Bab 14
Manda merenung sejenak. Lalu, dia menatap Yuri dan menenangkannya dengan suara lembut, "Yuri, jangan terlalu khawatir. Charles hanya peduli dengan identitas Karen sebagai Sandi."
"Aku juga paham ... tapi Karen punya identitas itu dan Kak Charles sudah tahu .... Ibu, aku panik sekali! Aku mendapatkan Kak Charles dengan susah payah!"
Yuri benar-benar menangis secara tak terkendali karena sangat ketakutan.
Manda memicingkan matanya yang berkilat akan sinar dingin. Manda berbisik, "Semua itu bukan masalah kalau Karen mati."
Yuri langsung mendongakkan kepala dan menatap Manda. "Maksud Ibu ...."
Manda berdiri dan berjalan menuju meja dekat dinding. Dia mengambil sebutir anggur di piring buah dan menggenggamnya dengan kuat.
Anggur itu pecah dan airnya menciprat.
Manda menatap anggur di tangannya sambil menyeringai sinis dan berkata, "Seperti anggur yang pecah ini. Memangnya Karen bisa apa kalau sudah mati?"
Ekspresi Yuri berubah seketika. "Ini .... Ibu, membunuh orang itu melanggar hukum. Kalau Ibu ...."
Manda tersenyum dingin. "Apa yang kamu takutkan? Ibu bisa membunuh ibunya waktu itu, memangnya nggak bisa membunuh Karen?"
"Tapi ...." Yuri lebih cemas lagi. Manda berujar dengan suara dingin, "Kamu pikir ayahmu benar-benar menyayangimu? Ayahmu adalah orang yang kejam. Kalau nggak, mana mungkin dia mencampakkan ibu kandung Karen? Bahkan nggak pernah ziarah ke makamnya? Ayahmu hanya menyayangimu karena kamu lebih unggul dibanding Karen."
Yuri terbengong di tempat. Dia membuka mulut, tetapi tidak tahu bisa berkata apa.
Apa yang Manda katakan berikutnya mengguncang hati Yuri.
"Kalau Ayahmu tahu Karen adalah Sandi dan punya nilai guna yang begitu besar, menurutmu, apakah masih ada tempat bagi kita di Keluarga Sunardi ini?"
Wajah Yuri menjadi pucat. "Tapi ... aku takut diselidiki ...."
Manda membuang anggur benyek itu ke tong sampah. Manda mengambil tisu dari meja di samping untuk mengelap cairan anggur di tangannya. Lalu, Manda berujar dengan percaya diri, "Apa yang kamu takutkan? Ibu punya cara. Sekarang, cari tahu dulu keadaannya. Jangan beritahukan apa yang terjadi di rumah sakit pada ayahmu."
Yuri mengangguk dengan panik. Manda tersenyum seraya menyeka air mata di wajah Yuri. Manda berucap dengan suara pelan, "Pengurus rumah kita punya kerabat dekat yang kebetulan menjadi pelayan di rumah Selvin. Kamu hanya perlu menjadi dirimu seperti biasa. Serahkan hal ini pada Ibu."
Manda membuang tisu bekas dengan kuat ke tong sampah.
Yuri mengernyit dan menatap Manda dengan khawatir. "Apakah orang itu bisa diandalkan?"
Manda menepuk bahu Yuri dan menenangkannya. "Tentu saja, Ibu akan mengatur hal ini dengan cermat. Yuri, jangan terlalu penakut kalau mau mencapai hal-hal besar. Saat menemui masalah, kamu harus menganalisis dengan tenang dan jangan panik. Selama kamu cukup kejam, nggak ada yang bisa mengalahkanmu. Paham?"
Yuri mengangguk dengan kuat.
"Aku paham."
Ibu benar. Dia hanya dapat memperoleh apa yang dia inginkan dengan menjadi orang kejam!
Yuri memegang tangan Manda yang memegang bahunya. Dia mendongakkan tatapan pada Manda. "Ibu, kebahagiaanku bergantung padamu."
Manda menepuk punggung tangan Yuri dan berkata, "Tentu saja. Anakku adalah orang paling bahagia di dunia!"
Yuri perlahan tersenyum.
Matanya penuh dengan kekejaman.
Karen!
Aku tidak akan membiarkanmu bangkit kembali!
...
Dua hari kemudian.
Di pinggiran Kota Kanes.
Di kompleks vila Keluarga Ketaren.
Ada taman yang indah di sekeliling. Di malam yang sunyi, hanya ada kicauan serangga yang kadang-kadang terdengar.
Tiba-tiba, bunyi sesuatu yang pecah memecah keheningan itu.
Di dalam vila.
Selvin berbaring di kasur dan menahan diri dengan sekuat tenaga. Selvin menggertakkan gigi. Saking kuat, urat nadi di sekujur tubuhnya menonjol dan kulitnya memerah secara aneh.
"Uhm, ah ...!"
Selvin berteriak dan berusaha untuk bangun dari kasur. Dia berjalan sempoyongan ke ruang tamu.
"Darah, darah ...!"
Selvin tampak seperti iblis dari neraka.
Selvin melempar segala sesuatu di dalam rumah. Suara yang mencekam itu membuat para pelayan ketakutan. Tidak ada yang berani mendekati Selvin.
Semua pelayan bersembunyi di pojok dengan gemetar dan ketakutan.
Pengurus rumah menelepon Albert dengan tangannya yang gemetar. "Pak Albert, Tuan Muda, Tuan Muda kambuh lagi!"
Mata Selvin memerah. Dia berteriak, "Mana darahnya?"
Pengurus ketakutan hingga menjatuhkan ponselnya ke lantai. Bahkan ada pelayan penakut yang menangis.
Jika tahu Selvin akan begitu mengerikan ketika penyakitnya kambuh, dia tidak akan menerima pekerjaan itu.
Pelayan-pelayan mengawasi posisi Selvin sepanjang waktu. Salah seorang pelayan ketakutan hingga meringkuk di pojok. Dia bergumam, "Bukankah Tuan Muda sudah disembuhkan oleh Sandi si Dokter Ajaib? Kenapa sekarang masih begini?"
Pelayan yang lain juga berwajah masam. Mereka semua menerka, "Ya. Kalau kubilang, dokter ajaib itu pasti gadungan."
Pengurus rumah juga merenung. Mereka tidak tahu, tetapi dia tahu bahwa Sandi si Dokter Ajaib yang muncul di hari itu adalah nona sulung Keluarga Sunardi.
Semua orang tahu bahwa Nona Karen dari Keluarga Sunardi ini tidak bisa apa-apa, dia hanya tahu mengekor di belakang Charles setiap harinya.
Apakah mungkin wanita seperti itu adalah Sandi si Dokter Ajaib?
Jika dipikirkan lagi, itu belum tentu!
Pada saat ini, Selvin merasa darahnya sedang mendidih, seolah-olah ingin membakar seluruh tubuhnya.
Jantung Selvin seperti digerogoti ribuan semut. Selvin memiliki dorongan yang sangat kuat untuk minum darah!
Penderitaan yang menyiksa ini hanya bisa diredakan dengan meminum darah.
Mata Selvin yang merah padam tertuju pada sekelompok pelayan di pojok. Kakinya seperti tidak terkendali, ingin berjalan ke sana dan meminum darah mereka.
Tidak, tidak bisa!
Selvin mengepalkan tinju dan meninju lemari di dinding dengan kuat.
"Bam ...!"
Selvin mencoba untuk mengontrol keresahan dalam tubuhnya dengan rasa sakit yang hebat.
Pikiran Selvin menjadi jernih untuk sesaat ketika rasa sakit menyerang. Selvin berteriak dengan suara serak, "Keluar! Keluar kalian semua!"
Jika mereka berlama-lama di sana, Selvin tidak bisa menahan diri untuk tidak menyakiti mereka.
Para pelayan jelas sedang dilema. Mereka tidak berani bergerak pada saat ini. Bagaimana jika gejala Tuan Muda Selvin memburuk ketika mereka tiba-tiba lari?
Selvin menatap pengurus rumah dengan matanya yang merah. "Suruh mereka keluar!"
Pengurus rumah paham betul. Dia buru-buru melambaikan tangan pada para pelayan. "Kalian semua libur dua hari. Jangan ke sini lagi."
Para pelayan merasa lega dan langsung melarikan diri ke luar.
...
Di Vila Soloni.
Di kamar tidur, terdapat perabotan berwarna kayu. Di atas meja rias yang bersih dan rapi, ada beberapa tangkai mawar merah muda yang mengeluarkan wangi samar.
Tirai tipis berwarna putih berkibar lembut tertiup angin malam, membuat ruangan tampak sangat nyaman dan harmonis.
Di bawah lampu berwarna putih di langit-langit.
Karen sedang duduk bersandar di kasur sambil memeluk bantal dan menelusuri aplikasi-aplikasi belanja di ponselnya. Wajahnya yang cantik sangat dilema.
Hadiah apa yang seharusnya dia bawa ke kediaman tua Keluarga Yovent?
Karen telah berkeliling di semua mal besar dan kecil di Kota Kanes.
Akan tetapi, Karen tidak kunjung menemukan hadiah yang memuaskan.
Karen sangat galau!
Ponsel Karen tiba-tiba berdering. Karen mengernyit melihat nomor asing itu. Pada akhirnya, Karen menjawab panggilan telepon.
"Halo?"
Albert berseru dengan cemas di telepon, "Dokter, penyakit anakku kambuh lagi! Mohon segera ke sini!"