Bab 446 Selidiki Saja
Leonard tak lagi membuang-buang waktu untuk berbicara dengan Damian. Dia tidak memiliki perasaan apa pun terhadap Damian sebagai ayahnya. Melihat sosoknya, Leonard bahkan tidak memiliki sedikit pun keinginan untuk mendekatinya
Dia sampai di pintu kamar Oliver, mengulurkan tangannya, dan mengetuk pintu. "Kakek, ini aku, Leonard."
"Masuk."
Suara Oliver terdengar lelah, dipenuhi kesedihan yang tak terlukiskan di dalamnya.
Leonard mendorong pintu hingga terbuka, lalu melangkah masuk. Damian mengikutinya dari belakang.
"Kakek."
"Ayah."
Leonard dan Damian berbicara bersamaan. Oliver melambaikan tangannya, memberi isyarat agar mereka duduk.
"Pak Aji, tolong buatkan teh."
"Ya, Tuan Oliver."
Pak Aji segera beranjak menyiapkan teh. Sementara itu, Oliver menunjuk ke kursi di depannya. "Duduklah."
Leonard duduk terlebih dahulu dan Damian buru-buru mengikuti.
"Leonard, tanyakan saja apa yang kamu inginkan."
Oliver menatapnya dengan hangat dan berkata, "Sekarang kamu sudah dewasa, Kakek bisa menyera

Klik untuk menyalin tautan
Unduh aplikasi Webfic untuk membuka konten yang lebih menarik
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda