Webfic
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 3

"Terserah dia." Sandy terlihat cuek walaupun Sheila mengandung anaknya. Johan tertegun sejenak. Bagaimanapun juga, Sandy adalah Presdir Grup Radhika, jadi ini bukan hal yang mengejutkan. "Pak Sandy, gadis itu bisa jadi solusi untuk masalah Anda." Jari lentik Sandy yang sedang mengetik di keyboard, tiba-tiba berhenti. Sesaat kemudian, Sandy berkata, "Jelaskan." "Pak Tony terus mendesak Anda menikah, bahkan jadwal Anda dalam dua bulan ke depan sudah penuh dengan kencan buta. Sekarang sudah ada kandidat yang sesuai untuk Anda nikahi. Kalau Anda menikahinya, Anda mendapat istri dan anak sekaligus. Menurut saya, ini solusi bagus." Dari pembicaraan ini, mereka seperti menganggap pernikahan yang sakral hanyalah bentuk kerja sama. "Selain itu, saya juga dapat informasi bahwa Nona Sheila dan ibunya hanya hidup berdua dan berasal dari keluarga sederhana. Saat ini, ibunya dirawat di rumah sakit spesialis hati. Nona Sheila membutuhkan uang untuk biaya pengobatan ibunya." Maksud dari perkataan Johan sangat jelas. Dengan uang, Sandy bisa mendapatkan istri dan anak. Lagi pula, anak yang dikandung Sheila memang anaknya Sandy. Sheila juga tidak perlu banting tulang lagi mencari uang demi pengobatan ibunya karena keluarganya Sandy kaya raya. Dengan begitu, Pak Tony tidak perlu lagi mengomel. Pak Sandy juga tidak perlu lagi ikut kencan buta. Mereka tahu yang dibutuhkan Sheila. Asalkan memberikan uang yang dibutuhkan Sheila, Sheila akan patuh dan tidak akan membuat masalah. Sheila butuh uang, sedangkan Sandy butuh ketenangan. Tujuan mereka akan tercapai dengan pernikahan ini. Bukankah solusi ini lebih baik daripada menikahi putri dari keluarga kaya? Jika tujuannya adalah menikah dan punya anak, Sheila adalah pilihan yang terbaik. "Apa gadis itu pintar?" "Dia juara pertama dalam ujian IPA di Kota Natura. Nilainya kurang 8 poin dari nilai sempurna." "Tolong buat jadwal." Johan tampak senang. Semua jadwal Sandy, Johan hafal. "Pak Sandy, besok siang jadwal Anda kosong dari pukul 11.00 sampai pukul 13.30." Pandangan Sandy beralih ke Johan. "Besok aku mau ke kantor capil untuk mendaftarkan pernikahan kami. Tolong siapkan berkasnya." "Baik, Pak Sandy." Setelah keluar dari ruangan, Johan menyiapkan berkas untuk pendaftaran pernikahan Sandy besok. Karena bekerja paruh waktu dan menjaga ibunya, Sheila pulang melebihi batas jam malam asrama. Oleh karena itu, Sheila menyewa kamar di rumah seorang warga biasa yang terletak di belakang kampus. Pemiliknya adalah seorang nenek-nenek. Biaya sewa di sini murah, lokasi di sini tenang, dan tidak ada jam malam. Ketika Sheila telah menyelesaikan dua pekerjaan paruh waktunya, jam sudah menunjukkan pukul 4 dini hari. Sheila hanya tidur selama 4 jam. Sheila menggosok gigi dan cuci muka. Dia menuang air hangat ke botol dan merapikan bukunya, kemudian berangkat kuliah. Sheila membeli roti isi sayuran yang harganya paling murah untuk sarapannya. Berkat meraih nilai tertinggi dalam tes masuk, Sheila berhasil diterima di universitas kedokteran terbaik di negara ini. Keuntungan diterima di program studi kedokteran selama 8 tahun adalah dia tidak perlu stres lagi menghadapi tes masuk S2 dan S3. Jarak usianya dengan teman-temannya juga tidak terlalu jauh. Editor utama buku teks berbicara dengan penuh semangat di atas panggung, Sheila juga fokus mendengarkan. Demi mendapat beasiswa nasional, Sheila harus lebih tekun dibandingkan teman-temannya dan belajar sebanyak-banyaknya. Ponsel Sheila yang di dalam pakaiannya bergetar. Karena pakaiannya tebal, Sheila tidak sadar ponselnya bergetar. Saat jam istirahat, Sheila mengeluarkan ponselnya untuk memastikan jam kerjanya. Sheila melihat ada notifikasi tiga panggilan tidak terjawab. Sheila takut itu adalah nomor telepon dokter lainnya di rumah sakit spesialis hati. Sheila keluar dari kelas dan mencari tempat yang sepi. [Halo, nama saya Sheila.] [Nona Sheila, Pak Sandy ingin menikah dengan Anda. Bersiaplah.] [Aku sibuk.] Sheila segera menutup telepon karena mengira itu adalah telepon penipuan. "Aku sibuk." Johan menatap ponselnya dengan wajah tertegun. Johan berpikir, "Apa kata-kataku di telepon kurang jelas?" Johan memutuskan menjemput Sheila di kampus. Dari situs resmi Universitas Kedokteran Jayantara, Johan menemukan jadwal kuliah serta ruangannya. Sehari hanya 24 jam. Sheila tidak ingin buang-buang waktu untuk mendengarkan penipuan di telepon. Sheila berbalik dan pergi tanpa memikirkan lagi telepon barusan. Sheila memanfaatkan jam istirahat untuk mengulang pelajaran yang tadi dijelaskan oleh dosen. Begitu bel pulang berbunyi, Sheila keluar dari pintu belakang kelas. "Nona Sheila." Begitu sampai di luar kampus, ada seseorang yang memanggilnya. Ada seorang pria berjas berdiri. Penampilannya berbeda dengan penampilan petugas asuransi. "Ada perlu apa?" "Saya menjemput Anda untuk pergi mendaftarkan pernikahan di kantor capil." Sheila tertegun sejenak. Dia langsung teringat dengan orang yang tadi menghubunginya. "Menikah dengan bosmu?" "Benar. Bos saya adalah ayah biologis dari anak yang Anda kandung saat ini." Johan melihat makin banyak mahasiswa yang keluar. Untuk menghindar dari sesuatu yang tidak diinginkan, Johan menyarankan, "Mari kita bicarakan di tempat lain. Anda juga bisa sebutkan syarat yang Anda inginkan." "Baiklah." Sheila merasa ragu. Namun, kalau dia ragu, dia akan melewatkan kesempatan memperoleh uang dua miliar. Pria itu pasti tidak keberatan mengeluarkan uang dua miliar. Setelah mengetahui Sheila hamil kemarin, hari ini dia menyuruh anak buahnya menjemput ke kampus. Ini menunjukkan pria itu kaya. Pria itu bersedia menikahinya, artinya anak ini bisa dipertahankan. Kemarin Sheila sudah meyakinkan diri untuk aborsi, bahkan jadwal sudah ditentukan. Namun, semalam Sheila bermimpi. Dalam mimpi, dia bertemu dengan seorang bayi dengan wajah tembam dan mata yang besar. Sambil mengemut jari, bayi itu memanggilnya dengan "ibu". Sheila berusaha melupakan mimpi itu, tetapi sulit sekali. Dia terus berusaha menepis perasaan ini. Setelah negosiasi, di tepi danau kecil di kampus, Sheila dan Johan sebagai perwakilan dari Sandy telah membuat kesepakatan pranikah. "Nona Sheila, kontrak sudah dibuat. Silakan diperiksa, kemudian ditandatangani," ucap Johan sambil menyodorkan kontrak dan pulpen. Sheila menerima kontrak itu, lalu berkata sambil tertawa, "Ternyata sudah kamu siapkan?" Johan menjawab, "Ini kesepakatan yang saling menguntungkan." "Saling menguntungkan? Aku suka itu." Sheila juga berharap ibunya bisa disembuhkan. Setelah mengalami kerugian saat melakukan perjanjian kontrak semacam ini sebelumnya, kali ini Sheila membaca dengan saksama. Isi kontrak sangat jelas. Sheila harus melahirkan keturunan Keluarga Ferianto. Selain itu, dia harus menjalankan kewajibannya sebagai istri dan ibu. Jika terjadi perceraian, dia hanya diberi tunjangan anak dan tidak ada pembagian harta gana-gini. Untuk pihak pria, pria itu harus membantu mencarikan pendonor hati yang cocok untuk ibunya Sheila dan membiayai semua pengobatannya. Mengingat sikap dingin Sandy, Sheila langsung mengoreksi, "Aku ingin pendonor dari jalur legal." "Tentu saja." Sheila menandatangani kontrak itu. "Sudah." Saat menyerahkan kontrak, hatinya campur aduk. Tidak diragukan lagi, melihat situasi saat ini, menikah adalah pilihan terbaik baginya. Hanya dari interaksi singkat ini, Johan bisa menilai bahwa Sheila adalah gadis yang terlalu polos. Mungkin karena Sheila selalu dilindungi orang tuanya, jadinya dia kurang cerdik dan waspada. Gadis sepolos Sheila akan mudah dimanfaatkan orang. Sheila cantik dan polos. Dia memerlukan suami yang memiliki kekuasaan untuk melindunginya. Johan melihat jam. "Tolong bawa kartu identitas Anda, kemudian ikut saya ke kantor capil. Setelah Pak Sandy tiba, kalian bisa langsung daftar. Surat nikah selesai dalam waktu 10 menit." "Setelah pendaftaran, apa ada urusan lain lagi?"

© Webfic, hak cipta dilindungi Undang-undang

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.