Webfic
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 5

Melihat kemarahan Kakek Tony, Sheila langsung menjelaskan, "Kakek Tony, umurku 22 tahun, aku sudah dewasa." Tatapan mata Sheila membuat Tony percaya. Sheila memiliki daya tarik alami, polos, dan murni. Keberadaannya membuat hati merasa nyaman. "Dia sedang mengandung anakku. Kakek sangat menginginkan cucu menantu dan cicit, jadi aku menikahinya hari ini." Sandy mengeluarkan surat nikah dan menaruhnya di atas meja untuk membuktikan dia tidak berbohong. "Anak berengsek, kamu anggap pernikahan ini hanya main-main, ya!" Nada suara Kakek Tony langsung meninggi, membuat Sheila menjadi ketakutan. Sandy sudah terbiasa dengan nada suara kakeknya yang lantang dan segar bugar itu. "Aku nggak suka dengan wanita yang kakek jodohkan untukku. Aku juga nggak mau buang-buang waktu ikut kencan buta. Gadis ini sedang mengandung anakku, jadi aku mau bertanggung jawab dengan menikahinya." Tony sangat memahami sifat cucunya yang dia besarkan sendiri. Menganggap kencan buta hanya buang-buang waktu memang benar, tetapi belum tentu Sandy bisa tanggung jawab setelah menikah. Cucunya tidak punya pandangan tentang berkeluarga. Bagi Sandy, pernikahan tidak penting dan lebih nyaman hidup sendiri. Gadis yang dibawa pulang cucunya memang memenuhi persyaratan Tony. Sheila gadis yang baik dan imut. Bagaimana dengan kehamilan Sheila? Tony merasa cucunya sudah berumur 28 tahun. Pada usia muda yang penuh gairah, kebutuhan biologis juga bisa dimengerti. Tony berkata dengan gembira, "Karena kalian sudah menikah, jalani pernikahan dengan baik. Perasaan cinta masih bisa dipupuk pelan-pelan. Kamu sudah berkeluarga sekarang, kurangi pekerjaanmu." "Ya, Kek." Sandy tahu bahwa tidak ada gunanya berdebat dengan kekeknya. Lebih baik mengikuti keinginan kakeknya, kakeknya jauh lebih senang. "Nona, siapa namamu?" "Sheila Antono." "Sheila, nama yang bagus." Tony merasa makin puas. "Kamu tinggal sama siapa?" Sheila langsung menatap Tony, Tony juga menatapnya. "Aku tinggal bersama ibuku." "Graha Ferianto sangat luas. Kalau kamu nggak terbiasa makan dan tinggal di sini, ajak ibumu tinggal di sini." Mengingat ibunya masih terbaring di rumah sakit, Sheila merasa sedih. Sambil menahan sedih, Sheila menjawab, "Ya, terima kasih, Kek." Sandy hanya diam saja, tetapi dia mengamati senyuman dan ekspresi Sheila dengan saksama. Setelah makan siang, Sheila mengikuti Sandy ke tempat tinggal mereka. Sandy masih berjalan cepat di depan. Sementara itu, setelah makan, Sheila merasa perutnya sakit kalau berjalan lebih cepat. Oleh karena itu, Sheila mengikuti dari jarak yang tidak terlalu jauh dan tidak terlalu dekat. Begitu mereka melewati pintu gerbang dan memasuki Paviliun Tirta, terdengar suara aliran air yang merdu. Bangunan rumah di depannya begitu tenang dan damai, seolah-olah mereka berada di tengah hutan dan pegunungan. Di depan rumah terdapat sungai kecil. Di atas sungai, ada jembatan melengkung yang menghubungkan ke taman di seberang rumah. "Halo, Pak Sandy." Para pelayan sudah menunggu di ruang tamu. Melihat kedatangan Sandy, mereka langsung menyapa. "Namanya Sheila, panggil dia Bu Sheila." Sandy memperkenalkan Sheila yang berada di sampingnya. Para pelayan menatap Sandy dengan tatapan bingung. Ketika Sandy menoleh, dia baru sadar bahwa Sheila baru sampai di depan pintu. Semua pelayan melihat ke arah Sheila. Sheila maju dengan langkah lebih cepat dan berdiri sejauh satu meter dari Sandy. Semua pelayan menyapa dengan serempak, "Halo, Bu Sheila." Sheila belum terbiasa dengan situasi ini. Sheila menjawab, "Halo semuanya." Sandy segera mengatur, "Mulai sekarang, Sheila adalah nyonya rumah di sini. Kalian harus jaga dia dengan baik untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan." Semua pelayan menjawab, "Baik." Tanpa perlu arahan dari Sandy, mereka satu per satu maju memperkenalkan diri. "Halo, Bu Sheila. Saya, Dokter Indri, dokter ahli gizi Anda. Saya bertanggung jawab untuk memantau nutrisi, kesehatan mental, dan pemeriksaan kehamilan Anda." "Halo, Bu Sheila. Nama saya Merry, instruktur yoga kehamilan Anda." "Halo, Bu Sheila. Nama saya Tania, pengawal sekaligus sopir pribadi Anda." "Halo, Bu Sheila, panggil saya Bu Citra. Saya adalah pengurus Paviliun Tirta. Kalau butuh sesuatu, silakan cari saya." Sheila memandang keempat wanita itu sambil berkata, "Terima kasih semuanya." Bu Citra tampak ramah, sedangkan ketiga orang lainnya tampak tegang. Sepertinya, mereka bertiga baru saja dipekerjakan di sini. "Mulai sekarang, mereka berempat yang akan menjagamu. Kalau ada layanan mereka yang nggak memuaskan, beri tahu aku." "Baiklah," ucap Sheila dengan nada tidak puas. "Bolehkah aku jaga diriku sendiri tanpa mereka?" "Nggak boleh." Sheila tidak menyangka Sandy menolak permintaannya langsung di depan para pelayan. Hal ini membuat Sheila merasa malu. Namun, akhirnya, Sheila menerimanya. Benar juga, Sandy pernah bilang bahwa dia ingin anaknya lahir dengan sehat dan sempurna. Bagi pria itu, anak ini jauh lebih penting daripada perasaan Sheila. Sheila bertanya lagi, "Bolehkah aku pergi menjenguk ibuku?" Ponsel Sandy berbunyi. Sandy hanya melirik, tetapi tidak mengangkat telepon. "Boleh, Tania akan mengantarmu. Selain di Paviliun Tirta, Tania akan terus mengawalmu." "Ya." Sheila mengalah. Bagaimanapun juga, Sheila tidak bisa melawan perintah Sandy. Lalu, pria itu berjalan keluar sambil mengangkat telepon. Dia meninggalkan Sheila sendiri di sini. Sheila menatap mereka berempat, mereka juga menatap Sheila dengan tersenyum. Suasana menjadi canggung. "Bu Sheila, biar saya antar Anda keliling Paviliun Tirta, ya." Bu Citra mengusulkan. "Nggak perlu. Aku hanya mau tahu lokasi tempat untuk kebutuhan dasar, itu sudah cukup." Bu Citra bingung, lalu bertanya, "Bu Sheila, apa maksudnya tempat untuk kebutuhan dasar?" "Ruang makan, kamar mandi, kamar tidur." Setelah mendengar itu, Bu Citra tidak menganggap Sheila tidak sopan. Sebaliknya, dia merasa Sheila adalah gadis yang menarik. "Biasanya, Pak Sandy nggak pernah makan di rumah. Menu makanan akan diaturkan oleh ahli gizi, saya yang memasaknya. Ada ruangan kosong di lantai dua, di dalamnya ada ruang kerja dan satu tempat tidur." "Satu tempat tidur?" pikir Sheila. Sheila berpikir bahwa dia akan tidur sendirian di kamar itu, tidak perlu tidur sekasur dengan Sandy. "Baiklah, aku mengerti. Setelah dari rumah sakit, aku langsung pergi kuliah. Jadi, nggak perlu memasak malam ini." Ada untungnya berhenti bekerja. Selain kuliah, Sheila punya banyak waktu untuk menjaga ibunya. Bu Citra tampak bingung. "Saya harus melaporkan ini kepada Pak Sandy. Pak Sandy yang akan memutuskan saya perlu menyiapkan makan malam atau nggak." Sheila menggigit bibir. Bahkan, sekarang Sheila tidak punya hak mengatur jam makannya sendiri. Suasana menjadi hening. Mereka berempat tetap diam, seolah-olah sedang menunggu perintah Sheila. "Masak saja, deh. Nanti aku akan makan setelah pulang." Sandy yang membuat peraturan di rumah ini, Sheila dan pelayan di rumah harus mengikutinya. Apa pun yang mereka lakukan harus atas persetujuan Sandy, jadi buat apa buang-buang waktu melawan? Mendengar itu, Bu Citra menghela napas lega. "Tania, ayo pergi." Tania menyetir, sedangkan Sheila duduk di belakang. Sheila tampak cemas memikirkan sesuatu. Sheila terus cemas memikirkan cara untuk menjelaskan pemindahan ibunya ke kamar VIP. Ibunya sangat tegas. Apakah ibunya akan marah kalau mengetahui dirinya menikah demi uang dua miliar? Sheila hamil di luar nikah, tetapi tidak tega mengaborsinya. Selain itu, Sheila menikah sebelum lulus kuliah. Sheila merasa bahwa ibunya pasti merasa kecewa. Tania mengikuti dari belakang. Lalu, berhenti di depan kamar pasien. Sheila berdiri di depan pintu sambil menarik napas dalam-dalam. Setelah menenangkan diri, Sheila memberanikan diri membuka pintu. "Ibu." Mendengar suara Jessica, Sheila merasa segala bebannya lenyap seketika. Melihat kedatangan Sheila, Jessica langsung tersenyum lebar. "Permataku." Sheila berjalan ke samping tempat tidur ibunya. Tanpa mengatakan apa-apa, Sheila langsung berlutut dan mengaku salah. "Bu, maafkan aku. Aku sudah membuat Ibu kecewa." Sheila merasa kesalahannya sudah kelewatan, tetapi dia hanya bisa meminta maaf dengan berlutut. Jessica tidak pernah memarahi Sheila. Putrinya sensitif dan memiliki harga diri tinggi, putrinya adalah tipe anak yang tidak bisa dididik dengan keras. Jessica merasa sedih. Dia ingin memapah putrinya berdiri, tetapi tubuhnya tidak kuat. Apalagi kondisi perut Jessica makin membesar, yang membuatnya kesulitan untuk bangun. "Permataku, Ibu sudah bilang. Apa pun yang kamu lakukan, Ibu selalu mendukungmu." Jessica tidak kuat berdiri, dia hanya mengingatkan janjinya kepada Sheila. "Kamu adalah anak yang baik dan pengertian. Ibu percaya semua yang kamu lakukan, sudah kamu pertimbangkan dengan baik." "Nggak ... " Sheila langsung menangis. Dengan terisak, Sheila berkata, "Bu, aku benar-benar ... telah melakukan kesalahan besar." "Sayang, duduklah dulu. Ibu sakit dengan posisi seperti ini." Mendengar itu, Sheila langsung mengangkat kepalanya. Dia melihat ibunya menopang tubuhnya dengan lengannya, bagian putih matanya juga berubah kuning. Sebagai mahasiswi kedokteran, dia tahu bahwa penyakit ibunya makin parah. Sheila langsung berdiri dan membantu ibunya berbaring. "Permataku, Ibu tahu apa pun yang kamu lakukan itu benar." Sheila dulu iri melihat Bu Gina memukul Linda. Andai saja ibunya melakukan hal yang sama. Namun, ibunya terlalu lembut. Dia tidak pernah memukul putrinya. "Ibu." Sheila dan mengaku, "Aku hamil."

© Webfic, hak cipta dilindungi Undang-undang

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.