Bab 26
Sesampainya di Paviliun Harmoni, Sheila melihat Sandy sedang bermain catur dengan Tony.
Tony memainkan bidak hitam, sedangkan Sandy memainkan bidak putih.
Saat ini, Tony mengangkat satu buah bidak catur berwarna hitam sambil menganalisis permainan catur mereka.
Saat mau meletakkan bidak catur, dia langsung geleng-geleng kepala sambil menarik tangannya kembali.
Sekali diletakkan, tidak boleh dipindah. Oleh karena itu, Tony harus berhati-hati.
Ketika melihat kedatangan Sheila, Tony merasa bertemu penyelamat. Dia segera memanggil Sheila.
"Sheila, bantu Kakek, bagusnya bidak ini ditaruh di mana?"
"Kakek ... " Sheila melirik ke Sandy dengan ragu. "Penonton nggak boleh ikut main."
Tony melambaikan tangan. "Nggak apa-apa, kamu masih kecil."
Sheila tertawa mendengar kata-kata Kakek Tony, kemudian Sheila melirik Sandy lagi.
Setelah mendapat persetujuan dari Sandy, Sheila mengambil bidak catur hitam, lalu meletakkannya di papan catur.
Kakek Tony senang melihatnya. "Astaga, mata Kakek memang suda

Klik untuk menyalin tautan
Unduh aplikasi Webfic untuk membuka konten yang lebih menarik
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda