Webfic
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 15

Albert Ketaren? Karen sedikit terkejut. Mengapa penyakit Selvin bisa tiba-tiba kambuh? Karen memberikan nomor teleponnya pada Albert karena khawatir ada hal-hal yang tidak diinginkan. Karen segera menaruh bantal yang dia peluk dan turun dari kasur. Dia berkata dengan suara tegas, "Oke, aku segera ke sana." Setelah memberi beberapa instruksi lagi, Karen mengakhiri panggilan telepon dan pergi keluar dengan tergesa-gesa. ... Di rumah Keluarga Sunardi. Di ruang tamu yang didekorasi mewah, di bawah lampu kristal besar, Yuri dan Manda sedang duduk di sofa mahal bergaya barat sambil mencoba berbagai perhiasan yang berkilauan. Yuri tersenyum riang. Jarinya yang ramping dipasangi permata biru besar. Yuri mengulurkan tangannya ke arah Manda dan berseru dengan ria, "Ibu, permata biru ini cantik sekali. Lihat, warnanya sangat murni ...." Manda tersenyum seraya mengambil gelang permata di meja dan memakaikannya ke pergelangan tangan Yuri. "Ini baru cocok untuk anakku." Batu permata tampak sangat indah dan berkilau di bawah pantulan cahaya lampu. Semua itu dibeli oleh Manda dengan harga mahal dari pelelangan. Semua itu dibutuhkan jika mereka akan menghadiri pesta. Yuri melihat gelang permata di pergelangan tangannya dan tersenyum bahagia. Yuri menyandarkan kepalanya ke bahu Manda, lalu berkata dengan centil, "Ibu paling baik padaku." Manda memeluk Yuri. Mereka tersenyum kegirangan. Pada saat ini, pengurus rumah masuk membawa ponselnya. Pengurus rumah memandang sekeliling untuk memastikan tidak ada orang lain. Lalu, pengurus rumah membungkuk dan melaporkan, "Nyonya, terjadi sesuatu di rumah Keluarga Ketaren." Manda dan Yuri langsung duduk tegak sambil menatap pengurus rumah dengan serius. Manda bertanya, "Apa yang terjadi?" Yuri dengan gugup memegang erat tangan Manda. Dia menunggu jawaban dari pengurus rumah. Pengurus rumah bergegas mengantongi ponselnya dan mendekati Manda untuk berbisik, "Penyakit Selvin kambuh!" Tebersit kekagetan dalam mata Manda dan Yuri. Lalu, mata mereka penuh dengan kegirangan. Manda menatap pengurus rumah dan bertanya dengan ragu, "Benarkah?" Pengurus buru-buru mengangguk. Dia tersenyum dan berkata dengan semangat, "Penyakitnya kambuh parah. Dia menghancurkan semua barang di rumah dan haus darah." Setelah sekian lama bekerja di rumah Keluarga Sunardi, pengurus rumah tahu siapa majikan yang sesungguhnya dan emosi apa yang digunakan ketika berbicara. Yuri kegirangan dan merasa jantungnya berdebar dengan kencang. Kelihatannya, Karen tidak terlalu kompeten! penyakit Selvin kambuh setelah sehari saja! Akan tetapi, Manda berhenti tersenyum. Manda menatap pengurus rumah dengan ekspresi serius. Manda berdeham dan memperingatkannya dengan suara dingin, "Uhm ... kamu harusnya tahu apa yang boleh dikatakan dan apa yang nggak boleh, 'kan?" Manda mengambil cincin permata hijau di meja dengan jarinya dan perlahan menyodorkan cincin itu ke tangan pengurus rumah. Mata pengurus rumah berbinar. Dia menggenggam cincin itu dan memasang senyum menyanjung di wajahnya. "Nyonya nggak perlu khawatir tentang itu." Senyuman kembali menghiasi wajah Manda. Manda duduk tegak dan mengangguk dengan penuh arti. Manda melambaikan tangan pada pengurus rumah seraya berkata, "Hmm, beritahukan langsung kalau ada apa-apa dan kamu akan mendapat penghargaan. Lanjutkan tugasmu!" Pengurus rumah mengangguk dengan hormat dan keluar membawa cincin permata hijau itu. Yuri melipat tangan di depan dada. Yuri menoleh pada Manda dengan kesal dan memprotes, "Kenapa Ibu berikan cincin permata hijau itu padanya? Cincin itu mahal sekali. Apakah dia pantas mendapatkannya?" Mana bisa seorang pelayan pantas mendapatkan cincin permata hijau seharga miliaran? Manda menaruh beberapa aksesori permata lain yang ada di meja ke pangkuan Yuri. Manda berujar dengan suara pelan, "Yuri, ingat baik-baik. Jangan pelit dengan barang-barang ini." Yuri mengambil aksesori itu dan mengernyit, tetapi tidak membantah. Yuri sebenarnya paham. Hanya saja, Yuri tidak rela untuk memberikannya. Akan tetapi, mata Yuri penuh dengan kegirangan mengingat apa yang pengurus rumah katakan barusan. "Dari apa yang Karen bilang waktu itu, gejala haus darah itu bisa dikontrol dengan terapi akupunktur jangka panjang. Sekarang penyakit Selvin sudah kambuh. Bukankah berarti Karen adalah penipu?" Berpikir demikian, Yuri nyaris tidak bisa menahan kegirangan dalam hatinya. Dasar wanita berengsek! Yuri sudah menduganya. Mana mungkin Karen bisa sehebat itu? Semua itu hanya kepura-puraan Karen. Manda meraih cangkir kopi di meja dan menyeruputnya. Manda mengangguk dengan senang. "Kelihatannya, kedok Karen sudah dibuka tanpa campur tangan kita." Manda menaruh cangkir kopinya dan mencibir. "Ibu benaran pikir Karen adalah Sandi. Nggak nyangka, berani sekali Karen sampai mengaku sebagai Sandi yang telah hilang selama beberapa tahun. Cih .... Lihat bagaimana Karen mengatasi situasi ini." Yuri juga terkekeh. Teringat akan kesombongan Karen di rumah sakit hari itu, Yuri sangat gembira saat ini. Bukankah Karen angkuh? Alhasil, Karen jatuh sebawah-bawahnya. Yuri ingin menginjak Karen si berengsek itu di bawah kakinya. Yuri menyeringai sinis dan berkata, "Aku pikir seberapa hebat Karen itu. Tapi, kita nggak perlu mengotori tangan kita lagi." Manda tersenyum lebar seraya menatap Yuri dan menyibakkan rambut Yuri ke belakang telinga. Manda berkata dengan suara lembut, "Karen sama sekali nggak bisa dibandingkan denganmu." Yuri tersenyum lebih girang lagi. Dia berseru dengan bangga, "Tentu saja! Memangnya Karen pantas?" Yuri menyimpan aksesori-aksesori itu ke dalam kotak perhiasan. Sambil memegang kotak perhiasan, Yuri menatap Manda dan berkata dengan girang, "Ibu, aku kabari Kak Charles dulu. Aku nggak akan memberinya kesempatan untuk berbaikan dengan Karen!" Charles hanya bisa menjadi miliknya! Sekarang, Yuri tidak sabar ingin tahu apa yang akan Charles lakukan setelah mengetahuinya! Manda tersenyum seraya melambaikan tangan. "Pergilah!" Yuri membawa kotak itu dan berlari kecil ke lantai atas. ... Di jalan raya di malam hari. Sebuah mobil Ferrari edisi terbatas melaju dengan cepat. Di dalam mobil, Karen memegang kemudi dengan ekspresi suram. Matanya yang terang memperhatikan kondisi jalanan di depan. Mobil melaju dengan cepat, tetapi Karen sibuk memikirkan kondisi penyakit Selvin. Selvin tidak seharusnya kambuh, apalagi lepas kendali dengan secepat itu. Karen terbangun dari lamunannya oleh nada dering ponsel. Karen mengira itu panggilan telepon dari Albert. Dia langsung menjawab tanpa melihat identitas penelepon. "Halo." Alhasil, Karen mendengar suara Yuri yang sarkas. "Kakak, katanya penyakit Tuan Muda Selvin kambuh lagi!" Karen mengernyit. Karen tidak ingin berbasa-basi dengan Yuri. Ketika Karen hendak menutup telepon, Yuri berdecak lidah dan menyindir lagi, "Bukannya kamu Sandi si Dokter Ajaib? Kelihatannya nggak seberapa hebat juga!" Yuri akhirnya mendapat kesempatan sehingga terus mengejek Karen. Yuri memainkan cincin yang baru saja dia dapatkan dari Manda. Yuri mengejek Karen lagi, "Apa mungkin kamu juga mengaku-ngaku menjadi Sandi?" Sudut mulut Karen berkedut. Mengapa Yuri makin bodoh sekarang? Namun ... Yuri sama sekali tidak tahu. Yuri malah berkata dengan sombong, "Karen, tunggu saja sampai kamu dicampakkan oleh Kak Charles! Hahaha ...."

© Webfic, hak cipta dilindungi Undang-undang

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.