Webfic
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 13

Harvey Yovent. Karen hanya bisa mengatur pernapasannya. Lalu, Karen menyapa dengan suara pelan, "Halo?" Terdengar suara dingin Harvey di telepon. "Sedang apa?" Mungkin karena di telepon, Karen merasa suara Harvey sangat merdu. Suara Harvey yang rendah dan dalam mengguncang hati Karen yang memang menyukai suara itu. Karen memegang sendoknya dengan erat. Dia menenangkan diri dan menjawab, "Sedang makan." Setelah itu, Karen sadar jawabannya agak ringkas. Dia menambahkan, "Apa kamu sudah makan?" Harvey menyahut dengan suara rendah, "Ya." Seketika, Karen tidak tahu harus berkata apa. Harvey tiba-tiba menelepon, tetapi tidak berbicara. Apa yang Harvey inginkan? Karen merasa sedikit gugup. Karen juga tidak enak hati untuk mengakhiri panggilan telepon lebih dulu. Suasana menjadi canggung. Karen memberanikan diri untuk bertanya, "Kamu ... telepon aku karena ada masalah?" Awalnya, Karen mengira Harvey akan menjawab tidak. Alhasil, Harvey mengiakan. "Ya." Nada suara Harvey sulit dipahami. Pada saat ini, Karen merasa sangat tertekan. Harvey .... Detik berikutnya, tatapan mata Karen membeku karena tiba-tiba ingat akan apa yang terjadi di rumah sakit kemarin. Dengan kekuasaan dan gaya perilakunya yang tegas, Harvey seharusnya sudah mendapat informasi tentang itu. Dia sudah menikah dengan Harvey, maka sebaiknya jangan ada salah paham. Jadi, Karen berkata dengan suara pelan, "Hubunganku dengan Charles sudah berakhir. Aku nggak akan berbaikan dengannya. Jangan terlalu kamu pikirkan ...." Sebelum Karen selesai berbicara, Harvey menyela di telepon, "Nggak nyangka, istriku ternyata adalah Sandi." Hanya saja, suasana hati Harvey tidak dapat dianalisis melalui nada suaranya. Ekspresi Karen membeku seketika. Ada sedikit kekagetan di matanya. Ternyata, ini yang Harvey maksud? Setelah hening sejenak, Karen menjelaskan, "Aku nggak punya kemampuan dan latar belakang apa-apa. Percayalah padaku. Aku nggak akan mengganggumu." Karen hanya ingin melakukan apa yang dia sukai. Karen akan sangat kesulitan jika Harvey mencampuri urusannya secara paksa. Bagaimanapun, Karen tahu seberapa penting aturan dan reputasi bagi keluarga elite. Harvey terkekeh dengan memanjakan ketika mendengar penjelasan Karen yang serius. Harvey menenangkannya dengan suara lembut, "Aku nggak merasa kamu menggangguku." Karen tertegun sejenak. Apakah Harvey tidak keberatan? Karen tanpa sadar memegang ponselnya dengan erat. Dia agak terharu. Sulit untuk menahan senyum. "Terima kasih." Karen sangat bergembira mendengar Harvey berkata demikian. Namun, setelah itu, Karen merasakan hawa dingin yang menjalar melalui telepon. Detik berikutnya, dia mendengar suara Harvey yang dingin. "Aku nggak mau dengar kata itu lagi." Ekspresi Karen membeku. Harvey ... marah? Karen berdeham dan buru-buru berkata, "Aku ... mungkin belum terbiasa. Aku nggak akan katakan itu lagi." Mungkin Karen sendiri tidak sadar, nada suaranya saat ini sedikit memelas. Harvey mengangkat alis. Senyuman menghiasi matanya. "Aku akan pulang dua hari lebih awal." Tangan Karen yang ingin mengambil lauk terhenti. Dia bertanya dengan kaget, "Hah? Bukannya kamu pergi selama tujuh hari?" Harvey mengemas dokumen di mejanya. Lalu, dia menerangkan, "Bisa diselesaikan lebih awal. Selain itu ... sudah saatnya bawa kamu ke rumah keluargaku." Krang! Sendok jatuh dari tangan Karen ke piring dengan suara nyaring. Hati Karen tersentak kaget. Dia buru-buru mengambil sendoknya. Meskipun tahu hari itu akan tiba, Karen tidak menyangka itu akan begitu cepat. Karen tergagap, "Aku, aku belum siap." Harvey yang di sebelah sana pun dapat merasakan kegelisahan Karen. Harvey tersenyum tanpa sadar saat memikirkan tampang Karen saat ini. "Ibuku sudah tahu tentang kamu. Ibuku sangat baik, kamu nggak perlu khawatir. Seperti biasa saja." Penghiburan Harvey sama sekali tidak meredakan kegelisahan Karen. Bagaimanapun, pertemuan dengan orang tua cukup penting .... Karen hanya mengiakan, "Oh, oke." Harvey merasa tidak berdaya. Jawaban Karen acuh tak acuh, jelas tidak menanggapi penghiburannya dengan serius. Pada saat ini, Karen sedang memikirkan hadiah apa yang harus dia beli. Harvey tahu tidak ada gunanya untuk berbicara panjang lebar. Dia berujar dengan suara lembut, "Kamu makan dulu. Aku akan segera pulang." Setelah berbincang singkat, mereka mengakhiri panggilan telepon. Karen tidak makan banyak. Dia duduk di sofa dan menggunakan ponselnya untuk mencari jawaban di internet. "Perlu membawa hadiah apa saat menemui orang tua untuk pertama kali?" Hanya saja, dari berbagai jawaban yang ada di internet, tidak ada yang berguna. Karen memegang ponselnya dengan lesu. Apa yang harus dia lakukan ...? ... Di rumah Keluarga Sunardi. Kamar Yuri didekorasi dengan warna merah muda. Ada beragam produk kosmetik di meja riasnya yang berwarna putih dengan gaya barat. Segala sesuatu berwarna merah muda. Pada saat ini, Yuri berbaring di kasur merah muda bermotif bunga dan menutupi kepalanya dengan bantal. "Tok tok ...." Sebelum Yuri menyahut, gagang pintu kamarnya sudah berputar. Manda membuka pintu dan masuk. Manda menaruh sepiring buah segar yang dibawanya ke meja samping kasur. Manda menatap Yuri yang berbaring di kasur dan berkata dengan suara lembut, "Sayang, Ibu lihat kamu nggak makan banyak malam ini. Kamu nggak lapar?" Yuri tidak merespons dan itu sangat aneh. Manda berjalan menuju kasur dan menyingkirkan bantal yang menutupi kepala Yuri. Manda bertanya dengan ekspresi khawatir, "Kamu kenapa?" Yuri bangun dan langsung memeluk Manda. Dia menangis seraya berkata, "Hiks .... Ibu, aku takut Kak Charles akan meninggalkanku." Manda mengernyit. Manda mendorong bahu Yuri ke depan dan bertanya dengan tegas, "Apa yang terjadi?" Namun, hati Manda sangat berat. Jika Charles benar-benar berpikiran untuk mencampakkan Yuri .... Yuri menangis dengan lebih sedih. Dia menceritakan apa yang terjadi kemarin pada Manda sambil terisak-isak. Mata Manda penuh dengan keterkejutan! Itu, itu mustahil! Yuri menyeka air mata dengan tisu. Dia menatap Manda dengan matanya yang merah dan bengkak. Suaranya parau dan panik. "Ibu, apa yang harus aku lakukan?" Pada saat ini, Manda juga panik. Manda mengepalkan tangan dan meninju kasur. Matanya penuh dengan kebencian. Dia menggertakkan gigi saat berujar, "Karen si berengsek itu. Ternyata dia masih menyimpan rahasia!" Akan tetapi, Manda lebih tidak dapat memercayai bahwa Karen adalah Sandi si Dokter Ajaib! Siapa saja bisa menjadi Sandi, tetapi mengapa itu Karen? Jika tahu akan seperti itu, dia pasti sudah membunuh Karen. Sekarang, Karen malah menjadi malapetaka!

© Webfic, hak cipta dilindungi Undang-undang

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.