Bab 4
Sheila harus pergi ke rumah sakit menemani ibunya siang ini, sorenya ada pekerjaan paruh waktu, dan malamnya ada kelas praktikum mata kuliah pilihan yang harus diikuti. Jadi, Sheila perlu menanyakan dulu kepada Johan.
Johan merasa cara bertanya Sheila sama persis dengan cara Sandy menanyakan jadwal kepada Johan.
"Pertama, menemani Pak Sandy bertemu dengan Pak Tony. Pak Tony adalah kakeknya Pak Sandy. Kedua, pindah ke Graha Ferianto dan tinggal serumah dengan Pak Sandy."
"Tinggal serumah?" pikir Sheila.
Sheila tidak bisa menerimanya.
Namun, pasangan yang sudah menikah memang seharusnya tinggal serumah.
Dalam kondisinya yang sedang mengandung, apakah Sandy akan bertindak macam-macam?
Namun, Sheila sibuk setiap hari. Dia harus kuliah, bekerja, menjaga ibunya di rumah sakit, dan tidur. Pada dasarnya, mereka tidak akan bertemu, jadi tinggal serumah bukanlah masalah besar.
"Apa mobilmu kosong? Aku akan kemasi koperku sekarang."
Johan membelalakkan mata dan berkata, "Nggak perlu buru-buru." Namun, Johan membatin, "Bukankah dia terlalu nggak sabaran?"
Sheila tahu Johan salah paham. "Nanti siang aku harus menjaga ibuku di rumah sakit, sorenya aku berangkat kerja, malamnya aku kuliah. Jadi, waktu kosongku hanya sekarang."
"Saya mengerti," jawab Johan.
Setelah itu, Johan baru menyadari bahwa dia tidak sedang berbicara dengan Sandy saat ini.
Barang-barang Sheila tidak banyak, dia hanya membawa satu koper.
Mengingat Sheila sedang hamil, Johan berinisiatif membantu membawakan kopernya.
Nenek pemilik rumah ini kebetulan sedang pergi, jadi Sheila menyembunyikan uang sewa minggu ini dan kunci di lubang pintu tempat sang nenek menyembunyikan kunci.
Ketika nanti ada waktu luang, Sheila berencana menemui sang nenek dan menjelaskan padanya.
Di dalam mobil, Sheila menyentuh perutnya.
Dia berkata kepada janin dalam kandungannya, "Nak, jangan tinggalkan Ibu, ya. Aku adalah ibumu. Mulai sekarang, kamu adalah anak kesayanganku."
"Lupakan kata-kataku dulu. Aku nggak sabar menantikan kelahiranmu."
Sheila melihat banyak orang yang akan mengurus pernikahan dan perceraian sedang menunggu di lobi kantor capil.
Johan mengantar Sheila masuk ke ruangan kepala biro. Setelah berbicara sebentar dengan orang di dalam, Johan keluar lagi.
Kepala biro menyerahkan formulir dan contoh pengisian sambil tersenyum, dia menyuruh Sheila mengisi formulir.
Tepat pukul 11, Johan mengantar seorang pria masuk ke ruangan.
Sheila ingat pria itu adalah ayah kandung anaknya
Dibandingkan penampilan Sandy pada malam itu, hari ini pria itu terlihat lebih bersemangat. Dia terlihat berkelas dengan setelan jas yang dia kenakan.
Begitu Sandy datang, kepala biro dan staf lainnya langsung berdiri dan memberi hormat kepada Sandy. "Pak Sandy."
Sheila jadi ingat waktu bekerja sebagai pelayan. Dia juga melakukan cara yang sama saat menyambut tamu.
Tamu adalah raja, bahkan kepala biro juga memberi hormat kepada Sandy. Sepertinya, Sandy memiliki status sosial yang tinggi.
Pria itu memiliki bentuk wajah yang tegas, tulang alis yang menonjol membuat matanya terlihat dalam, garis rahang yang tajam, memberikan kesan dingin dan berwibawa.
Ketika Sandy menatap Sheila, Sheila terkejut dan langsung menunduk. Pandangannya tertuju ke lantai.
Kepala biro hendak memotret mereka. Sheila duduk di samping Sandy untuk difoto.
Selanjutnya, kepala biro meminta Sheila untuk melakukan cap jari, Sheila pun melakukannya.
Suasana di kantor kepala biro menjadi hening.
Duduk bersama pria yang memiliki aura dominan yang kuat, membuat Sheila hanya duduk dengan kepala tertunduk dan menggaruk lepuh kecil di jarinya.
Setelah surat nikah sudah jadi, Sheila hanya mengambil dan memasukkan ke dalam tas tanpa melihat isi surat nikah itu.
Bagi Sheila, ini bukan pernikahan asli, melainkan transaksi untuk membayar biaya pengobatan ibunya.
Terdengar suara kursi bergeser di sampingnya.
Sandy sudah berdiri, Sheila juga ikut berdiri.
Sandy berjalan dengan langkah lebar, Sheila harus berlari mengikuti Sandy.
Sandy sudah naik ke mobil. Johan membuka pintu mobil dan menunggu Sheila naik.
Sheila hanya berdiri di depan pintu mobil. Dia tidak berniat masuk ke mobil.
"Pak Sandy, sekarang aku harus pergi ke rumah sakit untuk menjaga ibuku, baru nanti malam aku pulang ke Graha Ferianto dan bertemu dengan Pak Tony. Koper-koperku sudah dibawa Pak Johan."
"Ikut aku sekarang," ucap Sandy dengan tegas, tidak ada negosiasi.
Sheila diam-diam melawan dengan tetap berdiri di depan pintu mobil.
Johan terus memberi isyarat ke arah Sheila untuk menyuruhnya masuk mobil.
Beberapa saat kemudian, Sandy berkata dengan nada serius, "Kamu sudah menandatangani surat kontrak. Aku nggak suka mengancam orang."
Maksudnya sangat jelas. Jika Sheila melawan, pria itu akan melakukan sesuatu pada ibunya.
Sambil menggertakkan gigi, Sheila mengepalkan tangan dengan erat. Akhirnya, Sheila masuk ke mobil.
Sheila terus melihat ke arah pemandangan di luar jendela yang terus bergerak mundur.
"Kamu harus hentikan semua pekerjaanmu agar anakku lahir sehat dan sempurna."
"Mengenai biaya pengobatan ibumu, aku yang akan bayar. Aku sudah suruh Johan meminta pihak rumah sakit memindahkan ibumu ke kamar VIP."
"Baiklah," jawab Sheila. Omongan Sandy barusan memang benar.
Sheila sedang hamil.
Demi kesehatan janin, Sheila harus menjaga kehamilannya dengan baik.
Meskipun Sandy memiliki aura dominan yang kuat dan nada bicaranya yang berwibawa, pria itu terbukti tidak hanya sekadar omong, dia benar-benar memindahkan ibunya ke kamar VIP.
Asalkan Sheila patuh dan mengikuti keinginannya, seharusnya tidak ada masalah berinteraksi dengannya.
Suasana di dalam mobil langsung hening. Mobil Rolls-Royce Phantom melaju di kawasan yang ramai, dengan gedung-gedung tinggi berdiri di kedua sisi jalan.
Sandy memperhatikan gerak-geriknya. Tidak peduli latar belakang Sheila, menempatkan gadis ini di sisinya adalah yang paling aman.
Ketika mobil berhenti, Sheila melihat dua pintu terbuka perlahan.
Ini bukan tempat tinggal yang pernah Sheila datangi sebelumnya sebagai sopir pengganti.
Sheila melihat Johan menyuruh pelayan membawakan koperku sambil berkata, "Taruh di Paviliun Tirta."
Saat tersadar, Sheila melihat Sandy sudah berjalan jauh.
Sheila baru merasakan tidak enaknya punya suami berkaki panjang. Sheila menjadi kesulitan mengejarnya.
Padahal Sheila tidak pendek, hanya saja kakinya tidak sepanjang Sandy.
Ini merupakan perumahan bergaya kuno dengan pemandangan taman. Sheila melihat berbagai macam pemandangan. Ada bebatuan dan pepohonan, paviliun dengan kolam air mancur. Ikan-ikan di dalam kolam memiliki warna merah dan putih, cantik sekali.
Sheila tidak bisa menikmati pemandangan indah ini. Kalau dia menikmati pemandangan, takutnya dia kehilangan jejak Sandy.
Melihat Sandy berjalan cepat ke Paviliun Harmoni, Sheila langsung mengikutinya.
Di dalam ruang tamu berdekorasi elegan, ada seorang pria tua duduk sendirian di sana.
"Kakek." Sandy memanggil pria tua itu dengan lembut.
Sheila berdiri di belakang Sandy. Sheila tidak tahu harus berbuat apa, jadi dia tetap diam.
"Hm!" Pria tua yang bernama Tony Ferianto itu menjawab dengan nada dingin. Tanpa melirik ke arah Sandy, Tony berkata, "Kukira kamu bakal tinggal di kantor selama berminggu-minggu."
Sandy duduk di sofa.
Karena Sandy sudah duduk, tidak ada penghalang lagi yang menutupi keberadaan Sheila dan terlihat oleh Tony.
Sheila menjadi kebingungan. Dia meremas celana dengan kepala tertunduk. Meskipun suasana di ruangan tenang, Sheila merasa gugup.
"Siapa gadis ini?" Tony menyadari Sheila gugup, akhirnya dia berkata dengan penuh perhatian, "Nona, duduklah. Jangan berdiri terus."
Sheila memiliki rambut pendek, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek, usianya juga terlihat masih muda.
Sheila mengatupkan bibirnya sambil melirik ke arah Sandy.
Sandy fokus minum teh, sama sekali tidak memedulikan lirikan Sheila.
Tony melihat rasa takut dari sorot mata Sheila.
"Kakek yang punya kuasa di sini." Sambil menunjuk ke arah Sandy di sofa seberang, Tony berkata, "Nona, jangan takut, ya."
Barulah Sheila berani maju dan duduk di sofa. Sheila memberanikan diri menyapa, "Halo, Kakek Tony."
"Anak berengsek, jelaskan!" Suara Tony menjadi galak, berbeda jauh saat berbicara dengan Sheila.
"Dia adalah istriku, sekarang dia sedang hamil," jawab Sandy dengan santai.
Mendengar itu, mata Tony terbelalak. Tony melirik ke Sheila, kemudian menendang kaki Sandy.
"Dia belum dewasa. Apa-apaan kamu ini!"