Webfic
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 1

Di IGD rumah sakit di Kota Jayantara Aroma disinfektan yang kuat membuat Sheila perlahan membuka matanya. Perawat yang sedang mengobati pasien di tempat tidur sebelah melihat Sheila terbangun. "Nona Sheila, apa ada yang sakit?" "Nggak ada." "Kurangi dulu aktivitas beratmu mulai sekarang, kamu sedang hamil." Sheila terkejut. "Aku hamil?" Perawat itu bertanya dengan nada bergurau, "Kamu nggak sadar kalau telat menstruasi?" "Aku ... " Sheila terlihat ragu. Sheila bingung menjelaskan bahwa dia tidak pernah mengalami menstruasi seumur hidupnya. Namun, Sheila merasa tidak perlu menjelaskan kondisinya kepada perawat itu. Perawat mengambil setumpuk kertas di atas meja dan melemparkannya di samping Sheila. "Ini adalah rekam medis dan tagihan rumah sakit. Bayar tagihannya melalui QRIS, lalu kamu boleh pulang." Semua mata memandang ke arah Sheila, membuatnya merasa tidak nyaman. Tanpa memeriksa tagihan rumah sakit, dia langsung membayar tagihan melalui QRIS. Keluar dari ruang observasi, Sheila buru-buru membuka WhatsApp. Dia takut dikira bolos kerja oleh atasannya dan gajinya akan dipotong. Ternyata manajer toko mengirimkan pesan padanya, tetapi ... [Sheila, kamu dipecat. Sebelumnya kamu pakai alasan ibumu dirawat di rumah sakit, sekarang kamu malah pingsan. Gara-gara kamu, hanya ada satu pegawai di toko yang kewalahan melayani pembeli dan menerima komplain dari pembeli. Nggak ada lagi yang mau kerja satu sif denganmu. Aku akan bayar gajimu bulan ini.] Ketika mendapat transferan gaji sebesar 2,16 juta, Sheila langsung menghubungi manajer toko. [Pak, tolong beri saya kesempatan. Saya mohon, saya benar-benar membutuhkan pekerjaan ini.] Manajer menjawab dengan tegas. [Sheila, semua punya kesulitannya masing-masing. Inilah konsekuensi kalau kamu nggak bisa menyelesaikan masalahmu, percuma kamu memohon padaku.] [Pak, ibu saya harus menjalani operasi transplantasi hati, jadi saya benar-benar butuh pekerjaan ini. Saya minta maaf. Saya bersedia bekerja seorang diri dan biarkan pegawai yang menggantikan saya beristirahat ... ] Sebelum Sheila menyelesaikan perkataannya, telepon sudah ditutup. Sheila merasa tidak berdaya. Air mata mengalir di wajahnya. Linda Utomo, sahabat Sheila datang dengan tergesa-gesa. Orang yang memberi kabar bahwa Sheila pingsan tidak menjelaskan secara detail. Orang itu hanya mengatakan bahwa Sheila pingsan saat sedang bekerja, kemudian dilarikan ke rumah sakit dengan ambulans. Ketika Linda melihat Sheila menangis, dia menjadi panik. "Sheila, apa yang terjadi?" Sheila terus menunduk, dia tidak berani menatap Linda. "Linda, aku traktir kamu minum teh rasa anggur." Sheila memaksakan diri untuk tersenyum, tersimpan kesedihan yang sulit diungkapkan di dalam hatinya. "Teh rasa anggur!" pikir Linda. Linda merasa khawatir. "Apa-apaan kamu ini!" Linda memegang dagu Sheila, kemudian mengamati wajah Sheila dengan saksama. Wajah Sheila tampak pucat. Wajah Sheila putih, sehingga kantong mata Sheila yang hitam terlihat jelas. Selain itu, sorot matanya terlihat tidak bersemangat. Selain kurang nutrisi dan kurang tidur, Linda tidak melihat ada penyakit serius pada sahabatnya. Gaji Sheila hanya 36 ribu per jam. Sheila justru menghabiskan gajinya untuk membeli minuman. Padahal itu adalah uang untuk operasi Tante Jessica, Sheila malah menggunakan gajinya untuk mentraktir Linda teh rasa buah. Linda yakin, Sheila sedang mengalami masalah berat. "Sheila, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Linda dengan suara gemetar. Linda merasa khawatir hingga berlinang air mata. "Kalau ada masalah, ceritakan kepadaku. Jangan kamu tanggung sendiri. Ingatlah, ada aku dan orang tuaku yang siap membantumu." "Makanya aku bilang mau mentraktirmu minum. Kita cari tempat mengobrol, nanti aku ceritakan kepadamu." "Aku nggak mau minum. Kita pergi ke taman saja, di sana gratis." Sheila dan Linda berteman sejak kecil. Oleh karena itu, Sheila tahu niat baik Linda. Linda sedang menjaga harga diri Sheila. Teh buah seharga sekitar 40 ribu mungkin tidak mahal bagi orang lain, tetapi itu sangat mahal bagi Sheila. Uang 40 ribu itu bisa Sheila gunakan untuk biaya pengobatan, biaya rawat inap, maupun biaya obat anestesia ibunya. Orang lain bisa beli minuman kapan saja tanpa beban, sedangkan Sheila harus pikir dua kali untuk membeli minuman. Tiupan angin yang dingin membuat pikiran jernih kembali. Bahkan, saat duduk di bawah terik matahari, Sheila masih merasa kedinginan. "Lihatlah," ucap Sheila sambil menyodorkan hasil pemeriksaan kepada Linda. Sheila memandang ke arah pepohonan dan rumput dengan perasaan hampa. Sheila kuliah kedokteran. Apakah dia harus melepaskan pendidikannya demi mempertahankan kehamilan ini? Linda segera melihat hasil diagnosis, yang menyatakan Sheila hamil trimester awal. "Kamu hamil!" Linda langsung berdiri. Linda menyingsingkan lengan bajunya, seperti ingin menantang seseorang berkelahi. "Siapa pria yang menghamilimu? Kuhajar dia!" Sheila menjawab sambil menatap Linda, "Aku melakukannya dengan sukarela." Keangkuhan Linda langsung lenyap. Dengan lembut, Linda duduk di samping Sheila, kemudian memeluk Sheila dengan erat. Karena Sheila melakukannya dengan sukarela, mereka tidak bisa menuntut pria itu secara hukum. "Sampai sekarang, bahkan masalah menstruasimu belum ada orang yang tahu." Linda menghibur Sheila dengan mengatakan, "Usia kehamilanmu masih 8 minggu, masih bisa diaborsi. Aku temani kamu ke rumah sakit sekarang." "Tapi ... " Sambil berlinang air mata, Sheila menjawab, "Meskipun usianya masih 8 minggu, anak ini sudah memiliki detak jantung." Tidak biasanya Sheila menangis, tetapi kali ini Sheila tidak bisa menahan air matanya. Sheila harus menghadapi kehamilan tidak terduga dan kondisi ibunya yang kritis. Kenyataan ini membuat Sheila merasa hidupnya sangat berat. Linda memeluk Sheila dengan erat, memang ini yang harus dia lakukan. Masalahnya sekarang adalah biaya pengobatan Tante Jessica membutuhkan biaya yang besar, sedangkan Sheila baru lulus kuliah 4 tahun lagi. Sheila bahkan tidak sanggup menghidupi dirinya sendiri, bagaimana dia bisa membesarkan anaknya nanti? Akan berat membesarkan anak dalam kondisi seperti ini. Linda menghela napas. Dia bingung bagaimana cara menghibur Sheila, dia juga tidak bisa membantu Sheila. Yang bisa dia lakukan adalah memeluk Sheila saat sahabatnya itu sedih. "Linda, aku belum pernah menyelamatkan nyawa orang satu pun, tapi sudah membunuh nyawa." Sheila mengepalkan tangan erat-erat karena tidak bisa menerima kenyataan hidupnya. "Linda, aku sudah bekerja keras, kenapa hidupku makin hancur?" "Linda, aku sangat lelah. Aku ingin kembali ke Kota Natura. Waktu masih tinggal di sana, ibuku belum jatuh sakit, fokusku hanya belajar." Saat masih remaja, Sheila didiagnosis tidak akan mengalami menstruasi seumur hidup, tetapi masih bisa mengandung seperti normal. Peristiwa pada malam itu begitu singkat, Sheila tidak menyangka dirinya akan hamil. Kenapa pil kontrasepsi begitu mahal? Kenapa salep anti-inflamasi juga mahal? Setelah membayar tagihan rumah sakit, sisa uang yang Sheila miliki hanya cukup membeli salep anti-inflamasi. Di tengah cuaca dingin dan taman yang mulai sepi ... Ada dua gadis yang saling berpelukan sambil menangis. Sheila dan Linda sama-sama menangis. "Kring, kring ... " Ponsel Sheila yang ada di atas kursi berdering. Ketika melihat nama si penelepon, Sheila berhenti menangis. Sheila mulai merasa cemas. Sheila mengangkat telepon dengan perasaan cemas. [Halo, Dok.] [Masih ada biaya pengobatan ibumu belum dibayar. Tolong segera lunasi dalam waktu 3 hari. Kalau nggak, pengobatan ibumu akan dihentikan.] Setelah itu, telepon ditutup. Sheila menatap layar ponselnya yang hancur. Sheila merasa hatinya juga ikut hancur. Saat pikiran Sheila berkecamuk, dia mengelus perut tanpa sadar dan mengajak janin di perutnya bicara. "Nak, maafkan Ibu. Ibu nggak bisa mempertahankanmu." "Kembalilah ke surga dan carilah orang tua yang kaya, harmonis, dan punya waktu merawatmu." "Tante Jessica kenapa?" Linda merasa khawatir saat melihat wajah Sheila murung setelah dihubungi rumah sakit. "Nggak apa-apa." Sheila memaksakan diri tersenyum. "Linda, temani aku ke rumah sakit." "Sheila, aku baru dapat gaji. Pakailah uangku dulu. Kalau nggak cukup, nanti kita pikirkan cara lain." Linda tidak bisa mentransfer uang ini di depan Tante Jessica, karena akan menyakiti hatinya. "Nggak perlu, aku punya, kok." Linda langsung berhenti mengetik kata sandi. Dia menyadari ada sesuatu yang aneh. Gaji Sheila tidak seberapa, sedangkan biaya pengobatan Tante Jessica begitu mahal. Dari mana Sheila dapat uang sebanyak itu? "Sheila, jujurlah padaku tentang kehamilanmu, apa yang sebenarnya terjadi?" Sheila menjawab dengan tenang, "Aku tidur dengan pria demi membayar biaya pengobatan ibuku." Linda langsung mengerti maksudnya. Saking kesalnya, Linda tidak bisa berkata-kata. Linda adalah orang yang paling mengerti kondisi Sheila. Demi uang, Sheila rela melakukan apa saja. Linda merasa dirinya tidak bisa membantu Sheila, apa haknya menyalahkan Sheila? "Malam itu ... "
Bab Sebelumnya
1/100Bab selanjutnya

© Webfic, hak cipta dilindungi Undang-undang

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.