Webfic
Open the Webfic App to read more wonderful content

Bab 7

Saat jam pulang kerja, Tony menghubungi Sandy dan menyuruhnya pulang. Alasannya adalah hari ini adalah hari pertama kedatangan Sheila, jadi mereka harus makan malam bersama. "Sheila masih punya waktu pulang untuk makan malam bersama setelah menjenguk ibunya, kenapa kamu malah sibuk di kantor?" Setelah mengetahui alasan Sheila dan Sandy tiba-tiba menikah, Tony sangat marah sampai memukul meja beberapa kali. Tony tidak setuju dengan tindakan cucunya itu. "Tega sekali kamu terhadap gadis itu? Kamu memanfaatkan kondisi ibunya untuk memaksanya menikah denganmu, apa seperti ini aku mendidikmu?" Tony geram sekali setelah mengetahui cucunya menghamili seorang gadis muda yang masih kuliah, kemudian memaksa gadis muda itu menikah kontrak dengannya. "Kamu biasanya suka ikut dalam kegiatan amal. Kenapa kamu mempersulit Sheila yang membutuhkan uang untuk pengobatan ibunya?" "Ada yang memasukkan obat dalam minumanku. Saat aku melakukannya, aku dalam pengaruh obat, aku juga nggak bisa berbuat apa-apa. Saat itu, Sheila jadi sopir pengganti. Saat dalam kondisi setengah sadar, gadis itu bertanya apakah aku bisa memberinya dua miliar? Aku ... " Sandy menyadari bahwa tindakannya tidak pantas dan merasa bersalah. "Kenapa Kakek hanya menyalahkanku? Bukankah ini salah Kakek juga yang terus mendesakku menikah?" "Huh ... kalau aku nggak mendesakmu menikah, Keluarga Ferianto nggak akan memiliki penerus. Kalau seperti itu, aku akan bersalah terhadap leluhur kita!" "Percuma membentak, masalah itu sudah lama beres." Tony mengancam dengan melotot, "Kalau kamu nggak segera mengadakan pesta pernikahan dengannya, lebih baik aku mati saja." "Aku masih ada kerjaan proyek, nggak ada waktu." "Beraninya kamu bilang sibuk untuk masalah pernikahanmu sendiri? Pokoknya, pesta pernikahanmu harus diadakan bulan depan. Aku akan menyuruh bibimu membantu mengurusnya, aku juga akan mengawasinya." Tony sengaja keras kepada cucunya yang fokusnya hanya pada karier. Terpaksa dia yang harus mengambil tindakan tegas agar cucunya mau melangsungkan pernikahan. Dari wajahnya yang cantik dan sepasang matanya yang jernih itu, dapat terlihat bahwa dia adalah gadis yang lahir di keluarga baik-baik. Wanita-wanita kaya yang pernah dijodohkan dengan Sandy memang tidak sebaik Sheila. Sambil berpikir, pandangan Tony tertuju ke gadis yang berdiri di tempat yang tidak jauh dari mereka. "Siapa namanya?" Sandy menjawab, "Sheila." Tony senang melihat sikap Sheila yang menjauh saat terjadi pertengkaran antara dia dan cucunya. Tony menyuruh Sheila masuk. Barulah Sheila mau melangkah lagi. "Sheila, duduklah. Aku sedang mendiskusikan pernikahan kalian dengan Sandy. Pesta pernikahan seperti apa yang kamu inginkan? Apa ibumu bisa datang makan bersama kita?" Sheila tidak percaya dengan ucapan Kakek Tony. Jelas-jelas tadi dia melihat Tony ingin memukul cucunya, tidak seperti sedang mendiskusikan pernikahan. Namun, Sheila masih menjawab dengan jujur. "Kakek Tony, ibuku sedang sakit parah, nggak bisa meninggalkan rumah sakit. Kalau ingin mengadakan pesta pernikahan, aku hanya akan mengundang sahabatku dan kedua orang tuanya." "Oh," ucap Kakek Tony dengan suara melembut. Dengan tatapan penuh perhatian, Kakek Tony berkata, "Bagaimana kalau kita mengadakan pesta pernikahan setelah ibumu keluar dari rumah sakit?" Mendengar itu, Sandy mengernyit. Padahal tadi kakeknya memaksanya mengadakan pesta pernikahan, tapi saat berhadapan dengan Sheila, kakeknya malah mau berkompromi. "Baik, terima kasih, Kakek Tony, Pak Sandy." "Dengar itu?" Kakek Tony menepuk paha Sandy dan berkata, "Sheila saja mau bilang terima kasih. Dia benar-benar anak yang pengertian. Kamu harus bantu pengobatan ibunya." Sudut mulut Sandy berkedut. Perlakuan kakeknya sungguh tidak adil. Sheila terharu melihat perhatian dari Kakek Tony. Sebelum Sandy mengatakan sesuatu, Sheila menjelaskan. "Kakek Tony, Pak Sandy sudah banyak membantu pengobatan ibuku. Dia juga menyuruh rumah sakit memindahkan ibuku ke kamar VIP. Ibuku memintaku menyampaikan terima kasihnya kepada Pak Sandy dan Kakek Tony." Sandy hanya duduk diam sambil menatapnya. Sheila menunduk dengan perasaan bersalah. Sebenarnya, ibunya tidak menyuruhnya berterima kasih kepada Sandy. Ibunya hanya berpesan agar Sheila berusaha menerima Sandy sebagai suaminya. Tony menjawab, "Kita semua keluarga, nggak perlu terima kasih. Kalau butuh sesuatu, katakan saja padaku. Sandy orangnya sibuk, takutnya dia nggak bisa membantu semuanya." Tony makin menyukai Sheila. Di matanya, Sheila adalah anak yang tahu sopan santun. Makin bertambahnya umur, Tony makin menyadari jarang ada gadis sebaik Sheila. Sandy beruntung memiliki istri sebaik Sheila. "Baik, Kakek Tony," jawab Sheila. Sheila juga tahu bahwa Sandy tidak bisa membantunya kapan saja. "Sheila, apa mata kuliahmu banyak? Capek nggak?" Sebelum menjawab, Sheila berusaha memahami maksud di balik pertanyaan Kakek Tony. Kakek Tony menanyakan itu pasti bukan benar-benar menanyakan kondisinya, melainkan ingin menyuruhnya berhenti kuliah dan fokus menjaga anak. Namun, dia tidak mungkin berhenti kuliah. Setelah melahirkan, Sheila hanya ambil cuti sampai masa nifas berakhir. "Kuliahku nggak melelahkan. Pak Sandy sudah menyiapkan ahli gizi untuk memastikan kehamilanku sehat." Mendengar jawaban Sheila, ekspresi Kakek Tony tidak berubah. Kakek Tony masih tersenyum padanya. "Semua sudah kumpul. Pak Usman, sajikan makanannya." Sheila ikut di belakang Kakek Tony dan Sandy, kemudian duduk di meja makan. Sheila mengamati gerak-gerik Kakek Tony dan Sandy. Ada pelayan yang khusus melayani mereka bertiga. Ada pelayan yang membawakan air hangat untuk cuci tangan, ada juga pelayan yang menyajikan makanan. Bu Citra berdiri di samping Sheila. Bu Citra mengangkat sendok dan bertanya, "Bu Sheila, ini pertama kalinya saya melayani Anda. Apa ada makanan yang Anda nggak suka?" "Nggak ada." Sebenarnya, dulu Sheila sangat dimanja. Akibatnya, Sheila menjadi suka pilih-pilih makanan. Kalau ada makanan yang dia suka, akan dia makan. Sebaliknya, dia tidak akan makan makanan yang tidak dia sukai. Namun, semenjak ibunya jatuh sakit, terutama saat kondisi ibunya makin parah, Sheila tidak lagi pilih-pilih makanan. Asal bisa mengenyangkan perut, semua makanan dia makan. Bu Citra merasa gugup. Sheila tidak punya permintaan khusus, ini justru membuatnya takut. Bu Citra memilih makanan dengan hati-hati dan menaruhnya di piring Sheila. Bu Citra terus mengamati Sheila untuk mengetahui apakah Sheila suka atau tidak. Sejak Pak Sandy menyuruhnya membersihkan Paviliun Tirta dan mendatangkan ahli gizi untuk ibu hamil, Bu Citra sudah tahu bahwa anak dalam kandungan Bu Sheila sangat penting. Tidak peduli apa pun latar belakang Bu Sheila, ada Pak Tony yang melindunginya, Pak Sandy tidak akan berani macam-macam. Ini namanya ibunya dihormati berkat anak. Mereka bertiga makan bersama tanpa mengobrol sama sekali. Sheila tidak pilih-pilih makanan. Semua yang diambilkan Bu Citra, Sheila memakannya. Sheila sudah hampir kenyang. Dia memperhatikan Kakek Tony dan Sandy belum selesai makan, jadi dia memperlambat makannya. Kalau dia selesai makan duluan, dia bisa merasa canggung. Berbeda saat makan di rumah sahabatnya. Selesai makan, Sheila pergi jalan-jalan dengan Linda. Sheila dan Linda dilarang menyuci, jadi semua piring dan sendok dicuci oleh ayahnya Linda, yaitu Pak Hendi. Kakek Tony menaruh sendoknya. Kemudian, seorang pelayan membawakan serbet, lalu Kakek Tony duduk tenang sambil menyeka mulutnya. Sheila juga menaruh sendoknya karena sudah kenyang. "Bu Sheila, mau makan sup?" tanya Bu Citra. "Nggak perlu, aku sudah kenyang." Kakek Tony seperti bisa membaca pikiran Sheila. "Makanlah lebih banyak. Makin bertambah tua, Kakek hanya bisa makan sedikit." Sheila berkata dengan serius, "Aku benar-benar kenyang, Kek." Mendengar itu, Kakek Tony langsung menepuk Sandy yang masih asyik makan. "Belum kenyang juga? Sheila mau berangkat kuliah, cepat antar dia."

© Webfic, All rights reserved

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.