Bab 10
Inikah wanita yang mengaku mencintainya?
Jika Karen memberitahunya dari awal, buat apa dia mencari Marsel? Dia telah diberi banyak kesulitan saat mengundang Marsel!
Karen merasa Charles sungguh konyol. Apa hak Charles untuk menyalahkannya?
Norman memahami maksud Albert. Dia buru-buru menengahi. "Tuan Muda Charles, jangan marah. Dokter Sandi pasti punya alasan untuk merahasiakannya."
Lalu, Albert menoleh pada Karlo dan menenangkannya. "Tuan Muda Karlo, jangan marah. Jangan merusak keharmonisan kita."
Karen sama sekali tidak menghiraukan Charles. Dia menoleh pada Albert dan berujar, "Pak Albert, pengobatan hari ini sudah selesai. Aku pulang dulu."
Albert segera maju sambil tersenyum dan berkata, "Dokter Sandi, Tuan Muda Karlo, aku suruh orang antar kalian."
Karlo yang merasa jengkel tetap tersenyum saat berujar pada Albert, "Nggak perlu, kami bawa mobil. Sampai jumpa."
Albert mengangguk sembari tersenyum. "Oke, kita tetap kontak nanti."
Dengan demikian, mereka tidak berbasa-basi. Karlo dan Karen berjalan menuju lift.
Tatapan mata Charles terus mengikuti Karen dan menyembunyikan ekspresi yang tidak dipahami oleh orang lain. Ketika sosok Karlo dan Karen hendak menghilang di belokan, Charles buru-buru mengejar.
Yuri berseru dengan cemas, "Kak Charles, kamu ke mana?"
Akan tetapi, Charles tidak memberi respons, juga tidak berniat untuk berhenti.
Yuri menggertakkan gigi dengan marah dan mengentakkan kaki di tempatnya.
Karen memang berengsek!
Jika bukan karena Karen, mana mungkin dia begitu malu hari ini dan ditinggalkan oleh Charles?
Di dalam lift.
Karen dan Karlo berdiri berdampingan.
Karen menundukkan tatapan. Suasana hatinya agak dingin.
Karlo menoleh pada Karen dan menghiburnya, "Jangan marah, ada aku. Aku nggak akan membiarkan mereka mengganggumu."
Karen menyeringai. "Hari ini mungkin hanya kebetulan. Harusnya nggak akan ketemu lagi saat mengobati Tuan Muda Selvin nanti."
Karlo mengangguk. Lalu, dia bertanya, "Bagaimana kondisi Tuan Muda Selvin sekarang?"
Karen melihat layar notifikasi lift dan menjawab dengan santai, "Bisa disembuhkan secara total, tapi agak repot dan lama."
Karlo menatap Karen sembari tersenyum, juga bersikap rileks. "Nggak apa-apa, yang penting bisa disembuhkan secara total."
Karlo menumpu tangannya pada dinding lift dan tampak sangat percaya diri. "Sudah kubilang, hanya kamu yang bisa menyembuhkannya. Setelah menghilang selama dua tahun, penampilan pertamamu menakjubkan. Kamu memang hebat!"
Untungnya, mutiara yang tertutup debu ini kembali ditemukan.
Karen tidak memiliki pemikiran khusus tentang itu. Dia memilih untuk berpraktik lagi karena tidak ingin terikat oleh masalah cinta.
Melalui cintanya terhadap Charles selama sepuluh tahun, Karen paham bahwa karier jauh lebih penting daripada cinta.
Melihat Karen terdiam, Karlo bersikap serius dan bertanya, "Kamu benar-benar sudah melepaskannya?"
Tentu saja Karen memahami maksud Karlo. Karen tersenyum santai dan bertatapan dengan Karlo. "Tentu saja."
Jika dia masih mencintai Charles, dia sungguh bodoh.
Kesantaian Karen justru membuat Karlo penasaran. Karlo bertanya dengan heran, "Apa kamu menyesal mencintainya?"
Karen termangu. Lalu, dia menyeringai saat melihat kekhawatiran di wajah Karlo. "Jangan mengkhawatirkanku. Aku tidak akan menyesali keputusanku. Aku sudah mencintainya selama bertahun-tahun dan nggak pernah minta putus. Kali ini, aku minta putus dan nggak akan berbaikan lagi."
Karen sudah lelah.
Karlo merasa lega. Setelah sekian lama berkenalan dengan Sandi, Karlo tidak ingin melihat Sandi terus berkorban tanpa pamrih demi pria itu.
Detik berikutnya, Karlo terkekeh. "Bagus kalau begitu! Apa kamu melihat ekspresi mereka tadi?"
Karen menoleh pada Karlo dengan heran. "Ekspresi? Bukannya mereka meragukanku dan memarahiku?"
"Bukan begitu!" Karlo menjelaskan dengan penuh semangat, "Aku memperhatikan mereka dari tadi! Mereka terbengong ketika aku mengungkapkan identitasmu! Terutama Charles. Ekspresi berubah dari masam ke kaget, lalu pucat. Dalam beberapa detik saja, ekspresinya sudah berubah beberapa kali!"
Karen terkejut, bahkan sedikit tidak percaya. Meskipun Charles tidak baik padanya, Charles selalu menjaga perilaku dengan baik di luar. Charles juga adalah seorang artis besar yang pandai mengontrol perasaannya.
Jika bukan karena Karlo tidak pernah berbicara secara lebai, Karen curiga Karlo hanya mengatakan itu untuk membuatnya senang.
Karlo makin bersemangat dan lebih mendekat dengan Karen. Wajahnya yang tampak belia seperti gadis yang suka bergosip.
"Sekarang Charles sudah mengetahui identitasmu, Charles pasti sangat menyesal! Kamu juga putri Keluarga Sunardi, juga adalah Sandi! Coba lihat Yuri yang dia pilih itu. Hanya bisa panggil kakak dengan centil dan menangis. Apa gunanya?"
Lalu, Karlo menyatukan tangan dan menatap Karen dengan kagum, serta memanggil kakak dengan centil seperti seorang gadis.
Karen tidak bisa menahan tawa lagi.
Karen menggelengkan kepala dengan tak berdaya. Ketika Karen ingin berbicara, Karlo berujar lagi, "Lihat saja, selama Charles nggak bodoh, dia pasti akan minta berbaikan denganmu!"
Karlo mengusap dagunya dan menatap Karen sambil tersenyum. "Kalau Charles berani minta berbaikan denganmu, aku pasti akan menculiknya ke hutan dan menghajarnya!"
Karen tertawa lagi dan menggelengkan kepala dengan tak berdaya. "Tenang saja, aku nggak akan berbaikan dengan Charles."
Dia sudah menikah. Sekalipun tidak, dia juga tidak akan berbaikan dengan Charles.
Dia pernah mencintai Charles dan itu sudah cukup!
Karen telah mencintai dengan sungguh-sungguh saat mencintai seseorang, sepadan dengan pengorbanannya yang tulus. Sekarang, Karen tidak ingin mencintai lagi, juga tidak akan berbaikan dengan Charles.
Hanya saja, hati Karen masih terasa sakit ketika memikirkan cintanya terhadap Charles pada sebelumnya.
Charles sering mengajak Karen untuk berhubungan, tetapi menurut Karen, hal terindah itu harus disimpan hingga malam pernikahan sebagai titik akhir yang sempurna untuk cinta mereka.
Alhasil, Charles berselingkuh dengan Yuri.
Apa yang Charles inginkan hanyalah kesenangan sesaat.
Karen terlalu konservatif ....
Karlo menyibak rambut di keningnya dan tersenyum lebar. "Baguslah. Saat kalian berdiri bersama tadi, aku benar-benar khawatir kamu akan goyah dan berbaikan dengannya."
Jika seperti itu, Karlo tidak bisa menahan diri untuk tidak meninju pria bajingan itu.
Karlo mengira Charles adalah pria yang luar biasa. Ternyata, Charles hanya pria biasa dan sama sekali tidak sepadan dengan Karen!
Karen menundukkan tatapan untuk menyembunyikan kesedihan di matanya. Saat Karen mendongakkan tatapan lagi, matanya penuh dengan kelugasan. "Charles nggak pantas aku cintai."
Karlo benar-benar merasa lega. Dia menyiku Karen dan tertawa lantang, lalu berkata, "Ini baru Sandi yang kukenal!"
Sandi yang berada di puncak kejayaan telah kembali!