 50 tahun dengan pakaian kasual warna abu. Dia menatap Karen dengan ramah.
"Nyonya, namaku Liliani. Aku pengurus di vila ini."
Liliani.
Sebenarnya, Karen pernah mendengar tentang Liliani. Liliani telah bekerja untuk Keluarga Yovent selama puluhan tahun dan memiliki kedudukan yang tinggi.
Rumah itu baru dibeli. Harvey sepertinya secara khusus memindahkan Liliani ke sana.
Karen bergegas memberikan ruang. "Halo, Bibi Liliani."
Liliani masuk sambil tersenyum dan menatap Karen dari atas ke bawah. Dia mengangguk dengan sangat puas. "Selera Tuan Muda memang bagus!"
Wajah Karen langsung memerah. Dia berdeham dengan canggung.
Liliani tertawa. "Jangan malu-malu. Tuan Muda sudah beritahukan semuanya padaku. Langsung beri tahu aku saja kalau Nyonya butuh sesuatu."
Karen mengangguk dengan kaget. "Oke .... Terima kasih, Bibi Liliani."
"Tuan Muda agak cuek dan pendiam. Belum pernah aku melihat Tuan Muda dekat dengan wanita mana pun. Tapi, sebelum pergi, Tuan Muda secara khusus memintaku menemani Nyonya."
"Tuan Muda sangat peduli denganmu."
Mengingat kata "istriku" yang dikatakan oleh Harvey barusan, wajah Karen merah tersipu. "Harvey sudah pergi?"
"Nyonya, jangan terlalu dipikirkan." Liliani sangat teliti. "Tuan Muda akan ke luar kota selama seminggu karena ada urusan mendesak, bukan nggak mau temani Nyonya."
"Aku mengerti." Karen khawatir Liliani akan mengira dia keberatan dengan hal itu. Karen buru-buru menambahkan, "Aku nggak bermaksud untuk menyalahkan Harvey. Pekerjaannya lebih penting."
Selain itu, terjadi banyak hal akhir-akhir ini. Karen akan lebih leluasa jika Harvey tidak di rumah untuk sementara waktu.
Karen juga membutuhkan waktu untuk menyelesaikan masalahnya.
...
Di luar dugaan Karen, kehidupannya di rumah Harvey bebas dan leluasa.
Karen tidak perlu khawatir tentang makanan dan barang kebutuhan. Terkadang, Liliani juga mengobrol dengannya.
Beberapa hari kemudian, Karen telah menyesuaikan diri. Karen juga tahu dirinya harus bersemangat dan melakukan apa yang seharusnya dia lakukan.
Pada hari ini, Karen langsung berkemas dan turun untuk makan sarapan, lalu pergi keluar.
Suasana hati Karen saat ini kompleks karena mobil yang dia kemudikan adalah mobil Harvey.
Harvey telah mengatur segalanya.
Karen merapatkan bibir. Dia akan mengingat kebaikan Harvey.
Mobil Karen melaju di jalan raya. Saat ini bukan jam sibuk sehingga tidak banyak mobil di jalan.
Namun, detik berikutnya ....
Terdengar suara ....
Bam!
Mata Karen membelalak!
Mobil Karen bertabrakan dengan mobil di depan!
Sial sekali pagi ini?
Karen mengernyit. Dia memarkir mobil, melepas sabuk pengaman, dan keluar dari mobil.
Sopir mobil di depan juga segera keluar. Wajahnya masam ketika melihat Karen adalah seorang wanita. "Lagi-lagi wanita! Buat apa pengemudi berbahaya masuk ke jalan?"
Wajah Karen juga masam. "Pengemudi berbahaya bisa pria bisa wanita. Kamu yang mengerem mendadak."
"Ada lubang di depan. Kalau nggak rem, dilewati begitu saja? Kamu nggak tahu harus jaga jarak?" tukas pria itu dengan lantang dan kasar.
Karen mengernyit. Detik berikutnya, jendela kursi belakang mobil itu perlahan turun sedikit. Karen mendengar suara pria yang familier.
"Jonathan, kami sedang buru-buru. Cepat selesaikan."
Karen terbengong dan langsung menoleh ke sana. Jendela itu hanya diturunkan sedikit sehingga Karen tidak dapat melihat wajah pria itu.
Meski begitu, Karen mengenali bahwa itu adalah suara Charles!