Bab 1952
Pil Legendaris!
"Ini dikasih Saka?" tanya Renan dengan nada dingin.
"Bukan ... bukan," jawab Marina dengan suara nyaris tak terdengar.
"Bukan? Bukankah ini adalah bayaran setelah kamu tidur dengannya?" sindir Renan dengan senyum penuh ejekan.
Kalimat pendek itu menghantam Marina seperti petir. Tubuhnya bergetar hebat, rasa sakit yang terpendam dalam hatinya membengkak.
Itu memang kenyataan. Pil itu adalah harga dirinya yang telah dia gadaikan. Namun, mendengar kata-kata itu keluar dari mulut pria yang paling dia cintai, rasanya seperti pisau yang menusuk langsung ke jantungnya.
"Renan," katanya, nyaris menangis. "Aku tahu kamu membenciku. Tapi kumohon, jangan tolak pil ini. Hidup memang penuh rintangan, tapi bertahan dan bangkit adalah kebesaran seorang pria sejati. Aku mohon ... jangan sia-siakan ini."
Kata-katanya hampir seperti permohonan yang putus asa.
Renan memandangnya dingin, lalu meraih pil itu dan memeriksanya sejenak sebelum akhirnya menelannya.
Dalam waktu singkat, wajahnya

Klik untuk menyalin tautan
Unduh aplikasi Webfic untuk membuka konten yang lebih menarik
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda