Bab 3
Di rumah Keluarga Sunardi.
Tiga orang sekeluarga itu duduk di sofa. Suasananya sangat harmonis.
Begitu pulang, Yuri memandangi kuku artifisial yang baru dia buat dan berkata dengan girang, "Ayah, Ibu, apakah kuku baruku cantik?"
Herman Sunardi dan Manda Rosnah serempak menatap tangan Yuri yang putih dan halus. Mereka mengangguk dengan penuh kasih sayang.
"Cantik, semua yang kamu buat itu cantik."
Yuri memprotes dengan centil, "Ayah sama sekali nggak lihat! Ayah asal jawab!"
Herman tertawa terbahak-bahak. "Mana mungkin Ayah nggak lihat?"
Lalu, wajah Herman menjadi masam. "Kalau anak sialan itu memiliki separuh dari keunggulanmu, Ayah nggak perlu khawatir lagi."
Yuri dan Manda memandang satu sama lain. Manda berucap dengan suara lembut, "Kenapa kamu tiba-tiba bilang begini? Karen lumayan pengertian."
"Pengertian?" Herman mencibir. "Kalau Karen setuju untuk menikah dengan Keluarga Rosnah, itu baru benar-benar pengertian."
Keluarga Rosnah adalah keluarga elite. Jika bisa kerja sama dengannya, Keluarga Sunardi akan mendapat keuntungan yang berlimpah.
Tentang pernikahan politik dengan Keluarga Rosnah, Yuri dan Manda sudah mengetahuinya dari beberapa bulan sebelumnya.
Akan tetapi, umur putra Presdir Andri sudah hampir 40 tahun dan tidak punya bakat di berbagai bidang, hanya suka bersenang-senang di luar. Itu bukan pernikahan yang baik bagi seorang perempuan.
Yuri takut pernikahan itu akan jatuh padanya.
Yuri menatap Herman dengan cemas. "Tapi Ayah, bukankah Kakak dan Kak Charles ...."
"Sudah tiga bulan nggak kontak, berarti sudah putus, 'kan?" Herman menepuk punggung tangan Yuri. "Selain itu, Ayah lebih berharap kamu menikah dengan Charles."
Wajah Yuri langsung merah. Hatinya menjadi lega.
"Coba kalian pikirkan cara untuk meyakinkan anak sialan itu."
Manda merasa sedikit khawatir. "Herman, bukankah ini akan merugikan Karen ...."
"Kenapa kita nggak bisa menikahkan Karen demi kepentingan Keluarga Sunardi kita? Kalau nggak, kamu ingin menikahkan Yuri?"
Ekspresi Manda dan Yuri berubah seketika. Sebelum mereka bisa berbicara, Herman berkata dengan tegas, "Harus ada yang dinikahkan. Coba kalian bujuk Karen."
Detik berikutnya, pintu ruang tamu berderit dan Karen masuk. Ekspresi tiga orang itu langsung berubah.
Karen berpura-pura tidak melihat mereka.
Karen diam saja. Dia mengganti sandal dan berjalan ke dalam.
Tiga orang yang duduk di sofa itu tampak jengkel. Herman melirik Manda dengan tatapan dingin. "Lihat, kamu terlalu memanjakannya. Sudah kubilang nggak boleh terlalu memanjakannya."
Karen menyeringai. Memanjakannya?
Kapan dia pernah dimanjakan?
Di masa kecil, Karen selalu disalahkan setiap kali Yuri nakal dan membuat kesalahan. Karen bahkan dipukul, dimarahi, dan kelaparan setiap hari.
Mereka tidak pernah membelikan apa yang Karen inginkan, sedangkan Yuri mendapat segala sesuatu. Jika bukan karena ayah membutuhkan dukungan dari kakek dan nenek, Karen mungkin sudah dikirim pergi.
Karen terus berjalan ke arah tangga tanpa menghentikan langkah.
Wajah Herman menjadi masam. Dia memelototi Karen. "Berhenti!"
Manda buru-buru bersikap seperti ibu penyayang dan berkata, "Herman, jangan marah."
Karen berhenti untuk menoleh ke belakang dan menatap Herman. "Kalau mau bicarakan tentang pernikahan dengan Keluarga Rosnah, nggak usah. Itu mustahil, aku nggak setuju."
Herman, Manda, dan Yuri terbengong.
Bagaimana Karen bisa mengetahui hal itu?
Hanya mereka bertiga yang tahu tentang itu!
Apakah Karen mendengarnya barusan?
"Kamu ...!" Herman menjadi emosi. "Kamu sudah putus dengan Charles. Memangnya kenapa kalau nikah dengan Keluarga Rosnah?"
Ekspresi Karen lebih ironis lagi.
Putus.
Benar, mereka sudah tahu, padahal dia baru saja putus.
Mereka pasti tahu mengapa dia putus.
Mereka tidak ingin Yuri melakukan pernikahan politik, maka mereka menyuruh Yuri merebut Charles dari Karen. Setelah putus, Karen tentu harus melakukan pernikahan politik!
Jika bukan karena menguping saat pulang terakhir kali, Karen tidak akan tahu tentang permintaan Keluarga Rosnah untuk melakukan pernikahan politik!
Karen tahu salah satu di antara dia dan Yuri akan dinikahkan.
Karen juga tahu Yuri lebih disayangi daripada dirinya. Mereka tentu lebih ingin menikahkan Karen dengan Keluarga Rosnah.
Kemarin, Karen mengirim pesan pada Charles dan mengajukan untuk menikah. Karen berpikir dia bisa menghindari pernikahan politik itu jika dia sudah menikah.
Akan tetapi, Charles tidak datang.
Charles memilih Yuri.
Charles tidak akan mengerti bagaimana Yuri yang dia katakan polos dan lugu itu membuatnya hingga terpojok.
Alasan mengapa Karen secara impulsif mengajak Harvey menikah kemarin juga karena dia tidak akan patuh untuk menikah dengan Keluarga Rosnah!
Karen ingin membuat keputusan sendiri akan menikah dengan siapa!
Yuri jelas memperhatikan keengganan Karen. Dia menyembunyikan kesinisan di matanya dan membujuk Karen, "Kakak, dengarkan Ayah. Jangan membuat Ayah kecewa padamu."
Herman langsung menatap Yuri dengan puas. "Yuri memang pengertian!"
Karen mencibir. "Kalau Yuri begitu pengertian, dia saja yang nikah!"
Ekspresi Yuri membeku.
"Kurang ajar!" Herman marah hingga menepuk meja. "Karen, mana bisa Yuri menikah dengan Keluarga Rosnah? Kamu nggak lihat bagaimana kepribadianmu? Siapa yang menyukaimu di lingkaran kita? Itu berkah bagimu untuk bisa menikah dengan Keluarga Rosnah!"
Karen menyeringai saking emosi. "Aku nggak butuh disukai siapa pun. Sedangkan berkah itu ... kamu nikah saja kalau kamu merasa menikah dengan Keluarga Rosnah adalah suatu berkah!"
Plak!
Kepala Karen berpaling ke samping karena ditampar oleh Herman. Dapat dilihat betapa keras tamparan itu.
Manda menyeletuk dengan cemas, "Herman, jangan pukul Karen!"
Karen menyeringai. Manda pandai berpura-pura, tetapi ayahnya buta. Tidak, ayahnya ini sama sekali tidak peduli dan berpura-pura tidak melihatnya.
Herman mendengus. "Kamu nggak akan dipukul kalau patuh. Dua hari ini, makan dengan Keluarga Rosnah dan tetapkan pernikahan kalian."
Karen meraba pipinya yang merah dan bengkak. Tebersit rasa ironis di matanya.
Dia seharusnya paham dia tidak akan mendapat kasih sayang dari ayahnya.
Karen kembali tenang dan berkata dengan suara datar, "Aku nggak mau nikah. Ayah tolak saja."
Lalu, Karen menaiki tangga.
Tebersit rasa kaget di mata Manda dan Yuri. Mengapa Karen begitu tangguh hari ini?
Herman naik pitam. "Kalau kamu nggak mau nikah, keluar dari rumah ini! Aku anggap kamu bukan anakku!"
Karen berhenti dan perlahan menoleh ke belakang.
Yuri tidak bisa menahan senyumnya. Memalukan sekali. Karen yang bersikap tangguh barusan pasti akan memohon maaf sekarang.
Herman juga berpikir begitu. Sikapnya menjadi lebih lembut. "Selama kamu patuh, kamu tetap adalah anak ...."
Sebelum Herman selesai berbicara, Karen menyeletuk, "Oke, aku juga anggap aku nggak punya ayah. Kita putus hubungan."
Ucapan Karen membuat mereka tercengang di tempat.
Detik berikutnya, Karen bergegas naik.
"Karen!"
"Kakak ...."
Yuri dan Manda menyusul ke lantai atas, tetapi tertahan di luar kamar Karen.
"Karen, jangan marah. Aku akan bicarakan lagi dengan ayahmu. Buka pintu dulu, jangan simpan emosi di hati."
Suara Manda sangat lembut, seolah-olah dia adalah ibu kandung Karen.
Karen menyeringai sinis dan mengabaikannya. Karen buru-buru mengemas barang.
Setelah mengisi satu koper, Karen membuka pintu kamar.
Yuri dan Manda yang berdiri di depan pintu terdesak ke belakang oleh koper. Mereka terbengong.
Karen benar-benar ingin pergi?
Yuri menggigit bibir. Tidak bisa. Bukankah dia akan menikah dengan Keluarga Rosnah jika Karen pergi?
Ketika Yuri ingin berbicara, Karen mendorong Yuri dan bergegas berjalan ke luar.
Yuri dan Manda mengejar sambil memanggil Karen. Sampai di ambang pintu ruang tamu, Herman tiba-tiba membentak, "Biarkan dia pergi! Jangan kembali lagi!"
Karen pergi tanpa menoleh ke belakang.
Hanya saja ....
Begitu sampai di depan gerbang vila, Karen melihat ada mobil Rolls-Royce hitam yang parkir di luar.
Karen terkejut. Mobil itu ....
Detik berikutnya, jendela kursi pengemudi diturunkan.