Bab 12
Setelah menjawab panggilan telepon dan mendengar apa yang orang itu katakan, ekspresi Charles berubah drastis. Charles berkata dengan suara tegas, "Aku ke sana sekarang."
Charles buru-buru mengakhiri panggilan telepon. Dia berbalik badan dan berkata pada Yuri, "Aku harus menangani urusan penting. Kamu pulang dulu."
Charles langsung pergi tanpa menunggu respons dari Yuri.
Melihat Charles pergi begitu saja, Yuri mengentakkan kaki dengan marah. Ini kedua kali Charles meninggalkannya hari ini!
Pada saat ini.
Karlo dan Karen mengemudikan mobil untuk pulang. Sambil mengemudi, Karlo sesekali memperhatikan Karen yang duduk di sebelahnya. Karlo khawatir Karen menjadi murung.
Melihat Karlo ragu-ragu untuk berbicara, Karen memijat kening dengan tidak berdaya dan menoleh padanya. "Apa yang ingin kamu katakan?"
Karlo tidak merasa canggung karena tepergok. Sebaliknya, Karlo terkekeh. "Aduh, aku hanya mengkhawatirkanmu saja."
"Bagaimana? Kamu nggak apa-apa, 'kan?"
Sebelum Karen menjawab, Karlo melanjutkan, "Nggak usah sedih untuk pria semacam itu. Ada banyak pria di dunia ini, nggak usah takut."
"Aku akan perkenalkan pria unggul padamu, dijamin lebih baik dari Charles."
Sudut mulut Karen berkedut-kedut. Karlo benar-benar sembrono. Karen berkata dengan tidak berdaya, "Terima kasih! Kalau benaran ada pria unggul, simpan untuk dirimu!"
Memperkenalkan pria padanya? Harvey mungkin akan mematahkan kakinya jika tahu. Selain itu, pria seunggul apa yang bisa mengalahkan Harvey?
Melihat Karen menjadi lega, Karlo tertawa terbahak-bahak.
"Omong-omong, apa rencanamu setelah ini?"
Karen menyibakkan rambut ke belakang telinga. Dia menoleh ke luar jendela dan menjawab dengan suara pelan, "Kalau nggak ada urusan lain, aku pulang dulu."
Hari ini, Karen hanya datang untuk formalitas. Pengobatan utamanya adalah terapi akupunktur jangka panjang.
Karlo mengangguk. "Ya, oke. Kamu tinggal di mana sekarang? Aku antar."
Karen termangu dan agak dilema.
Sekarang Karen tinggal di rumah baru Harvey. Sepertinya tidak baik untuk memberitahukan hal itu pada Karlo. Bagaimanapun, hubungannya dengan Harvey juga tidak stabil.
"Antar aku ke Plaza Gemilang saja."
Karlo menjentikkan jarinya dan menunjuk ke arah depan. Dia berseru dengan semangat, "Oke, jalan!"
...
Keesokan hari.
Di kantor CEO kantor cabang Grup Yovent.
Kantor yang besar itu didekorasi secara sederhana, tetapi juga memberi kesan bangsawan dan kemewahan.
Sofa kulit hitam memiliki pola garis yang menonjol dan elegan. Beberapa majalah keuangan diletakkan di atas meja persegi yang terbuat dari kristal. Kaca besar memproyeksikan sinar matahari sehingga menyinari kristal dan membiaskan cahaya yang menyilaukan.
Harvey memakai jas hitam dan duduk tegak di depan meja. Jemarinya yang ramping memegang sebuah dokumen yang dia baca. Harvey memicingkan matanya yang cuek, tampak dingin dan asing.
"Tok tok ...."
Harvey menyahut, "Masuk."
Pintu dibuka. Asistennya, Bernard, berjalan ke dalam.
Bernard membungkuk pada Harvey. "Pak Harvey, Tuan Muda Keluarga Ketaren sudah keluar dari rumah sakit."
Tangan Harvey yang memegang dokumen tertegun sejenak. Tebersit kekagetan di wajah Harvey yang biasanya dingin. "Sudah keluar?"
Penyakit Selvin sangat aneh, tetapi sekarang ayahnya membiarkan Selvin keluar dari rumah sakit. Apakah penyakitnya sudah disembuhkan?
Harvey mengernyit. Muncul keheranan dalam matanya.
Bernard menaruh dokumen di tangannya ke meja Harvey. Dia mengangguk dan menerangkan, "Ya, mereka mengundang Sandi si Dokter Ajaib."
Tebersit keterkejutan dalam mata Harvey. "Sandi sudah muncul?"
Sandi telah menghilang selama beberapa tahun. Sebelumnya, sudah beberapa kali Harvey menyuruh Bernard mencari Sandi. Kini, Sandi memilih untuk membantu Keluarga Ketaren. Mungkinkah Sandi memiliki hubungan dengan Keluarga Ketaren?
Setiap tokoh yang dapat menghebohkan seluruh dunia harus ditanggapi dengan serius.
Bernard mengangguk, tetapi ekspresinya agak aneh. Bernard ragu-ragu untuk berbicara.
Bernard tidak pernah bersikap dilema seperti itu.
Harvey menegur dengan wajah dingin, "Katakan saja."
Asistennya harus bertindak dengan tangkas.
Kedilemaan Bernard membuat Harvey tidak senang.
Bernard menundukkan kepala, hanya bisa menatap ujung kakinya. Dia bergumam, "Sandi si Dokter Ajaib adalah ...."
Harvey langsung memelototi Bernard. Seketika, udara di sekujur tubuh Harvey menurun beberapa derajat.
"Bernard!"
Sekujur tubuh Harvey mengeluarkan aura dingin yang sangat menekan.
Harvey marah!
Kelopak mata Bernard berkedut. Bernard tidak berani menyembunyikan informasi lagi. Bernard berdiri tegak dan berseru dengan nekat, "Sandi si Dokter Ajaib adalah Nyonya Karen!"
Tatapan mata Harvey membeku seketika.
Karen adalah Sandi?
Sebelum Harvey bertanya, Bernard bergegas menceritakan apa yang terjadi di rumah sakit hari itu.
Bernard juga menceritakan tentang Charles yang menyusul ke bawah untuk mengejar Karen.
Bernard menyeka keringat dingin di keningnya dan menoleh pada Harvey dengan waswas. Tidak tahu apakah Pak Harvey akan marah atau tidak.
Bagaimanapun, Nyonya Karen pernah berpacaran dengan Charles.
Namun, saat Bernard mendongakkan tatapan pada Harvey, Harvey malah tersenyum dan tampak ceria?
Bernard terbengong. Harvey tidak marah?
Sebelum Bernard bisa menganalisisnya, Harvey memberi perintah, "Kamu keluar dulu."
Bernard bingung, tetapi tidak berani banyak bertanya. Dia mengangguk pada Harvey dan pergi keluar.
Di dalam kantor, Harvey bersandar di kursi. Harvey menaruh kedua sikunya di meja dan menyilangkan jari dengan santai.
Ada sedikit kehangatan di mata Harvey yang biasanya dingin.
Karen memang tidak sederhana, bukan gadis yang dulu lagi.
...
Hari sudah malam.
Di Vila Soloni nan mewah.
Vila besar itu dipenuhi berbagai perabotan mahal. Skema warna yang sederhana dan monokrom sangat konsisten dengan gaya Harvey.
Kalem, tetapi murah hati. Hanya saja, kesannya agak sepi.
Di dalam vila yang biasanya sangat sunyi, suara panci dan spatula yang datang dari dapur membuat tempat itu terasa seperti rumah.
Usai memakai masker kecantikan, Karen mengoleskan krim wajah dengan pelan menggunakan jarinya. Lalu, Karen turun ke lantai bawah.
Di ruang makan, Karen melihat meja yang penuh dengan hidangan. Karen bertanya dengan heran, "Bibi Liliani masak banyak sekali? Harvey pulang?"
Liliani membawakan alat makan dari dapur. Dia tersenyum usil pada Karen, "Nyonya kangen Tuan Muda?"
Senyuman itu membuat Karen canggung. Dia menyangkal dengan suara rendah, "Nggak ...."
Dia dan Harvey bukan suami istri biasa. Karen tersipu ketika membicarakan topik itu.
Liliani menata alat makan dan tertawa ria. "Hahaha, Nyonya malu-malu."
Liliani juga tidak berani meledek Karen lebih lanjut. Liliani tersenyum dan menutup topik itu. Liliani berujar dengan hormat, "Nyonya, silakan makan. Panggil saja kalau butuh sesuatu."
Liliani mengangguk, lalu berbalik badan dan pergi keluar.
Karen menggosok pipinya yang agak panas dan menarik napas dalam-dalam. Setelah menenangkan diri, Karen mulai makan.
Baru makan dua sendok, Karen merasa bosan dan ingin mencari kesenangan di ponselnya. Ketika tangan Karen menyentuh ponsel, ada panggilan masuk.
Melihat panggilan telepon yang dijawab dalam sedetik, alis Karen berkedut-kedut.
Cepat sekali tangannya ....
Apalagi peneleponnya adalah ....