Bab 10
Sheila merasa tegang. Dia takut Sandy akan melakukan sesuatu padanya.
Sheila menarik selimut, kemudian berbalik dan mengancam Sandy, "Aku ... aku masih hamil."
Sandy terkejut dan berpikir, "Apa aku terlihat senafsu itu?"
Jika bukan karena pengaruh obat, Sandy juga tidak akan berbuat macam-macam terhadap Sheila pada malam itu.
Namun, melihat gadis yang berada di balik selimut, Sandy hanya menjelaskan, "Kalau jarak kita tidur terlalu jauh, nanti kamu kedinginan."
Sheila merasakan pipinya mendadak panas, dia betul-betul malu!
Sheila perlahan mendekat, lalu meletakkan tangannya di atas selimut yang membatasi mereka.
Kerasnya kehidupan membuat Sheila kurang tidur.
Jarang Sheila bisa tidur lebih awal seperti ini. Suara aliran air di luar membuat Sheila tertidur lebih cepat.
Sandy yang berbaring di sebelahnya sedang memikirkan sesuatu. Mengenai pegawai kantor dipaksa lembur karena dia lembur akan menjadi catatan baginya. Dia harus menyelesaikannya dan menghentikan lembur paksa itu.
Prinsip bisnis yang dianut Grup Radhika adalah menguntungkan pemilik dan pegawai. Prinsip Grup Radhika tidak boleh dirusak oleh oknum.
Akhir tahun nanti, Sandy berencana akan melakukan inspeksi.
Setelah membuat rencana di pekerjaannya, Sandy pun tertidur.
Mereka berdua tidur dalam kamar yang sunyi. Waktu pun berlalu cepat.
Esok paginya, Sheila yang tertidur pulas perlahan membuka matanya.
Ini pertama kalinya Sheila bisa tidur sepulas ini. Suasana hati Sheila hari ini sangat baik.
Kemungkinan karena ada Sandy yang tidur satu kasur dengannya. Tangan dan kaki Sheila yang biasanya kedinginan, semalam dia merasakan kehangatan.
Sementara itu, Sandy masih tertidur di sampingnya. Dia mendengar suara napas Sandy yang tenang dan teratur.
Sheila menggerakkan tangan di bawah selimut sambil memandang ke luar jendela.
Terdapat jendela di kedua sisi ruangan. Jendela di sisi Sandy menghadap ke sungai kecil di depan.
Jendela di sisi Sheila menghadap ke pemandangan gunung, yang bentuknya seperti raksasa.
Saat ini, terlihat setengah dari matahari mulai terbit dari balik gunung.
Pemandangan matahari terbit ini sangat indah. Keindahannya sulit digambarkan.
Sheila hanya berbaring sambil menyaksikan matahari makin naik melewati jendela kamar.
Fajar menyingsing, kabut tipis pun menghilang.
Cahaya mulai masuk ke kamar, debu halus bergerak perlahan.
Ini pertama kalinya Sheila menyaksikan matahari terbit secara langsung, mewakili suasana hati yang baik sepanjang hari.
Meskipun Sheila akan menjalani yoga pagi ini, itu tidak akan memengaruhi suasana hati Sheila.
Terdengar suara dari arah samping.
Sandy sudah bangun. Karena itu, Sheila langsung menutup matanya lagi dan pura-pura tidur.
Meskipun menutup mata, Sheila masih bisa merasakan gerakan pria di sampingnya.
Sheila bisa tahu arah jalan Sandy ke mana saja.
Setelah bangun, Sandy pergi cuci muka. Pria itu keluar dari kamar mandi, lalu ganti baju. Dia meletakkan piama di bangku di ujung tempat tidur. Setelah itu, Sandy keluar kamar.
Pintu tertutup, Sheila baru membuka mata. Tubuhnya menjadi rileks dan menghela napas panjang.
"Fiuh!"
Sandy memiliki karisma yang kuat. Sheila selalu menjaga jarak dengannya. Menurut Sheila, menjaga jarak dengan Sandy adalah pilihan yang terbaik.
Namun, keinginannya berbeda jauh dengan kenyataan. Setelah turun ke bawah, Sheila melihat Sandy masih tidur di ruang makan.
Sheila masih berdiri di ujung tangga. Dia merasa ragu, apakah pergi ke ruang makan atau sembunyi dulu sambil menunggu Sandy pergi?
"Bu Sheila." Bu Citra memanggilnya, "Sarapan Anda sudah siap. Silakan menunggu sebentar di ruang makan."
"Oh, ya." Sheila memutuskan duduk di sisi seberang meja bundar, berjauhan dengan Sandy.
Untungnya, Sandy terus melihat ke ponsel di atas meja, sedangkan Sheila mengalihkan pandangan ke arah dapur.
Bu Citra datang membawa makanan. "Bu Sheila, makanlah sedikit. Setelah selesai yoga, Anda boleh makan camilan. Ini ada asam folat yang wajib diminum selama kehamilan."
"Oke," jawab Sheila. Sheila mengunyah pelan-pelan untuk mengulur waktu.
"Pak Sandy, Bu Sheila."
Tanpa perlu menoleh, Sheila tahu itu adalah suara instruktur yoganya, Merry.
"Ya," jawab Sandy. Sandy menyeka mulutnya, kemudian bersiap untuk berangkat kerja.
Sejak kecil, Sheila tidak pernah olahraga. Dia juga tidak suka dengan kelas yoga ini.
Sejak kecil, Sheila tidak pandai olahraga. Gerak tubuhnya tidak terkoordinasi, selain itu, dia juga tak pandai menyanyi.
Dengan mengenakan pakaian olahraga longgar, Sheila kesusahan mengikuti gerakan yang ditunjukkan oleh Bu Merry.
Sheila tidak menikmati latihan yoga yang dilakukan di tepi sungai dan dikelilingi tanaman hijau ini.
Kelas yoga ini terasa menyebalkan.
Bu Merry jadinya kewalahan. Dia harus memperagakan, memperbaiki gerakan Sheila, dan mengawasi agar Sheila tidak terkilir dan jatuh.
Bu Merry mengatakan bahwa yoga selama kehamilan membantu perkembangan janin, meredakan ketidaknyamanan selama kehamilan. Karena guru yoganya sangat baik dan sabar, akhirnya Sheila memutuskan untuk mengikuti kelas yoga ini sungguh-sungguh.
"Hm, bentuk tubuhnya memang bagus, tapi nggak seberapa cantik ... " Ada seseorang mengkritik, "Lebih ke imut."
Tatapan dan nada suara orang itu membuat Sheila merasa tidak nyaman. Sheila tidak menjawab, dia hanya menatap orang di depannya.
Orang yang berada di depannya memiliki kulit yang terawat, usianya kira-kira 40 tahun.
Orang itu memiliki rambut panjang yang diikat menjadi beberapa bagian. Alis dan matanya mirip dengan Kakek Tony.
Orang itu memakai setelan yang sederhana dan sopan, tetapi terlihat mahal.
Karena Bu Sheila tidak merespons, Bu Citra memperkenalkan, "Nona Wanda, ini adalah istri Pak Sandy, namanya Sheila Antono."
"Huh! Ayah memang sudah pikun karena usia. Beraninya kamu seorang pelayan bersikap kurang ajar di depanku. Ayahku nggak pandai memilih pelayan."
Bu Citra menjawab dengan tenang, "Saya ditugaskan Pak Sandy melayani Bu Sheila, juga atas persetujuan Pak Usman dan Pak Tony."
Merasa ditantang, Wanda berkata dengan marah, "Mentang-mentang aku sudah menikah, kamu pikir aku nggak bisa memecatmu?"
Setelah berkata seperti itu, Wanda mengangkat tangan dan mau menampar wajah Bu Citra.
"Tania!"
Sheila langsung memanggil Tania. Tania langsung maju dan menahan tangan Wanda yang hampir menampar wajah Bu Citra.
Setelah melepaskan tangan Wanda, Tania meminta maaf. "Maaf, Nona Wanda. Kami hanya mengikuti perintah dari Pak Sandy dan Pak Tony untuk melindungi Bu Sheila."
"Huh!" Wanda mendengus. Dia menatap Sheila dengan tatapan dingin. Dia diam-diam menganggap bahwa ini semua gara-gara Sheila.
Ayahnya, Tony, menyuruh Wanda datang ke rumah hari ini.
Sesampainya di rumah, Wanda baru tahu bahwa dia disuruh menemani Sheila membeli baju yang sedang tren.
Gadis yang berada di hadapannya memang kelihatan baik hati, tetapi tidak menarik.
Berambut pendek dan bertubuh kurus juga tampak lemah lembut, memunculkan rasa protektif pria.
"Gadis ini mirip dengan Yoana Lesmana, wanita sialan itu!" pikir Wanda.
Ketika teringat Yoana, muncul rasa bangga dalam hati Wanda.
"Sudahlah, sebagai Bibi, aku nggak akan perpanjang masalah ini. Kakekmu memintaku menemanimu beli baju. Ayo, pergi."
"Bibi?"
"Bibinya Sandy rupanya," pikir Sheila.
Sheila mencibir dalam hati. Sheila menilai Wanda pintar mencari alasan untuk menutupi kesalahannya.
"Nggak bisa, sebentar lagi aku mau berangkat kuliah."
"Kamu adalah menantu Keluarga Ferianto, penampilanmu sangat penting. Jangan membuat malu keluarga kami dengan penampilanmu."
Sejak kecil, Sheila juga diajari pentingnya penampilan. Yang dikatakan Wanda memang benar, jadi Sheila tidak menolak.
"Baiklah. Aku ganti baju dulu."
Wanda berkata dengan tersenyum puas, "Oke, cepat, ya."
Wanda merasa istri Sandy ini menarik. Sejak Yoana menghilang, sudah lama Wanda tidak merasa hidupnya tidak semenyenangkan ini.