Webfic
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 11

Lift berhenti. Pintu lift perlahan dibuka. Karen tidak mengatakan apa-apa lagi dan mereka berjalan keluar. Baru beberapa langkah, terdengar suara seorang pria di belakang. "Karen." Itu adalah Charles, bahkan tidak perlu menoleh ke belakang untuk melihatnya. Karlo tidak tahan untuk tidak memutar mata. Dia bergumam, "Anjing gila datang." Benar saja, Charles sudah menyesal! Karen tidak menghiraukan Karlo dan sama sekali tidak berniat untuk berhenti. Wajah Charles masam. Hebat! Karen bahkan berani mengabaikannya sekarang. Charles menekan emosinya. Dia buru-buru menghalangi jalan dan memegang tangan Karen sehingga Karen terpaksa berhenti. Karen mengernyit seraya menatap Charles. "Lepaskan." Charles memegang pergelangan tangan Karen erat-erat dan berkata dengan suara yang dalam, "Karen, sudah beberapa bulan kita nggak ketemu. Kamu nggak mau bicara denganku?" Karen merasa kesal dan mencoba untuk melepaskan tangannya dari cengkeraman Charles. Dia menghardik, "Tuan Muda Charles, tolong perhatikan kelakuanmu." Yuri yang menyusul Charles ke sana tepat melihat itu. Yuri mengentakkan kaki lagi dengan marah dan berteriak, "Kak Charles ...." Detik berikutnya, Charles memelototi Yuri. Peringatan dalam tatapan mata Charles mengguncang hati Yuri dan membuatnya tidak berani berbicara. Yuri tahu betul seperti apa kepribadian Charles. Tidak ada untungnya jika dia membuat Charles marah. Akan tetapi, kemarahan bertubi-tubi dalam mata Yuri ketika melihat Charles memegang tangan Karen. Dasar wanita sialan! Karen selalu menggoda Charles! Yuri merasa sangat enggan! Akan tetapi, Yuri tidak bisa melakukan apa-apa! Dasar wanita sialan! Wanita berengsek! Charles kembali menoleh pada Karen dan berkata dengan suara lembut, "Karen, beri aku belasan menit saja." "Aku hanya ingin bicara denganmu, nggak ada maksud lain." Charles menunggu respons dari Karen. Charles tampak bersikap lembut, tetapi sama sekali tidak berniat untuk melepaskan pergelangan tangan Karen. Karen makin jengkel karena tidak dapat membebaskan tangannya dari cengkeraman Charles. Karen berujar dengan nada tegas dan tatapan mata dingin, "Tuan Muda Charles, hubungan kita sudah berakhir. Kamu sudah bersama adikku, maka jangan selingkuh lagi." Charles mengernyit. Dia merasa sedikit tidak senang, tetapi tidak menunjukkannya di wajah. Charles membantah dengan suara lembut, "Karen, hubunganku dengan Yuri nggak seperti yang kamu pikirkan." Yuri terkesiap. Mengapa Charles tidak membantah hal itu saat menidurinya? Mata Yuri berapi-api! Yuri memelototi Karen dan mengepalkan tangan dengan erat. Semua ini salah Karen si berengsek itu! Karen sudah putus dengan Charles, tetapi masih muncul di depan Charles! Karlo tidak tahan lagi. Karlo maju dan menepis tangan Charles. Dia menghardik dengan suara dingin, "Mau apa kamu main tangan di tempat umum?" Charles tidak siaga sehingga terhuyung. Lalu, Charles menatap Karlo dengan ekspresi mata dingin. Sebelum Charles bisa berbicara, Karlo merapikan lengan bajunya sembari melirik Charles dengan cuek. "Mau bicara? Apa yang mau kamu bicarakan? Kamu mau bilang kamu nggak selingkuh dan ingin berbaikan dengan Sandi?" Karen tersenyum. Karlo memang setia kawan. "Karlo, ini urusanku dengan Karen. Demi Karen, aku memaafkanmu." "Hah?" Karlo mencibir dan berujar, "Ayo! Bagaimana kalau kamu nggak memaafkanku? Kamu pikir dunia ini berporos padamu? Siapa kamu?" Karlo mencecar Charles dengan ketus. Jika bukan karena di tempat umum, Karlo pasti akan menghajar Charles sampai babak belur. Belum pernah Karlo menemui orang yang begitu tidak tahu malu. Charles tidak bisa mengontrol ekspresi wajahnya lagi! Hanya saja, orang lain tidak bisa melihatnya karena Charles memakai kacamata hitam dan masker. Charles menggertakkan gigi saat membentak, "Karlo! Aku peringatkan untuk terakhir kalinya! Jangan mencampuri urusanku dengan Karen!" Karlo yang mudah emosi langsung mengamuk. Karlo menyingsingkan lengan baju, mengadang di depan Karen, dan memelototi Charles. Dia berkacak pinggang seraya berujar, "Eh, aku justru mau ikut campur. Memangnya kenapa?" Karlo maju selangkah. "Ayo! Tunjukkan kemampuanmu padaku!" Charles marah hingga urat nadi di keningnya menonjol. Ketika Charles ingin berbicara, Karen berjalan ke depan dan menghentikan pertengkaran mereka. Karen membentak, "Cukup!" Karen menatap Charles dengan ekspresi mata dingin dan memperingatkannya, "Charles, jangan ganggu aku lagi kalau nggak mau reputasimu sebagai artis besar hancur." "Kamu ...!" Ekspresi Charles berubah seketika. Beraninya Karen mengancamnya? Melihat Karen yang tidak kalah agresif, serta bersikap dingin dan asing di depannya, Charles menggerakkan bibir beberapa kali, tetapi tidak bisa mengatakan apa-apa. Charles tidak dapat memastikan apakah Karen berbohong atau tidak. Jika itu dulu, Charles sama sekali tidak akan percaya, bahkan merasa hina. Sekarang ... Charles tidak yakin. Mungkin ... Karen benar-benar sudah tidak mencintainya lagi. Jika Karen mengungkapkan semua hal itu pada publik .... Wajah Charles makin masam. Saat Karen menyebut nama Charles, ada beberapa orang yang menoleh ke arah mereka. Seketika, Charles tidak berani bertindak gegabah. Karen mencibir dan menoleh pada Karlo. Charles mengepalkan tangan dengan erat dan melihat dua orang itu pergi. Yuri diam di samping dari tadi. Kemarahannya membubung tinggi. Yuri langsung maju dan menggandeng tangan Charles. Dia berseru dengan kecewa dan tidak percaya, "Kak Charles, kenapa Kakak jadi begini? Dia ... apakah dia kakakku ...." Charles merapatkan bibirnya, seperti tidak mendengar apa yang Yuri katakan. Tatapan mata Charles terus mengikuti Karen. Yuri tiba-tiba panik! Charles ... jelas sudah menyesal! Yuri sudah berjerih payah untuk membuat Charles mencampakkan Karen. Mana mungkin Yuri akan membiarkan mereka berbaikan? Yuri berlinang air mata saat bertanya dengan sedih, "Kak Charles benar-benar ingin meninggalkanku?" Charles tetap tidak memberi respons dan menatap lurus ke depan. Yuri benar-benar frustrasi! Terpikir bahwa Charles masih peduli dengan Karen saat ini, Yuri sangat iri! Yuri merasa enggan dan memanggil lagi, "Kak Charles!" Barulah Charles memalingkan tatapannya. Ekspresi matanya agak dingin saat melihat Yuri. Ketika Yuri menunggu Charles untuk berbicara, ponsel Charles tiba-tiba berdering. Yuri menggertakkan gigi dengan jengkel. Siapa itu? Mengganggu saja! Charles sepenuhnya mengabaikan Yuri. Charles langsung mengeluarkan ponsel. Tatapan mata Charles membeku sejenak ketika melihat nomor itu. Kenapa harus meneleponnya di saat ini?

© Webfic, hak cipta dilindungi Undang-undang

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.