Bab 174
Pantas saja, Nando selalu mengatakan kalau Nindi terluka secara batin. Dulu, Leo tidak pernah benar-benar memahami maksudnya.
Namun, sekarang semuanya mulai jelas.
Darren mengernyit. "Leo, nggak usah terus-terusan belain Nindi! Tunggu saja sampai penyelidikan selesai. Biar semuanya jelas dan kebenarannya terungkap."
Nindi menyatukan kedua tangannya di depan tubuh, mencoba menenangkan diri. "Menurutku juga lebih baik begitu."
Darren mencibir. "Luar biasa kamu, Nindi. Sudah di ujung tanduk begini, masih aja bisa bersikap sombong."
Memasang ekspresi kecewa, Darren menatap tim penyidik. "Kalian lihat sendiri, 'kan? Selalu aja keras kepala. Aku sih udah nggak kaget lagi sama kelakuannya yang kayak gini. Udahlah, langsung saja ikuti prosedurnya. Nggak usah ragu-ragu lagi."
Darren menghela napas dalam hati. 'Selama Nindi bisa belajar dari pengalaman ini, mungkin suatu hari dia bakal berubah jadi lebih baik.'
Di sisi lain, Sania tampak bersemangat.
Haha! Akhirnya posisimu bakal lengser, Nindi!
Klik untuk menyalin tautan
Unduh aplikasi Webfic untuk membuka konten yang lebih menarik
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda