Webfic
Open the Webfic App to read more wonderful content

Bab 6

Jessica membelalakkan mata. Pandangannya langsung tertuju ke perut Sheila dengan tatapan tidak percaya. Sambil menggelengkan kepala, Jessica berkata, "Permataku, kamu hamil?" Sheila menutup hidungnya. Sambil mengangguk, Sheila menjawab, "Sudah dua bulan." Jessica merentangkan tangan. "Sini, Ibu peluk kamu." "Ibu!" teriak Sheila. Dia memeluk ibunya sambil berlinang air mata. Jessica tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya menepuk punggung putrinya dengan lembut. Jessica juga baru menyadari bahwa tubuh putrinya makin kurus. Menyadari itu, Jessica menjadi sedih. Dalam pelukan hangat dan aroma khas ibunya, hati Sheila terasa tenang. Kekesalan karena dipecat, kebingungan setelah tahu dirinya hamil, kekesalan karena tidak punya hak mengatur jam makannya sendiri, semuanya lenyap seketika. Sheila duduk kembali. Dengan suara terisak, Sheila bertanya, "Ibu nggak marah?" Jessica menunjukkan senyuman bahagia. "Sejak tahu Ibu hamil kamu, Ibu merasa sangat bahagia. Kamu adalah putri kesayangan Ibu yang berharga. Ibu langsung pindah ke Kota Natura dan melahirkan di sana. Sejak kamu lahir, Ibu merasa sangat bahagia." "Ibu!" kata Sheila dengan nada manja. "Permataku, ceritakan pada Ibu. Kamu kok bisa hamil? Lalu, kenapa Ibu dipindahkan ke kamar VIP?" Bagi Sheila, ini adalah hal yang paling sulit dia ceritakan. Dulu Sheila pernah membohongi ibunya tentang uang dua miliar yang dia dapatkan. Sheila berbohong bahwa dia menjual rumah pemberian Sekolah Natura. Si pembeli tidak menawar harga karena tahu kondisi ibunya sedang sakit. Sheila menjawab dengan ragu, "Dua bulan lalu, aku tidur dengan pria." "Kamu diperkosa?" Jessica menjadi cemas. Dia langsung melihat wajah dan leher putrinya. "Bukan. Aku melakukannya secara sukarela." Sheila segera membantah, dia tahu ibunya cemas. "Hari ini, aku menikah dengan pria itu. Pria itu juga yang meminta rumah sakit memindahkan Ibu ke kamar VIP. Aku tahu telah melakukan kesalahan besar, tapi aku nggak mau aborsi." Sheila tidak mengungkit masalah biaya pengobatan. Dia takut ibunya akan berpikir macam-macam dan tidak mau melanjutkan pengobatan. "Permataku, yang kamu lakukan sudah benar, Ibu nggak marah." Jessica menghiburnya, "Ibu tahu, sebelum kamu mengaku, kamu pasti berat menyimpan semua ini sendirian. Ibu senang melihat kamu berani mengaku di depan Ibu." Jessica tentu saja tahu bahwa putrinya tidak menceritakan semuanya secara jujur karena takut membuatnya khawatir. Putrinya ini berbohong karena sangat menyayanginya. Sheila mendapat juara pertama dalam tes masuk universitas, nilainya juga hampir sempurna. Putrinya ini memiliki masa depan cerah. Kalau bukan karena Jessica jatuh sakit, putrinya pasti bisa kuliah dengan tenang, bebas, dan bahagia. Harga jual tempat tinggal pemberian dari sekolah paling tinggi adalah 1,2 miliar. Hak kepemilikan tempat tinggal itu atas nama Jessica dan Sheila. Tempat tinggal itu tidak bisa dijual tanpa tanda tangan ibunya. Pikiran Sheila masih polos, dia berpikir ibunya ini tidak akan menyadari kesulitannya. Mana ada anak kuliah yang belajar sampai ketiduran di bangku? Sheila pasti mengambil pekerjaan paruh waktu. Sejak kecil, Sheila tidak pernah hidup susah. Bahkan Sheila tidak pernah menyentuh pekerjaan dapur. Gara-gara ibunya sakit, Sheila harus banting tulang mencari uang. Oleh karena itu, bagaimana mungkin Jessica tega menyalahkan putrinya? Putrinya tidak salah, Jessica merasa dialah yang salah karena tiba-tiba jatuh sakit. Jessica merasa dirinya egois karena ingin sembuh agar bisa bersama dengan putrinya. Namun, kalau dia hidup, hidup putrinya akan makin menderita. Dia hanya akan jadi beban bagi putrinya. Namun, entah siapa yang memindahkan dirinya ke kamar VIP? Jessica sudah mengganti nama belakangnya. Sudah 23 tahun berlalu, penampilannya juga sudah berubah, tidak mungkin ada orang yang masih mengingatnya. "Ibu." Mendengar jawaban ibunya, Sheila menangis. "Aku sudah lama menyimpan hal ini karena takut Ibu marah. Aku takut Ibu akan mencampakkanku." "Ibu mengerti, Permataku. Nggak apa-apa. Kita lupakan saja yang sudah berlalu." Jessica tidak mengungkit masalah putrinya lagi. Sambil menyeka air mata putrinya, Jessica bertanya, "Siapa nama suamimu? Seperti apa orangnya?" Siapa namanya? Sheila lupa. Saat mendaftarkan pernikahan mereka, kepala biro memanggil pria itu "Pak Sandy". Sheila juga memanggilnya "Pak Sandy", jadi Sheila tidak tahu nama lengkap pria itu. Sudah menikah, tetapi tidak tahu nama suaminya. Sungguh konyol. Sheila mengeluarkan surat nikah dari tas, kemudian menyerahkannya kepada Jessica. Namanya adalah Sandy Ferianto. Usianya 28 tahun, umurnya cocok. "Ternyata suaminya adalah dia!" pikir Jessica. Jessica menatap foto pernikahan mereka. Dalam foto itu, keduanya tidak tersenyum. Putrinya berambut pendek, tatapan matanya terlihat bingung, sepertinya seseorang telah mengatakan sesuatu padanya. Di sisi lain, Sandy tampak serius, tampan, dan ekspresinya datar. Melihat wajah Sandy, Jessica teringat kembali dengan senyuman sahabatnya, Chika Sudrajat. Hidup Sandy juga malang. Di usianya yang sudah mengerti banyak hal, yang diingat Sandy adalah emosi ibunya yang tidak stabil. "Chika, anak kita berjodoh." "Kedua anak kita sudah menikah," ucap Jessica dalam hati. Dulu Jessica dan Chika sempat bercanda akan menjodohkan anak mereka, ternyata sekarang candaan ini malah menjadi kenyataan. Takdir kadang memang begitu misterius, seolah sudah ditentukan. Saat teringat sahabatnya, mata Jessica menjadi berkaca-kaca. Ketika melihat ibunya tidak merespons, Sheila memanggilnya, "Ibu?" "Nggak apa-apa. Ibu bahagia," jawab Jessica sambil tersenyum, "Dia sepertinya pria baik." "Lumayan." Sheila memujinya setengah hati. "Pria itu sudah mengatur semuanya." Jessica mengembalikan surat nikah kepada putrinya, lalu berkata, "Permataku, kamu harus lihat ke depan. Karena sudah terjadi, maka jangan disesali." "Ya." Awalnya, Jessica ingin menyentuh perut putrinya. Lalu, dia teringat dirinya sedang sakit, jadi dia hanya menggenggam tangan putrinya. "Usia kandunganmu sudah dua bulan. Apa ada keluhan?" "Sementara ini belum ada." "Karena kamu hamil, kamu harus pakai minyak anti strech mark. Pakai dari sekarang, jangan pakai setelah perutmu sudah membesar. Selain itu ... " Jessica hari ini terlihat lebih bersemangat dan bicaranya lebih banyak dari biasanya. Jessica menjelaskan semua yang perlu dilakukan Sheila selama kehamilan sampai masa nifas. Meskipun ... Sandy sudah memberinya dokter ahli gizi, Sheila tetap duduk tersenyum di tepi kasur sambil mencatat semua pesan ibunya. Saat Sheila hendak pergi, Jessica memberikan gelang giok dan kalung giok kepada Sheila. Sheila berpesan, "Ini adalah pemberian nenekmu, sekarang Ibu berikan kepadamu. Apa pun yang terjadi, jangan jual dua perhiasan ini. Apa kamu mengerti?" Sheila memegang perhiasan yang dingin itu. Setelah menceritakan semuanya kepada ibunya, Sheila keluar dari kamar dengan perasaan lega. Sheila berpikir akan menceritakan ini kepada Linda setelah sahabatnya itu pulang kerja. Saat Sheila pulang ke Graha Ferianto, Bu Citra sudah lama menunggu di pintu. "Bu Sheila, Pak Tony berpesan Anda harus makan bersama di rumah untuk merayakan kedatangan Anda di rumah ini." "Makan bersama? Siapa saja?" "Hanya Pak Tony, Pak Sandy, dan Anda." Dengan mengikuti arah jalan sesuai ingatannya, akhirnya Sheila sampai di Paviliun Harmoni. Sandy dan Kakek Tony sedang mengobrol di ruang tamu. Kakek Tony sepertinya sedang marah, dia mengayun-ayunkan tangannya dengan wajah berang. Melihat kejadian itu, langkah Sheila langsung terhenti.

© Webfic, All rights reserved

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.