Bab 8
Sheila terkejut. Kakek Tony meminta Sandy mengantarnya?
Sheila tidak berani, juga tidak mau.
Sandy memancarkan aura yang membuat orang takut. Sheila juga merasa takut duduk di sampingnya. Oleh karena itu, Sheila lebih hati-hati dalam berbicara maupun melakukan sesuatu.
Apalagi saat Sandy menatapnya, Sheila tidak berani membalas tatapannya.
"Kakek Tony, kuliah praktik malam ini berlangsung dua jam, sangat lama," ucap Sheila sambil menoleh ke arah Tony. "Kakek sendiri bilang bahwa Pak Sandy orangnya sibuk. Ada Tania yang mengantar dan menjemputku, itu sudah cukup."
Tony terkejut. Sheila memakai kata-katanya tadi untuk membalas.
"Baiklah. Kakek ikuti keinginanmu."
Sandy mengunyah makanan sambil tersenyum tipis. Pria itu merasa lega.
Matahari perlahan terbenam ke barat. Cahaya oranye menyinari bumi. Sinar-sinar itu seolah-olah membawa harapan dalam kehidupan.
Sheila menikmati pemandangan matahari terbenam melalui jendela mobil. Hari-hari ketika dia pergi ke perpustakaan untuk belajar saat matahari terbenam sepertinya kembali lagi.
"Bu Sheila, mobil nggak boleh masuk ke area kampus. Ini jalan yang paling dekat ke ruang laboratorium."
"Nggak apa-apa, terima kasih." Sheila menyampaikan terima kasih dengan sopan.
Sheila dan Tania sama-sama masuk ke area kampus. Yang satu mengenakan hoodie dan celana jin, sementara yang lain memakai setelan hitam dan sepatu kulit hak pendek dengan tatapan waspada.
Para mahasiswa di sekitar memandang ke arah Sheila dengan penasaran.
Sheila tidak suka menjadi pusat perhatian. Dia mencengkeram tali tas di bahunya dengan erat. Sambil menunduk, dia bergegas pergi ke laboratorium.
Di dalam kelas, beberapa mahasiswa sudah tiba lebih dulu. Mereka berkumpul dalam kelompok kecil. Mereka adalah teman dari mata kuliah pilihan, tetapi Sheila tidak mengenal mereka.
Sheila tidak kenal dengan teman-teman di kelasnya, kecuali tiga orang yang satu asrama dengannya dan ketua kelas yang sering berinteraksi dengannya.
Ada yang berdiri sambil diskusi tentang titik akupunktur dan urutan aliran dua belas meridian di depan maneken akupunktur.
Ada yang sedang menghafal titik-titik meridian di setiap aliran darah.
Ada yang sedang menunduk sambil main ponsel, sesekali mereka mengobrol dengan teman di samping.
Sheila duduk di pojok. Dia membuka daftar isi dalam buku akupunktur, kemudian menghafal isinya. Jika ada bagian yang dia lupa, dia membuka buku lagi.
Universitas Kedokteran Jayantara merupakan universitas terkemuka di seluruh dunia. Sebagian besar dokter ahli merupakan lulusan dari universitas ini.
Bahkan, buku-buku kedokteran yang digunakan di semua universitas kedokteran, semua penulisnya merupakan profesor universitas ini.
Untuk melatih dokter agar lebih memahami ilmu pengobatan tradisional dan modern secara mendalam, banyak mata kuliah di kampus ini memakai metode pembelajaran terbuka atau dijadikan sebagai mata kuliah pilihan.
Sebenarnya, yang Sheila pelajari adalah ilmu pengobatan modern, tetapi dia juga tertarik dengan ilmu pengobatan tradisional. Oleh karena itu, dia memilih semua mata kuliahnya tentang ilmu pengobatan tradisional.
Lambat laun, jumlah orang di kelas makin banyak. Kursi kosong di sebelah Sheila juga terisi.
Kelas yang awalnya ramai tiba-tiba menjadi hening. Sheila mengangkat kepalanya dan melihat ke arah orang yang berdiri di depan.
Orang itu memakai kacamata berbingkai hitam. Dengan senyum lembut di sudut bibirnya, orang yang memiliki perawakan tinggi dan kurus itu berdiri tegak di atas podium.
"Halo, semuanya. Perkenalkan nama saya Ferdi Lesmana. Saya yang akan memimpin kuliah praktik hari ini."
Suara pria itu sangat lembut dan sopan, membuat orang yang mendengarnya merasakan kedamaian.
"Wah!" Terdengar suara tepuk tangan.
Tidak heran jika semuanya begitu antusias melihat Ferdi. Sejak mempelajari tentang ilmu pengobatan tradisional, Sheila mengetahui tentang Keluarga Lesmana yang terkenal.
Ferdi Lesmana berasal dari keluarga dokter pengobatan tradisional. Pada usia lima tahun, dia sudah bisa mengenali bau obat dan membedakan ramuan dari bau rebusannya. Kakek dan ayahnya adalah dokter pengobatan tradisional terkenal yang dihormati baik di dalam maupun luar negeri.
Apalagi kakeknya, Samuel Lesmana, salah satu dari generasi pertama dokter pengobatan tradisional yang terkenal di dalam negeri dan sering menerima kunjungan pejabat tinggi dari berbagai negara.
Keluarga Lesmana memiliki klinik bernama Klinik Herbal Sentosa.
Bisa magang di Klinik Herbal Sentosa menjadi tujuan para mahasiswa yang mempelajari ilmu pengobatan tradisional, sekaligus sebagai bentuk pengakuan.
Ferdi mengangkat tangan, suasana kelas pun menjadi tenang kembali. "Sebelum kita mulai, saya mau menginformasikan sesuatu."
"Tahun ini, Klinik Herbal Sentosa membuka kesempatan bagi tiga orang mahasiswa yang tertarik mempelajari ilmu pengobatan tradisional untuk magang di Klinik Herbal Sentosa. Saya akan memilih dari Jurusan Pengobatan Tradisional, Jurusan Pengobatan Modern, Jurusan Pengobatan Tradisional-Modern. Nanti akan ada guru yang akan membimbing kalian, antara lain Samuel Lesmana, Yunan Lesmana ... "
Sebelum Ferdi selesai bicara, semua mahasiswa langsung heboh.
"Pak Samuel? Wah, beruntung sekali kalau bisa bertemu dengan beliau."
"Pak Yunan nggak istirahat waktu hari libur? Dia masih mau membimbing mahasiswa. Dia layak menjadi dekan kita."
"Aku harus tekun belajar supaya bisa bertemu orang hebat seperti mereka."
"Jangan terlalu berharap. Coba pikir, yang dipilih hanya tiga orang dari tiga jurusan. Bukankah sulit menang?"
Ferdi tidak marah karena perkataannya terpotong, sebaliknya dia tertawa mendengar komentar para mahasiswanya.
Setelah suara riuh agak mereda, Ferdi berkata lagi, "Bagi yang masuk dalam peringkat tiga teratas dalam ujian akhir semester di jurusan masing-masing, nggak pernah bolos kelas, dan lulus semua mata kuliah, akan lolos wawancara."
Usai Ferdi berkata demikian, para mahasiswa langsung mengeluh.
"Pak, kemungkinan menangnya jadi kecil sekali."
"Masih ada sesi wawancara? Berarti aku harus menghafal semua yang kupelajari di jurusan."
Ferdi menyemangati mereka. "Kalian bisa belajar selama dua bulan liburan. Semangat, semuanya."
"Mari kita mulai kuliah praktik hari ini. Ada beberapa mahasiswa yang sudah mempelajari tentang maneken akupunktur ini. Ini dibuat oleh Arya Tohir ... "
Ferdi memulai kelas. Semua mahasiswa berhenti bicara dan fokus mendengar materi yang disampaikan Ferdi.
Sambil mendengarkan, Sheila bertekad dalam hati bahwa dia harus meraih kesempatan magang di Klinik Herbal Sentosa.
Yunan Lesmana bukan saja Dekan Universitas Kedokteran Jayantara, tetapi juga ahli di bidang penyakit hati. Namun, sudah bertahun-tahun, dia tidak pernah praktik di tempat lain selain Klinik Herbal Sentosa.
Asalkan bisa bertemu dengan Yunan, Sheila bisa mendiskusikan penyakit ibunya dengan Yunan. Dengan kombinasi pengobatan modern dan tradisional, Sheila yakin ibunya akan sembuh.
Selesai kelas, langit sudah gelap.
Sheila keluar dari kelas, lalu menunggu Tania di depan pintu keluar gedung kampus.
"Tania, jangan berdiri terus. Di sana ada kursi, kamu bisa duduk sambil menungguku."
"Bu Sheila, ini adalah perintah dari Pak Sandy. Pak Sandy berpesan agar saya harus berada di dekat Anda dan melindungi Anda."
Sheila tidak mengatakan apa-apa. Dia tidak punya hak melawan perintah Sandy.
Di dalam mobil, Sheila melihat jam.
Sudah pukul 8 malam, seharusnya Linda sudah pulang kerja. Sheila mengirimkan pesan ke WhatsApp Linda.
Sheila mengirim pesan. [Linda, aku batal aborsi. Hari ini, aku sudah menikah dengan ayah biologis dari anakku.]
Setelah mengirim pesan, Sheila memegang ponsel dengan kedua tangannya. Sheila bisa merasakan jantungnya berdebar keras.
Dengan kepribadian Linda, dia pasti akan memarahi Sheila habis-habisan.
Sheila menunggu balasan pesan sampai layar ponsel mati secara otomatis. Namun, Linda tidak membalas sama sekali.
Dia menghela napas.
Semua pegawai memang begitu, lembur terus!
Apalagi pegawai magang.
Jika tidak hamil dan menikah dengan Sandy, saat ini Sheila juga mengalami nasib sama dengan Linda.
Saat mengingat hal itu, perasaan Sheila menjadi berkecamuk. Sheila tidak ingin terus terkurung di dalam rumah.
Sesampainya di Paviliun Tirta, rumahnya masih terlihat terang.
Di dalam rumah, suasananya sepi. Sheila tidak melihat ada satu pun orang.
Sheila berencana mandi dulu sebelum mulai belajar.
Karena Sheila memutuskan akan magang, dia harus banyak tentang pengobatan modern dan pengobatan tradisional.
Dia juga harus mempelajari Empat Buku Klasik Pengobatan Tradisional secara mendalam.
Tujuannya agar membuat para dosen itu terkesan!
Selesai mandi, Sheila membereskan kopernya. Saat membuka lemari, Sheila melihat ada setelan jas.
Selain itu, ada dua set perlengkapan mandi di kamar mandi. Sheila menjadi bingung.
Sheila juga melihat ada pakaian pria yang tersusun rapi di lemari. Kemudian, dia baru sadar bahwa Sandy juga akan tidur di kamar ini.
Lalu, Sheila mengenakan piama. Dia pelan-pelan mendekat ke ruangan lain yang masih menyala.
Sheila berdiri di depan pintu. Dia mendengar ada suara seseorang sedang membalik halaman buku di dalam ruangan.
"Sandy ada di sini!" jerit Sheila dalam hati.
Menyadari hal itu, Sheila menjadi gugup.
"Buat apa kamu mengendap-endap?" tanya Sandy dengan tegas.
Sandy melihat bayangan Sheila di lantai. Sandy berpikir, "Baru hari pertama, dia sudah nggak sabar?"
Pria di belakang Sheila terlihat emosi.