Bab 16
Suara tawa Yuri sangat melengking.
Karen bahkan dapat membayangkan seberapa jelek wajah Yuri saat ini.
Karen tidak jadi menutup telepon. Karen menyeringai dan menyindir, "Menurutmu, kalau Charles tahu tentang kepribadianmu ini, seperti apa ekspresinya?"
Ekspresi Yuri membeku. Detik berikutnya, Yuri menepukkan cincin di tangannya dengan kuat ke permukaan meja. Yuri berteriak, "Karen! Kamu pikir Kak Charles akan memercayai omonganmu? Kuberi tahu kamu ...!"
"Cih, memangnya aku nggak bisa rekam suara?"
"Kamu ...! Karen! Kalau kamu berani mengirimnya, aku akan minta Ayah untuk jangan mengakuimu sebagai anak lagi!"
Suara Yuri jelas panik.
Karen mengemudikan mobil sambil melihat ke depan dan mencibir. "Nggak pura-pura lagi? Hanya ini kekuatan tempurmu?"
"Kamu ...!" Yuri tiba-tiba sadar bahwa emosinya terpengaruh oleh Karen. Yuri mengatur pernapasan dan menekan kemarahan dalam hatinya.
Tidak, Karen tidak mungkin merekam suaranya. Bahkan jika Karen benar-benar merekam suara dan mengirimkannya pada Charles, Charles juga tidak akan percaya. Bagaimanapun, di bawah provokasinya, Charles sangat jijik terhadap Karen. Mungkin Charles akan merasa Karen sengaja mengirim rekaman suara itu untuk menjelekkannya.
Seketika, suasana hati Yuri menjadi ria. Dia tersenyum penuh arti dan berujar, "Kamu hanya sekadar omong saja. Kalau ketahuan kamu mengaku-ngaku menjadi Sandi, tahukah kamu apa konsekuensinya?"
Yuri tanpa sadar memegang ponselnya dengan erat. Meski nada suara Yuri mengejek, jika didengarkan dengan saksama, jelas bahwa Yuri sedang menguji Karen. Bagaimanapun ... Karen yang dia kenal tidak memiliki nyali sebesar itu.
Jika Karen adalah Sandi, Yuri juga bisa membuat persiapan lain.
Namun, tidak mungkin Karen tidak mengetahui taktik Yuri ini.
Karen tiba-tiba mendapat sebuah ide. Apakah dia tidak akan diganggu lagi jika dia menuruti kehendak Yuri?
Karen tersenyum. Karen sengaja berkata dengan suara tegas, "Kalaupun aku mengaku-ngaku menjadi Sandi, apa hubungannya denganmu?"
Yuri bergembira.
Benar saja ...!
Untung dia sudah mengaktifkan alat perekam dan merekam kalimat itu.
Yuri berseru dengan suara centil dan tidak percaya, "Kakak, mana bisa kamu begitu? Membohongi orang lain itu perbuatan yang salah."
Wajah Yuri penuh dengan kegirangan dan kebanggaan. Akan tetapi, Yuri berkata dengan berat hati, "Kakak nggak hanya memperparah penyakit Tuan Muda Selvin, juga mempermalukan Ayah dan Kak Charles!"
Karen mengetukkan jari ke kemudi dengan perasaan geli sambil mendengar Yuri bersandiwara. Karen menyahut, "Aku nggak takut malu. Apa hubungannya denganku kalau orang lain menjadi malu?"
Mata Yuri lebih bersinar lagi. Itulah yang dia inginkan!
Yuri masih berpura-pura membujuk Karen, "Kakak sebaiknya minta maaf pada Pak Albert! Jangan terus berada di jalan menyimpang."
Yuri mengembuskan napas. "Aku cari Ayah saja. Biar Ayah yang membujukmu!"
Yuri buru-buru mengakhiri panggilan telepon. Yuri tidak lagi berpikiran untuk mengejek Karen. Pada saat ini, Yuri hanya ingin Charles mendengar rekaman suara itu!
Senyum bengis menghiasi mata Yuri. "Dasar wanita berengsek! Lihat bagaimana kamu bisa bangkit kali ini?"
Dengan adanya bukti itu, Karen tidak akan bisa membantahnya!
...
Di sisi lain, senyuman sirna dari mata Karen. Ekspresinya masam.
Yuri benar-benar tidak sabar ingin membunuhnya!
Bagaimanapun, mereka adalah saudari. Akan tetapi, Yuri ....
Cih!
Entah dulu atau sekarang, Karen terlalu berharap.
Tidak apa-apa. Karen ingin melihat apa yang ingin Yuri lakukan.
Karena Yuri suka keramaian, maka buat saja lebih ramai lagi, supaya semakin seru.
...
Di rumah Keluarga Ketaren.
Vila yang awalnya mewah, bersih, dan rapi kini dipenuhi berbagai macam pecahan yang berserakan di lantai.
Saat Karen buru-buru masuk ke vila, Karen bahkan tidak tahu harus berpijak di mana.
Hanya melihat sekilas, Karen tahu seberapa mengerikannya saat penyakit Selvin kambuh.
Segala sesuatu di rumah dihancurkan.
Bahkan samar-samar tampak bekas benturan di dinding di belakang sofa. Ada noda darah di bagian lekukan itu. Jelas bahwa itu ditinju oleh Selvin.
Karen mengernyit. Mendengar ada suara, Norman bergegas berlari menuruni tangga. Sambil terengah-engah, Norman menatap Karen dan berujar, "Nona Karen, silakan naik."
Karen memalingkan tatapannya dan mengangguk. Lalu, dia mengikuti Norman ke kamar Selvin.
Kondisi di dalam kamar tidak kalah jauh dengan kondisi di ruang tamu. Ada tanda-tanda kerusakan di mana-mana.
Karen berjalan dengan pelan ke dalam.
Albert dan ibunya Selvin, Elena Riyan, sedang berdiri di samping dengan cemas dan khawatir.
Adapun Selvin ....
Selvin diikat di kasur. Rambut dan bajunya sudah dibasahi keringat, seperti baru keluar dari kolam air.
Selvin memelototi Karen dengan matanya yang merah dan ingin mengatakan sesuatu. Akan tetapi, mulut Selvin disumbat sehingga kata-katanya tidak jelas.
Karen mengernyit dan buru-buru berjalan ke depan. Karen hendak memeriksakan Selvin.
Elena langsung menghalangi Karen. Elena memelototi Karen dan berteriak dengan marah, "Bukannya kamu bilang penyakit Selvin nggak akan kambuh? Kenapa anakku masih menjadi seperti ini?"
Ekspresi Albert berubah seketika. Albert buru-buru maju dan memegang tangan Elena. Albert membujuknya, "Elena, jangan macam-macam. Biar Dokter periksakan dulu."
Wajah Elena yang penuh kemarahan berlinang air mata. Elena mengentakkan tangan Albert dan berteriak, "Dokter apaan? Kalau kubilang, dia nggak bisa apa-apa."
Karen mengernyit. Karen juga tidak mengerti mengapa penyakit Selvin tiba-tiba kambuh. Karen harus memeriksakan kondisi Selvin lebih dulu, tetapi Karen tidak dapat bergerak karena Elena mencegatnya.
Elena bersikeras dan menunjuk Karen dengan jarinya yang gemetar. Lalu, Elena menatap Albert dan membentak, "Wanita ini hanya ingin menipu uang kita! Mana mungkin seorang gadis menguasai ilmu kedokteran?"
Melihat Selvin yang terbaring di kasur dan terus melawan, wajah Karen menjadi suram.
Jika kondisi itu terus berlanjut, pembuluh darah di sekujur tubuh Selvin akan bermasalah!
Karen menoleh pada Elena dan menghardik, "Minggir!"
Karena maju dan ingin mendorong Elena, tetapi Albert mendahuluinya. Albert menarik Elena ke arahnya dan menegur Elena, "Apa yang kamu lakukan? Jangan mengacau di sana. Keluar!"
Albert mendorong Elena ke belakang. Meskipun Albert juga memiliki keraguan, kondisi saat ini mengharuskannya untuk menentukan pilihan.
Albert tahu betul bahwa penyakit anaknya tidak dapat ditunda!
Tidak peduli seberapa enggan, Elena tidak bisa berbuat apa-apa karena dihalangi oleh Albert. Akan tetapi, Elena terus berteriak dengan marah. Karen mengabaikannya dan buru-buru berjalan menuju kasur. Karen segera mengeluarkan jarum perak yang selalu dia bawa dan berjalan ke samping tempat tidur Selvin, sama sekali tidak menghiraukan orang-orang di kamar itu.
Karen meraba titik meridian dan menusukkan jarum perak dengan tangkas.
Pada saat yang sama, Karen bertanya dengan tegas, "Kenapa kalian nggak mengikuti hal-hal yang sudah kuperingatkan?"