Webfic
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 9

Sheila terkejut mendengar suara Sandy. Sheila berpikir, "Apa Pak Sandy punya kemampuan melihat tembus pandang? Padahal aku sembunyi di balik tembok, tapi dia tahu?" Sheila pura-pura tidak dengar dan berniat kabur. Namun, dia melihat bayangan di lantai. Saat mengangkat kepala, ada sebuah sinar yang menyorot ke arah Sheila. Sheila terpaksa berdiri di depan pintu sambil menunduk. Sheila tidak berani menatap Sandy. "Aku ... " Sheila merasa gugup. Dia menelan ludah, kemudian berkata, "Kulihat, ruang kerja menyala. Aku hanya ingin memastikan apa benar kamu yang ada di dalam." "Aku tidur di kamar ini." Sheila terkejut. "Di dalam kamar ini, hanya ada satu tempat tidur?" "Ada masalah?" "Nggak." Setelah itu, Sheila kembali ke kamar dengan malu-malu. Sheila berpikir tidak ada masalah tidur sekamar, toh dia sedang hamil. Sheila membereskan pakaiannya dulu, baru kemudian duduk di sofa sambil belajar di bawah sinar lampu. Baru membaca beberapa halaman, ponselnya berbunyi. "Sheila, kamu baru 22 tahun, kenapa kamu menikah? Kamu sudah gila, ya!" Kemarahan Linda bisa dirasakan Sheila melalui ponselnya. Dia mengaktifkan speaker, meletakkannya di sofa, membiarkan Linda melampiaskan amarahnya. "Kamu belum lulus kuliah, malah memutuskan menikah. Kamu membuat aku dan orang tuaku kesal." "Setelah kamu lulus, kamu bisa cari pasangan yang lebih baik. Buat apa kamu menyandera dirimu sendiri dengan menikah sama pria itu?" Linda melampiaskan emosinya, kemudian minum air untuk membasahi tenggorokannya yang kering. "Sheila, kamu harus bercerai secepatnya. Pria itu nggak pantas jadi suamimu." "Linda, pria itu adalah ayah kandung anakku. Dia juga bersedia membiayai pengobatan ibuku, bahkan dia meminta rumah sakit memindahkan ibuku ke kamar VIP. Menurutku, dia pria yang baik." Linda tertegun. Biaya pengobatan Tante Jessica sangat mahal. Suami Sheila mampu membayar tagihan rumah sakit, pria itu pasti pria yang sudah tua dan jelek. Sheila cantik dan baik, dia malah menikah dengan pria yang sudah tua! Meskipun Linda marah, dia masih berpikir rasional. Faktanya, Sheila memang butuh uang. Pada awalnya, Linda ingin menasihati Sheila agar tidak menikah demi uang. Dia ingin menghalangi Sheila berpikir bahwa masalahnya bisa beres dengan menikah. Namun, Linda tidak bisa mengucapkannya. Sheila sendiri sudah berusaha keras, setiap hari dia hanya tidur selama tiga atau empat jam. Padahal dia masih harus kuliah sekaligus bekerja. Namun, dia masih belum bisa mengatasi masalah finansialnya. Selain itu, Sheila juga sedang hamil, tak ada yang tega menyakiti anak itu. Apalagi, Sheila adalah orang yang sangat baik. Linda hanya terus menyalahkan Sheila, memangnya dia bisa membantu Sheila? Tidak bisa. Jadi, dia tidak berhak menyalahkan Sheila. Selain menikah, memang tidak ada solusi lain. Dengan menikah, Sheila bisa melahirkan dengan tenang dan tidak perlu khawatir lagi tentang biaya pengobatan ibunya. Keputusan yang diambil Sheila memang yang terbaik. Di sisi lain, Linda tidak rela melihat sahabatnya mengorbankan dirinya. Sambil menahan emosi, Linda berkata, "Menurutku, keputusanmu sudah benar, Sheila." Sheila mengangguk. Sheila menghibur Linda sekaligus dirinya, "Ya, benar." "Aku akan menemuimu kalau ada waktu senggang. Saat ini, aku masih sibuk, bahkan aku masih di kantor sekarang." Linda mengeluh sambil pura-pura menangis. "Bosku sangat kejam. Kalau dia lembur, semua pegawainya juga wajib lembur. Meskipun gaji pegawai magang termasuk tinggi, aku bisa mati duluan. Sebelum bisa menikmati hasil keringatku, aku sudah mati." "Ya, semua perusahaan suka sekali menyiksa pegawainya. Ternyata kamu yang seorang pengacara juga mengalaminya," kata Sheila. Lalu, Sheila berkata lagi dengan kata-kata pedas, "Bos kalian nggak manusiawi." "Masalahnya adalah kami nggak benar-benar lembur. Atasanku melarang kami pulang lebih awal dan harus terlihat seperti sedang sibuk." "Hah? Kok begitu?" Sheila terkejut. "Atasan kalian jauh lebih nggak manusiawi dibandingkan bos kalian. "Benar, 'kan? Setelah magangku selesai, aku mau mengundurkan diri dari Grup Radhika!" Sheila mencoret-coret buku sambil terus memaki atasan dan bos besar di tempat kerja Linda. Jadi, Sheila tidak sadar bahwa Sandy sudah kembali ke kamar. Ketika mendengar nama Grup Radhika disebut, langkah Sandy langsung terhenti, ekspresinya berubah dingin. Pria itu berdiri di depan pintu sambil mendengarkan pembicaraan Sheila dan Linda. Dia baru sadar bahwa Sheila bukan sedang membahas proyek Grup Radhika. Sebaliknya, Sheila dan temannya hanya memaki bos Grup Radhika, yang tidak lain adalah Sandy. Karena Sandy lembur, ada atasan di kantor yang menyuruh semua anak buahnya ikut lembut. Berita ini baru dia dengar. Biasanya setelah pulang kerja, Sandy langsung turun melalui lift khusus presdir ke ruang bawah tanah. Lalu, keluar dari pintu lainnya. Dia sama sekali tidak sadar masih ada ruangan lain yang menyala. Melihat Sandy berada di kamar, Sheila langsung mengambil ponselnya dengan panik dan berkata, "Linda, sudah dulu, ya." Tanpa menunggu respons Linda, Sheila langsung menutup telepon. Dari layar ponsel, Sheila melihat jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Sandy sepertinya kembali ke kamar untuk tidur. "Aku akan segera membereskannya." Saat Sandy mandi dan gosok gigi, Sheila melipat halaman buku dan menaruhnya di atas sofa. Sheila juga menyusun jadwal kegiatan untuk besok agar dia tahu apa yang harus dia lakukan setelah bangun. Semenjak berhenti kerja, Sheila punya lebih banyak waktu luang. Sheila mau menggunakan waktu luangnya untuk belajar dan menjaga ibunya. Setelah merapikan semuanya dan bersiap untuk tidur, Sheila melihat selembar kertas berisi jadwal di atas meja. Ini adalah jadwal yang dibuat untuk Sheila dan sudah disesuaikan dengan jadwal kuliahnya. Isinya termasuk makan tiga kali sehari, latihan yoga harian, serta waktu untuk konseling psikologis selama kehamilan dan kursus pengetahuan kehamilan. Jadwal ini dibuat untuk satu minggu penuh. Selain tidur siang dan tidur malam, jadwalnya sangat padat, bahkan tidak ada waktu untuk menjaga ibunya. Sheila membaca jadwal itu dengan tangan gemetar. Begitu pintu kamar mandi terbuka, tercium aroma sabun yang wangi. Sheila memberanikan diri berkata, "Pak Sandy, aku nggak bisa mengikuti jadwal yang kamu buat ini." Sandy menatap Sheila sejenak, kemudian berkata dengan tegas. "Sheila, pernikahan kita ini hanya sebatas kontrak kerja sama. Kamu harus mengikuti perintahku, baru aku bisa memenuhi janjiku padamu." Sheila menggigit bibir, dia merasa malu. Kata-kata Sandy bagai tamparan untuk Sheila. Sheila baru menyadari sesuatu. Sejak menandatangani kontrak nikah ini, hidup Sheila berada di bawah kendali Sandy. Tidak ada rasa hormat, Sheila juga tidak ditanyai apakah dia setuju atau tidak. Sheila tidak boleh menolak. Jika Sheila menolak, Sandy mengancam tidak akan membantu biaya pengobatan ibunya Sheila. Sheila merasa tidak berdaya. Baru ini dia merasakan namanya nikah kontrak. Perasaan tidak penting, yang utama adalah mencapai tujuan masing-masing. Perasaan Sheila berkecamuk. Ada perasaan lega karena masalah biaya pengobatan ibunya sudah beres. Ada kegembiraan karena dia bisa membesarkan anak dengan tenang. Ada kesenangan karena bisa fokus belajar. Namun, ada kesedihan karena kehilangan kebebasan. Sheila berbaring dengan posisi miring sambil menatap jendela kamar. Lampu kamar dimatikan satu per satu. Seketika itu juga, kamar menjadi gelap gulita. Suasana kamar sangat hening hingga Sheila bisa mendengar suara aliran sungai di luar. "Mendekatlah ke sini," kata Sandy. "Nggak mau." Sandy tidak memaksanya, akhirnya Sandy yang menggeser tubuhnya mendekat ke Sheila.

© Webfic, hak cipta dilindungi Undang-undang

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.